Bisnis.com, JAKARTA — Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengumumkan rencana untuk memberlakukan pajak pada penerbangan komersial dan jet pribadi sebagai upaya untuk menangkal dampak polusi sektor aviasi. Biaya perjalanan bisnis diperkirakan bakal meningkat jika pajak ini diterapkan.
“Kami bekerja sama dengan negara lain untuk memberlakukan pajak pada penerbangan kelas premium dan jet pribadi. Akan lebih adil jika mereka yang menghasilkan polusi lebih banyak bertanggung jawab atas aksinya,” kata Sánchez kepada para delegasi yang hadir dalam COP30 Leaders Summit pada Jumat (7/11/2025), dikutip dari Bloomberg.
Pernyataan Sánchez itu menandai langkah awal menuju deklarasi bersama sejumlah negara di COP30. Pernyataan ini melanjutkan inisiatif bersama antara Prancis dan Kenya untuk meningkatkan pungutan pada perjalanan udara berbiaya paling mahal. Sebagian dari dana yang terkumpul dari pungutan rencananya dialokasikan untuk membantu negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Usulan pajak tersebut masih berada pada tahap awal, dan belum jelas apakah akan mendapat dukungan politik yang cukup luas untuk diterapkan.
Meskipun Prancis, Kenya, dan Spanyol menjadi motor utama, masih dibutuhkan partisipasi lebih banyak negara, ujar seorang pejabat pemerintah Spanyol yang enggan disebutkan namanya karena tidak berwenang memberikan pernyataan publik.
Sejumlah negara penghasil emisi terbesar di dunia, serta negara-negara kepulauan yang paling merasakan dampak dari perubahan iklim, juga berpartisipasi dalam forum hari kedua tersebut.
Salah satunya adalah Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang untuk pertama kalinya hadir dalam konferensi iklim internasional sejak terpilih pada Mei lalu. Jerman merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di Uni Eropa, namun Merz menegaskan bahwa kekuatan industri negaranya justru merupakan aset untuk menghadapi krisis iklim.
“Bagi Jerman, keputusan di persimpangan ini jelas: kami berfokus pada inovasi dan keterbukaan teknologi untuk menghentikan perubahan iklim. Perekonomian kami bukanlah masalah, melainkan kunci untuk melindungi iklim dengan lebih baik,” kata Merz.
“Kami mengandalkan inovasi dan keterbukaan teknologi untuk menggabungkan daya saing ekonomi dengan perlindungan iklim serta keseimbangan sosial,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kepulauan Marshall Kalani Kaneko mengemukakan bahwa masa depan negaranya bergantung pada komitmen semua pihak dalam berbuat lebih banyak dan lebih cepat di isu iklim. Ia menambahkan bahwa terlepas dari apakah para pemimpin negara penghasil emisi terbesar hadir langsung di COP30 atau tidak, mereka harus hadir di atas kertas dengan ambisi yang lebih tinggi, serta komitmen pendanaan yang lebih besar.