Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat telekomunikasi menilai operator seluler yang telah gencar membangun jaringan 5G masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya keterbatasan spektrum frekuensi khususnya di pita 700 MHz dan 2,6 GHz.
Pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala mengatakan operator seluler atau pemilik BTS 5G saat ini berharap regulator tidak kembali membebani pelaku usaha terkait biaya frekuensi.
Menurut dia, regulator perlu memberikan perlindungan terhadap keberlangsungan bisnis dengan mereduksi regulasi yang dinilai tidak lagi relevan.
“Atau aturan yang tidak perlu lagi sehingga ada efisiensi dari segi aturan yg telah banyak membebani pelaku bisnis BTS dan juga Jartup [jaringan tetap tertutup],” kata Kamilov kepada Bisnis pada Selasa (17/2/2026).
Kamilov menambahkan ekosistem 5G belum dapat bergerak maju dan masif apabila lelang frekuensi 700 MHz belum dijalankan. Selain itu, nilai lelang frekuensi tersebut juga menjadi perhitungan serius bagi operator.
Dia menilai regulator perlu menjaga keberlanjutan ekosistem 5G sebagai momentum untuk menstimulasi industri telekomunikasi digital dengan mempertimbangkan beban industri, memberikan insentif yang nyata, serta menjaga kesehatan industri agar tetap kuat.
Berdasarkan laporan Info Memo yang dikutip Selasa (17/2/2026), PT Indosat Tbk. (ISAT) mengoperasikan 6.872 unit Base Transceiver Station (BTS) 5G sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang hanya tercatat 107 unit BTS 5G. Selain penguatan 5G, perusahaan juga menambah sekitar 18.000 BTS 4G sepanjang tahun lalu.
Manajemen Indosat menyatakan perluasan infrastruktur dilakukan untuk mengakomodasi pertumbuhan trafik data dan memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.
“Perusahaan memperluas infrastruktur jaringan dengan meningkatkan jumlah BTS 4G menjadi 214.000,” tulis manajemen Indosat. Secara rinci, total BTS 4G yang dioperasikan perusahaan mencapai 213.898 unit pada 2025, tumbuh 8,9% dibandingkan 196.348 unit pada 2024.
Sementara itu, Telkomsel mencatat lonjakan BTS 5G dari sekitar 975 unit pada akhir 2024 menjadi sekitar 5.300 unit pada akhir 2025. Sepanjang 2025, strategi penggelaran 5G perusahaan bergeser dari pendekatan spot-per-titik menjadi continuous coverage melalui kampanye “Hyper 5G”.
Direktur Network Telkomsel Indra Mardiatna mengatakan pembangunan jaringan teknologi baru tersebut akan dilanjutkan pada tahun depan. Perusahaan berkomitmen tetap agresif mengembangkan 5G, meski belum dapat mengungkap jumlah BTS 5G yang akan dibangun pada 2026.
“Kita komitmen akan terus dilakukan ke depan. Tetapi lagi kita melihat perkembangan perangkat. Karena sayang spektrum terbatas,” kata Indra kepada Bisnis.
Adapun PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) mengklaim telah menghadirkan jaringan 5G secara blanket coverage di 33 kota. Tahun ini, perusahaan menargetkan perluasan hingga 88 kota melalui layanan XL Ultra 5G+.
Presiden Direktur & CEO XLSMART Rajeev Sethi mengatakan melalui XL Ultra 5G+, perusahaan menghadirkan kecepatan internet 5G yang lebih optimal guna meningkatkan pengalaman pelanggan.
“Saya ingin tekankan lagi. 5G hadir di 88 kota bukanlah 5G yang terbatas. Di 88 kota itu, 5G akan hadir secara blanket atau menyelimuti, bukan seperti di banyak negara lain di mana hanya sebagian situs saja yang dapat 5G,” kata Rajev.