Bisnis.com, JAKARTA - Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB) mengumumkan dua proyek pertama yang akan dijalankan melalui Full Mutual Reliance Framework, sebuah model pembiayaan bersama (cofinancing) inovatif yang dirancang untuk meningkatkan dampak pembangunan.
Presiden ADB Masato Kanda memaparkan, dua proyek pertama yang masuk dalam kerangka ini adalah program modernisasi sektor kesehatan berskala besar di Fiji serta proyek terintegrasi pembangunan transportasi, perkotaan, dan infrastruktur air di Tonga.
Proyek pertama adalah Pacific Healthy Islands Transformation (PHIT) senilai US$236,5 juta di Fiji yang dipimpin oleh Bank Dunia.
Program tersebut bertujuan menanggulangi penyakit tidak menular, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di negara-negara kepulauan Pasifik. Program tersebut menjadi proyek tunggal terbesar yang pernah dijalankan Bank Dunia di kawasan Pasifik.
Kemudian, proyek kedua yang dipimpin ADB, adalah Tonga Sustainable Economic Corridors and Urban Resilience (SECURE), yang telah disetujui Dewan Direksi ADB pada 20 November 2025. Adapun, total dukungan hibah gabungan dari ADB dan Bank Dunia pada proyek ini diperkirakan mencapai US$120 juta.
Kanda menuturkan, program Full Mutual Reliance Framework diluncurkan untuk menjadikan pembiayaan pembangunan lebih sederhana, lebih cepat, dan lebih efektif.
“Melalui pendekatan ini, kami merespons kebutuhan klien untuk bersama-sama menyelesaikan tantangan kompleks, mulai dari ketahanan terhadap bencana hingga peningkatan konektivitas, sekaligus mendukung visi jangka panjang mereka untuk kemakmuran," jelas Kanda dalam konferensi pers secara daring, Kamis (4/12/2025).
Sementara itu, Presiden Bank Dunia Ajay Banga menegaskan kerangka ini lahir dari permintaan langsung negara mitra. Banga menuturkan, skema terbaru ini muncul untuk mempermudah proses dan mempercepat pelaksanaan program-program
“Ini adalah langkah maju yang penting — bukan hanya bagi institusi kami, tetapi yang jauh lebih penting, bagi negara dan masyarakat yang mengandalkan kami untuk menghasilkan dampak nyata," jelasnya.
Dia melanjutkan, kerangka kerja ini memungkinkan negara penerima pembiayaan bekerja hanya dengan satu lembaga pemberi pinjaman utama, baik ADB maupun Bank Dunia, yang akan memimpin seluruh proses perancangan proyek, persiapan, pengawasan, hingga evaluasi.
Skema tersebut bertujuan menyederhanakan prosedur dan mengurangi tumpang tindih peran antara kedua institusi. Dengan mekanisme tersebut, negara mitra diharapkan memperoleh percepatan implementasi proyek, penurunan biaya transaksi, serta tetap mempertahankan standar kebijakan yang tinggi.
Proyek di Fiji dan Tonga
Adapun, secara terperinci, Kanda memaparkan, proyek di Fiji akan memodernisasi jaringan layanan kesehatan primer serta mendukung pembangunan rumah sakit regional baru berstandar tinggi.
Fasilitas tersebut akan memperluas akses masyarakat Pasifik terhadap layanan pengobatan kanker, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan berbagai penyakit utama lainnya.
Dia menuturkan, Dewan Direktur Bank Dunia telah menyetujui pembiayaan proyek ini. Adapun skema pembiayaan bersama dari ADB akan diajukan kepada dewan direksi pada awal 2026.
Sementara itu, Proyek SECURE yang dijalankan di Tonga encakup peningkatan infrastruktur besar-besaran pada jaringan transportasi dan sistem drainase perkotaan di wilayah Raya Nuku’alofa, termasuk pembangunan jembatan Laguna Fanga’uta sepanjang 720 meter.
Investasi tersebut diharapkan mengurangi kemacetan lalu lintas, meningkatkan akses pasar bagi penduduk pedesaan, serta memperkuat konektivitas ke infrastruktur vital seperti bandara dan pelabuhan. Proyek ini juga akan menyediakan jalur evakuasi yang aman saat terjadi bencana, termasuk tsunami.
Kanda menambahkan, skema pembiayaan bersama dari Bank Dunia untuk proyek SECURE dijadwalkan diajukan kepada Dewan Direksi pada awal 2026.