Bisnis.com, MAKASSAR - Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan performa ekspor Sulawesi Selatan (Sulsel) terus mengalami tren penurunan hingga saat ini.
Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Sulsel pada kuartal I/2026 tercatat sebesar US$323,8 juta, anjlok 13,26% jika dibandingkan nilai kuartal I/2025 yang sebesar US$373,29 juta.
Angka tersebut melanjutkan tren kontraksi pada tahun lalu, di mana ekspor Sulsel kuartal pertama 2025 juga mengalami penurunan tajam hingga 25,21% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Ketua GPEI Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Arief R. Pabettingi mengungkapkan bahwa penurunan performa tersebut diakibatkan sejumlah dinamika multidimensi yang menekan angka ekspor, mulai dari tensi geopolitik global hingga pergeseran peta logistik industri internasional.
Dia mengidentifikasi sedikitnya ada 3 faktor utama yang menjadi jangkar penghambat laju ekspor Sulsel di pasar global.
Pertama, situasi geopolitik yang tidak menentu menjadi hulu dari terganggunya rantai pasok. Konflik terbuka di Timur Tengah, ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang belum menemui titik temu, hingga eskalasi senyap di beberapa negara Afrika Utara dan Eropa, secara langsung memicu ketidakpastian pasar global.
Kedua, faktor alam turut memegang peranan vital. Berdasarkan riset Badan Meteorologi Dunia, mencairnya es di Antartika telah memicu perubahan iklim ekstrem global yang tak terprediksi.
Anomali cuaca ini mengganggu siklus produksi komoditas agraria. Pola musim yang acak menyulitkan proyeksi hasil panen sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi komoditas andalan Sulsel.
Ketiga, kondisi pasca Pandemi Covid-19, telah terjadi pergeseran peta industri besar dari negara Barat ke kawasan Asia, khususnya China dan Vietnam.
Banyak korporasi multinasional memindahkan pabrik mereka mendekati sumber bahan baku demi memangkas biaya logistik dan energi (BBM).
"Negara-negara industri sekarang mengubah peta cabangnya hingga 180 derajat demi efisiensi waktu, biaya, dan logistik. Perubahan rute industri ini otomatis mengubah volume dan pola permintaan komoditas ekspor dari Indonesia," ujar Arief kepada Bisnis, Rabu (6/5/2026).
Menyikapi tren penurunan ini, GPEI Sulselbar mendesak pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk tidak lagi bertumpu pada pasar tradisional seperti penjualan ke Amerika Serikat maupun China. Pemetaan potensi kerja sama baru dari sekitar 250 negara di dunia harus segera dilakukan.
Beberapa saran strategi yang bisa dijalankan oleh pemerintah, antara lain ekspor harus melihat jumlah penduduk dan tingkat konsumsi negara tujuan, memetakan rute pengiriman yang paling efisien agar harga komoditas tetap kompetitif, serta menghindari mengekspor hasil alam ke negara yang memiliki iklim dan karakteristik agraris yang sama dengan Indonesia.
"Komoditas Sulsel harus diarahkan ke wilayah yang mengalami keterbatasan produksi lokal, seperti Eropa Barat, Afrika, dan Asia Timur," papar Arief.
GPEI juga menyoroti pentingnya diversifikasi pasar pada komoditas spesifik seperti karet, yang seharusnya lebih agresif membidik pasar Asia Selatan seperti Bangladesh dan India ketimbang Eropa.
Untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah diminta memperkuat lobi ekonomi melalui optimalisasi peran Duta Besar serta jaringan diaspora Indonesia di luar negeri sebagai garda terdepan pemasaran.
"Kita harus memperkuat inovasi produk dan lobi perdagangan. Orang-orang Indonesia di negara tujuan harus dioptimalkan menjadi 'tour guide' komoditas kita. Mereka jauh lebih memahami keunggulan cengkeh, merica, maupun hasil laut Sulsel untuk dipromosikan secara lugas di pasar internasional," pungkasnya.