Bisnis.com, JAKARTA — PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) menilai tantangan utama memasarkan produk investasi yang dikaitkan investasi (PAYDI) atau unit-linked terletak pada tingkat literasi masyarakat.
Adapun, hingga September 2025 perusahaan membukukan pendapatan premi dari produk unit-linked sebesar lebih dari Rp3,2 triliun. Sementara itu, total pendapatan premi mencapai lebih dari Rp6,8 triliun.
“Tantangan utama PAYDI atau unit-linked berkaitan dengan tingkat literasi masyarakat yang relatif rendah terhadap karakteristik produk ini. Khususnya terkait manfaat, risiko, serta mekanisme investasi yang menyertainya,” beber Head of Investment AXA Mandiri, Erika Marthalina kepada Bisnis, dikutip Kamis (25/12/2025).
Untuk menghadapi hal tersebut, lanjutnya, perusahaan terus mengupayakan meningkatkan literasi produk unit-linked. Misalnya melalui edukasi dalam bentuk customer gathering bersama nasabah Bank Mandiri di berbagai kota.
“Dalam kegiatan tersebut AXA Mandiri juga berkolaborasi dengan fund manager kelas dunia, asosiasi, dan tokoh publik yang kredibel untuk menyebarkan pemahaman yang benar,” tegas Erika.
Kendati demikian, Erika menyebut AXA Mandiri tetap memandang produk unit-linked memiliki prospek yang positif ke depannya. Terkhusus, bagi masyarakat dengan profil risiko yang lebih agresif dan berorientasi jangka panjang.
Baginya, kinerja unit-linked berbasis saham menunjukkan tanda-tanda positif, meskipun volatilitas pasar tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai.
Dia berujar sejauh ini, perusahaannya melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan yang solid dengan didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat, terutama dari sisi konsumsi, investasi, dan stabilitas politik.
“AXA Mandiri secara konsisten melakukan pemantauan aktif dan penyesuaian strategis portofolio agar selalu berada pada posisi yang menguntungkan,” tandas Erika.
Menilik data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), pendapatan premi produk unit-linked pada September 2025 terkontraksi 12,5% YoY menjadi Rp49,24 triliun dari Rp56,31 triliun.
Secara rinci, kontraksi tersebut sudah terjadi hingga kuartal III setiap tahunnya. Misalnya, pada Januari 2024—September 2024 premi dari produk ini turun 12,5% YoY menjadi Rp56,31 triliun. Kemudian, Januari 2023—September 2023 turun 22% YoY menjadi Rp64,37 triliun.