Bisnis.com, JAKARTA — Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada Selasa 17 Februari ini menandai dimulainya tahun baru berdasarkan kalender lunisolar Tionghoa dan menjadi momen penting untuk berkumpul bersama keluarga, menghormati leluhur, serta memanjatkan harapan akan keberuntungan di tahun yang baru.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, awal tahun dipercaya sangat menentukan nasib sepanjang tahun. Karena itu, ada sejumlah pantangan yang diyakini dapat membawa kesialan jika dilanggar.
Berikut 10 larangan yang masih dipercaya membawa kesialan hingga kini.
1. Menghindari Minum atau Meracik Obat di Hari Pertama
Melansir dari China Highlight, Sabtu (14/2/2026) pada hari pertama Imlek, sebagian orang menghindari minum obat atau meracik obat herbal. Hal ini diyakini bisa membuat seseorang sakit sepanjang tahun. Di beberapa daerah, orang yang sebelumnya sakit bahkan memecahkan wadah obat sebagai simbol membuang penyakit lama dan menyambut kesehatan baru.
2. Tidak Memberi Angpau dalam Jumlah Ganjil
Angpau identik dengan angka genap karena dipercaya membawa keberuntungan berlipat. Angka ganjil sebaiknya dihindari.
Selain itu, angka 4 juga tidak disukai karena pengucapannya dalam bahasa Mandarin mirip dengan kata “mati”. Keyakinan ini membuat masyarakat lebih memilih angka seperti 8 yang dianggap membawa hoki.
3. Tidak Memecahkan Barang Pecah Belah
Memecahkan piring, gelas, cermin, atau porselen saat Imlek dianggap melambangkan keretakan hubungan dan kerugian finansial. Dalam bahasa Mandarin, pecah disebut 碎 (suì) yang bunyinya mirip dengan 岁 (suì) yang berarti “tahun”.
Jika tidak sengaja terjadi, biasanya orang akan mengucapkan kalimat 歲歲平安 (suì suì píng ān), yang berarti “damai dan selamat sepanjang tahun”. Ucapan ini dipercaya dapat menetralkan pertanda buruk tersebut.
4. Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tidak Berkunjung di Hari Pertama
Secara tradisional, anak perempuan yang sudah menikah tidak dianjurkan pulang ke rumah orang tua pada hari pertama Imlek. Hal ini dipercaya dapat membawa kesulitan ekonomi bagi keluarga orang tua. Biasanya, kunjungan dilakukan pada hari kedua perayaan.
5. Tidak Mengenakan Pakaian Hitam atau Putih
Warna merah menjadi warna utama saat Imlek karena melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sebaliknya, warna putih dan hitam secara tradisional dikaitkan dengan suasana duka atau berkabung, sehingga dihindari pada hari perayaan.
6. Tidak Menyapu atau Membuang Sampah
Dikutip dari Macao News, menyapu dan membuang sampah saat Imlek dianggap sebagai simbol membuang rezeki. Bahkan dalam budaya Tionghoa, istilah untuk pembawa sial adalah 掃把星 (sào bǎ xīng) yang secara harfiah berarti “bintang sapu” atau “bintang pembawa sial”.
Jika harus membersihkan rumah, disarankan menyapu ke arah dalam agar keberuntungan tetap berada di rumah. Sampah biasanya ditahan dan baru dibuang setelah hari kelima perayaan.
Tradisi membersihkan rumah sebaiknya dilakukan sebelum Imlek, tepatnya saat 掃塵日 (sǎo chén rì) atau hari bersih-bersih yang jatuh pada hari ke-24 bulan ke-12 kalender lunar.
7. Tidak Potong Rambut
Dalam bahasa Mandarin, kata rambut 髮 (fà) memiliki bunyi yang sama dengan 發 (fā) yang berarti “kemakmuran” atau “rezeki”. Karena itu, memotong rambut saat Imlek dipercaya sama dengan memotong keberuntungan.
Ada pula kepercayaan populer di Tiongkok Utara yang berbunyi 正月剃頭死舅舅 (zhēng yuè tì tóu sǐ jiù jiu), yang berarti “memotong rambut di bulan pertama bisa membawa kesialan bagi paman dari pihak ibu”. Meski bersifat mitos, kepercayaan ini masih dikenal luas.
8. Tidak Membunuh Hewan
Darah dianggap sebagai simbol kesialan saat perayaan. Karena itu, pembunuhan hewan pada hari-hari awal Imlek biasanya dihindari. Tradisi ini juga berkaitan dengan legenda Dewi Nuwa yang menciptakan makhluk hidup selama tujuh hari berturut-turut, sehingga setiap hari memiliki makna simbolis tersendiri.
9. Tidak Tidur Terlalu Awal di Malam Tahun Baru
Salah satu tradisi penting adalah 守歲 (Shǒu Suì), yakni begadang bersama keluarga hingga lewat tengah malam untuk menyambut tahun baru. Tradisi ini berakar dari legenda tentang makhluk mitologis bernama 祟 (Suì). Dengan tetap terjaga dan menyalakan lampu atau lentera, keluarga dipercaya dapat melindungi anak-anak dari gangguan roh jahat.
10. Tidak Keluar Rumah pada Hari Keempat
Hari keempat Imlek secara tradisional dianggap sebagai waktu menyambut Dewa Dapur 灶神 (Zào Shén) yang kembali dari surga setelah melaporkan perilaku keluarga kepada para dewa. Pada hari ini, keluarga biasanya menyiapkan meja persembahan dan dianjurkan tidak bertengkar, terutama di dapur, agar tidak mengganggu kedatangan sang dewa.
Meski tidak semua orang lagi menjalankan seluruh pantangan tersebut, tradisi Imlek tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Tionghoa.