Bisnis.com, JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk lebih waspada terhadap gangguan tidur (sleep disorder) pada anak yang dapat berdampak pada kondisi kesehatan.
Gangguan ini sering kali tidak disadari sejak awal, namun bisa berujung pada kejadian serius jika tidak dipantau dengan baik.
Dokter dari Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Jaya, Dr Tuti Rahayu, menjelaskan bahwa tidak semua anak mengalami gangguan tidur, tetapi ada kondisi tertentu yang perlu diwaspadai. Dia menilai kurangnya pengawasan dan pemahaman orang tua dapat membuat gangguan ini luput hingga terjadi kejadian yang membahayakan.
“Gangguan sleep disorder pada anak tidak selalu terlihat, kadang baru diketahui setelah terjadi kejadian, sehingga orang tua harus benar-benar memperhatikan pola tidur anak,” ujarnya saat ditemui di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Dia menambahkan bahwa posisi tidur juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan, terutama pada bayi dan anak kecil yang belum mampu mengontrol gerakan tubuhnya. Kondisi seperti tidur tengkurap tanpa pengawasan dapat berisiko mengganggu pernapasan anak.
“Kalau perkembangan anak belum baik dan belum bisa mengangkat kepala, posisi tidur seperti tengkurap tanpa pengawasan bisa membuat anak kesulitan bernapas,” tambahnya.
Menurutnya, orang tua perlu memahami pola tidur anak serta menghindari faktor risiko yang dapat memicu gangguan tersebut. Pengawasan saat anak tidur, terutama saat bersama orang dewasa atau dalam posisi tertentu, menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Mengutip dari laman resmi Kemenkes RI, tidur merupakan proses biologis kompleks yang melibatkan sistem saraf, termasuk peran Ascending Reticular Activating System (ARAS) dalam mengatur kondisi bangun dan tidur. Berbagai faktor internal dan eksternal dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang, termasuk pada anak.
Gangguan tidur terjadi ketika kualitas dan kuantitas tidur tidak terpenuhi dengan baik. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis, mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan konsentrasi.
Gangguan tidur pada anak dan orang dewasa memiliki beberapa jenis dengan gejala yang berbeda. Mengutip dari laman resmi Kemenkes RI, berikut beberapa gangguan yang paling umum:
- Insomnia
Kondisi sulit tidur atau tidak bisa mempertahankan tidur dengan baik sehingga tubuh tidak merasa cukup istirahat. Gejalanya meliputi wajah pucat, tubuh lemas, sulit konsentrasi, hingga penurunan daya tahan tubuh.
- Hipersomnia
Gangguan tidur berlebihan yang membuat seseorang terus mengantuk di siang hari. Pada kondisi tertentu, bisa disertai gejala seperti depresi, halusinasi, hingga tidak mampu bergerak saat bangun.
- Parasomnia
Gangguan tidur yang muncul dalam bentuk perilaku tidak normal saat tidur seperti berjalan atau berbicara. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari dan biasanya tidak diingat oleh penderitanya.
Cara Mengatasi Gangguan Tidur Ringan
Untuk gangguan tidur ringan seperti insomnia, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Upaya ini bertujuan memperbaiki kualitas tidur tanpa harus langsung menggunakan obat-obatan.
Berikut langkah-langkah mengatasi gangguan tidur ringan:
- Relaksasi
Lakukan aktivitas menenangkan seperti yoga, mandi air hangat, atau mendengarkan musik. Kegiatan ini membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.
- Mengatur Jadwal Tidur
Tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari membantu tubuh membentuk pola yang teratur. Pola yang konsisten dapat mengurangi risiko insomnia.
- Mengatur Suasana Kamar
Pastikan kamar nyaman, tenang, dan tidak terlalu terang. Lingkungan tidur yang baik sangat memengaruhi kualitas istirahat.
- Konsumsi Makanan Sehat
Hindari kafein sebelum tidur karena dapat mengganggu rasa kantuk. Pilih makanan ringan yang tidak membebani sistem pencernaan.
- Berolahraga
Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Namun, hindari olahraga berat menjelang waktu tidur.
- Hindari Alkohol dan Rokok
Kedua hal ini dapat mengganggu siklus tidur alami tubuh. Dampaknya bisa membuat tidur menjadi tidak nyenyak.
- Pijat atau Terapi Relaksasi
Pijat dapat membantu mengurangi stres, nyeri, dan kecemasan. Terapi ini juga terbukti membantu meningkatkan kualitas tidur.