Bisnis.com, JAKARTA — Istilah trauma bonding kini semakin sering dibahas dalam hubungan berpasangan karena menggambarkan kondisi saat seseorang tetap terikat dengan pasangan yang menyakitinya akibat pola kekerasan yang terjadi berulang, baik secara emosional maupun fisik.
Kondisi ini kerap membuat korban sulit keluar dari hubungan yang tidak sehat. Hal ini terjadi karena adanya siklus kekerasan yang diselingi momen tenang, sehingga menciptakan rasa aman semu yang membuat korban bertahan.
Psikolog klinis, Margaret Duke, menjelaskan bahwa fase tenang dalam hubungan abusif sering kali menjadi alasan seseorang tetap bertahan.
“Siklus ini sering memunculkan perasaan keterikatan, sehingga korban merasa memiliki hubungan emosional dengan pelaku,” ujarnya dikutip dari Cleveland Clinic, Kamis (16/4/2026).
Dia menambahkan, perasaan tersebut seringkali membingungkan karena bercampur antara rasa takut, ketergantungan, dan harapan akan perubahan. Kondisi ini membuat korban sulit membedakan antara kasih sayang yang sehat dan hubungan yang merugikan.
Trauma bonding tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis. Kondisi ini juga dapat muncul dalam relasi lain yang memiliki ketimpangan kekuasaan, seperti hubungan orang tua dan anak, hingga dalam lingkungan sosial tertentu.
Dalam beberapa kasus ekstrim, kondisi ini bahkan berkaitan dengan Stockholm syndrome, dimana korban dapat merasa terikat dengan pelaku. Ikatan tersebut terbentuk seiring waktu akibat tekanan dan ketergantungan emosional yang terus berlangsung.
Sejumlah tanda trauma bonding sering kali muncul tanpa disadari dalam hubungan sehari-hari. Kondisi ini membuat seseorang tetap bertahan meski menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat.
Mengutip dari Psychology Today, berikut tanda yang perlu diwaspadai:
- Menyadari tidak menyukai pasangan, tetapi tetap merasa sulit untuk menjauh
- Hubungan dipenuhi rasa bersalah, tekanan, dan manipulasi emosional
- Tetap bertahan meski perilaku pasangan semakin menyakitkan
- Mengalami siklus hubungan yang tidak stabil, dari dipuji hingga direndahkan
- Selalu merasa cemas dan waspada terhadap reaksi pasangan
Selain itu, trauma bonding membuat korban sering merasakan konflik batin yang kuat. Di satu sisi ingin pergi, namun di sisi lain merasa terikat secara emosional dengan pasangan.
Siklus yang terjadi biasanya diawali dengan fase love bombing, yaitu ketika seseorang mendapat perhatian berlebihan di awal hubungan. Namun, kondisi ini kemudian berubah menjadi fase merendahkan, sebelum akhirnya kembali ke fase perhatian sebagai bentuk manipulasi emosional.
Pola tersebut membuat hubungan terasa seperti naik turun secara ekstrem. Kondisi ini juga dikenal sebagai push and pull, yang membuat korban terus berharap hubungan akan kembali membaik.
Selain itu, korban juga kerap mengalami kondisi hypervigilance atau selalu waspada. Mereka merasa harus berhati-hati dalam bersikap agar tidak memicu konflik dengan pasangan.
Situasi ini membuat korban sulit merasa tenang dalam hubungan. Bahkan, interaksi sederhana dapat memicu kecemasan karena perilaku pasangan yang tidak dapat diprediksi.