Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan logam PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mencatatkan pertumbuhan cadangan atau ore reserves secara masif di seluruh lini komoditas utamanya sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data perseroan hingga 31 Desember 2025, cadangan emas MDKA melonjak 81% secara tahunan menjadi 15,9 juta ounce. Pertumbuhan juga diikuti oleh cadangan tembaga yang meningkat 60% menjadi 3,0 juta ton, nikel naik 48% menjadi 4,4 juta ton, serta perak tumbuh 21% menjadi 69,8 juta ounce.
Presiden Direktur Merdeka, Albert Saputro, menjelaskan pencapaian ini merupakan hasil dari optimalisasi rencana tambang, pembaruan model geologi, serta keberhasilan program eksplorasi di berbagai aset kunci perseroan.
“Peningkatan signifikan pada cadangan tahun 2025 mencerminkan keberhasilan strategi eksplorasi dan pengembangan kami, serta kualitas portofolio aset yang kami miliki,” ujar Albert dalam keterangan resminya, Senin (6/4/2026).
Lonjakan cadangan emas perseroan terutama didorong oleh Proyek Emas Pani yang mencatatkan kenaikan cadangan hingga 166%, dari 2,0 juta ounce menjadi 5,2 juta ounce. Selain itu, Proyek Tembaga Tujuh Bukit memberikan kontribusi besar terhadap penebalan cadangan tembaga dan emas grup.
Secara operasional, pembaruan data cadangan ini memberikan kepastian umur tambang atau mine life yang lebih panjang serta meningkatkan profil investasi perseroan di mata investor global. MDKA kini juga disebut berada pada posisi solid untuk menangkap peluang dari dinamika harga komoditas logam dunia.
“Ke depan, kami memiliki visibilitas yang semakin kuat terhadap pertumbuhan produksi dan arus kas, serta akan terus fokus pada konversi sumber daya menjadi cadangan dan pengembangan proyek-proyek utama,” kata Albert.
Sementara itu, sejalan dengan induk usahanya, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turut melaporkan penguatan cadangan nikel sebesar 48% menjadi 4,4 juta ton di Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).
Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menyebutkan bahwa basis cadangan yang lebih kuat ini menjamin kepastian pasokan bijih nikel untuk fasilitas pengolahan hilir, termasuk smelter RKEF dan proyek HPAL milik perseroan.
“Kami berada pada posisi yang lebih kuat untuk menjaga keberlanjutan operasi dan menciptakan nilai jangka panjang,” kata Teddy dalam keterangan resmi.
Untuk 2026, MBMA mematok target produksi bijih saprolit sebesar 8,0 hingga 10,0 juta wet metric tonnes (wmt) dan bijih limonit antara 20,0 hingga 25,0 juta wmt. Perseroan juga menargetkan swasembada bijih saprolit sepenuhnya untuk pabrik peleburan RKEF pada tahun ini guna meningkatkan efisiensi operasional.
_______
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.