Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan pola makan dan tidur selama puasa Ramadan membuat awal puasa menjadi fase adaptasi kesehatan paling rentan. Data Indonesia Health Insights Report Q1 2026 yang dirilis Halodoc menunjukkan lonjakan keluhan kesehatan paling signifikan terjadi pada minggu pertama Ramadan, terutama gangguan pencernaan seperti maag dan GERD.
Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria mengatakan Ramadan merupakan periode perubahan gaya hidup paling besar bagi masyarakat Indonesia.
“Pola makan, tidur, dan aktivitas harian berubah secara bersamaan. Tanpa persiapan yang cukup, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme baru tersebut,” ujarnya.
Laporan tersebut mencatat, pada minggu pertama puasa, konsultasi terkait gangguan pencernaan meningkat sekitar 21 persen dibandingkan rata-rata sebelum Ramadan.
Lonjakan tertinggi terjadi pada dini hari, pukul 00.00–05.59 WIB, bertepatan dengan waktu sahur, dengan peningkatan hingga sekitar 150 persen. Puncak keluhan ini konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan dalam dua tahun terakhir.
Untuk membantu masyarakat memperolah informasi kesehatan, terutama pada waktu tengah malam atau menjelang sahur, Halodoc AI menghadirkan HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant).
“Teknologi ini bukan untuk menggantikan peran dokter tetapi untuk mendampingi saat momen-momen tersebut, memberikan arahan awal yang dapat membantu pengguna mengambil bantuan medis yang tepat,” jelasnya.
Sementara itu, Board of Medical Excellence Halodoc dr. Irwan Heriyanto, MARS menjelaskan bahwa lonjakan keluhan kesehatan selama bulan Ramadan ini merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan pola makan dan tidur.
“Produksi asam lambung tetap berlangsung meski jam makan berubah. Di saat yang sama, kurang tidur dan hidrasi yang belum optimal dapat memperberat fase adaptasi di awal puasa,” jelasnya.
Selain gangguan pencernaan, sejumlah keluhan lain seperti pusing, vertigo, dan radang tenggorokan juga kerap muncul di periode yang sama. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi dehidrasi ringan, kualitas tidur yang menurun, serta pilihan makanan yang kurang tepat saat sahur dan berbuka.
Untuk menekan risiko tersebut, dr. Irwan menekankan pentingnya persiapan kesehatan sejak sebelum Ramadan. Dia menyarankan peningkatan asupan serat dan cairan secara bertahap sebelum puasa dimulai agar tubuh tidak mengalami perubahan ekstrem saat hari pertama.
Selama Ramadan, pola makan saat sahur dan berbuka perlu dijaga secara teratur dan bertahap. “Berbuka sebaiknya diawali dengan air putih, lalu makanan seimbang yang mengandung protein, karbohidrat kompleks, dan serat. Konsumsi makanan berlemak, pedas, dan berkafein perlu dibatasi karena dapat memicu iritasi lambung,” ujarnya.
Asupan cairan juga dinilai krusial untuk mencegah dehidrasi dan gangguan pencernaan. Pola minum bertahap antara berbuka hingga sahur, misalnya dengan pola minum 2-4-2 untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan gangguan pencernaan.
Sementara itu, menjaga kualitas tidur, bangun sahur secara perlahan, serta memilih minuman hangat dapat membantu mengurangi risiko vertigo dan iritasi tenggorokan di awal puasa.