Penggunaan QRIS di Ciayumajakuning meningkat pesat, mencapai Rp3,58 triliun pada awal 2026, menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap pembayaran digital. [559] url asal
Bisnis.com, CIREBON — Kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital di wilayah Ciayumajakuning terus menguat.
Hal itu tercermin dari lonjakan transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang mencapai Rp3,58 triliun sepanjang Januari-Februari 2026 dengan volume transaksi sebanyak 41,88 juta kali.
Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Cirebon menunjukkan, penggunaan QRIS semakin meluas di kalangan masyarakat maupun pelaku usaha.
Tidak hanya digunakan untuk transaksi bernilai kecil, QRIS kini mulai dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan transaksi dengan nominal yang lebih besar.
Kepala Perwakilan BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan tren tersebut menjadi indikasi meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital yang dinilai praktis, aman, dan efisien.
"Tren ini menunjukkan penggunaan QRIS semakin luas dan mulai menjadi pilihan utama dalam bertransaksi, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha," ujar Rengganis saat pertemuan dengan Perwakilan Bisnis Indonesia Jawa Barat di Kantor Perwakilan BI Cirebon, Kota Cirebon, Rabu (3/6/2026).
Menurut dia, pertumbuhan transaksi digital yang konsisten mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam melakukan pembayaran.
Digitalisasi transaksi kini tidak lagi menjadi kebutuhan kelompok tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.
Peningkatan penggunaan QRIS tidak hanya terlihat dari sisi jumlah transaksi, tetapi juga dari nilai transaksi yang terus meningkat setiap bulan.
Transaksi Digital Bertumbuh
Kunjungan Bisnis Indonesia ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Rabu (3/6/2026)./Bisnis-Hakim Baihaqi
Berdasarkan catatan BI Cirebon, nominal transaksi yang sebelumnya berada di kisaran Rp515 miliar per bulan terus mengalami kenaikan.
Pada Januari 2026, nilai transaksi QRIS mencapai Rp1,77 triliun dan kembali meningkat menjadi Rp1,80 triliun pada Februari 2026.
Kenaikan tersebut menunjukkan masyarakat semakin percaya menggunakan pembayaran digital untuk berbagai kebutuhan konsumsi, mulai dari transaksi harian hingga pembayaran dengan nominal yang lebih besar.
Rengganis menilai perkembangan itu menjadi sinyal positif bagi penguatan ekosistem ekonomi digital di wilayah Ciayumajakuning yang meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
"Ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. QRIS kini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan harian, tetapi juga untuk transaksi yang lebih luas," katanya.
Secara wilayah, Kota Cirebon masih menjadi kontributor terbesar penggunaan QRIS di kawasan Ciayumajakuning. Pangsa transaksi dari daerah tersebut mencapai 54,14% dari total volume transaksi.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Indramayu dengan kontribusi 18,52%, disusul Kabupaten Majalengka 9,79%, Kabupaten Kuningan 9,44%, dan Kabupaten Cirebon sebesar 7,11%.
Menurut BI, dominasi Kota Cirebon tidak terlepas dari perannya sebagai pusat perdagangan dan jasa di kawasan Ciayumajakuning.
Tingginya aktivitas ekonomi, jumlah pelaku usaha, serta dukungan infrastruktur digital yang relatif lebih siap menjadi faktor pendorong tingginya penggunaan QRIS.
Selain itu, tingkat literasi keuangan masyarakat yang terus meningkat turut mempercepat adopsi pembayaran digital di wilayah tersebut.
"Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional, Kota Cirebon memiliki ekosistem digital yang lebih matang. Hal ini mempercepat penetrasi QRIS dibandingkan daerah lainnya," ujar Rengganis.
Bank Indonesia menilai meningkatnya penggunaan QRIS juga berkontribusi terhadap perluasan inklusi keuangan di daerah.
Melalui sistem pembayaran digital, masyarakat dan pelaku usaha memiliki akses yang lebih mudah terhadap layanan keuangan formal.
Karena itu, BI bersama pemerintah daerah terus mendorong perluasan penggunaan QRIS, terutama di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Berbagai upaya dilakukan melalui edukasi, peningkatan literasi keuangan digital, serta perluasan akseptasi merchant QRIS di seluruh wilayah Ciayumajakuning.
Ke depan, BI Cirebon juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat digitalisasi ekonomi daerah, termasuk mendorong integrasi QRIS pada berbagai layanan publik dan sektor perdagangan.
Transaksi QRIS di Ciayumajakuning mencapai Rp3,58 triliun pada awal 2026, menunjukkan adopsi nontunai yang pesat. Kota Cirebon memimpin dengan 54,14% transaksi. [438] url asal
Bisnis.com, CIREBON — Transaksi pembayaran digital melalui QRIS di wilayah Ciayumajakuning menunjukkan lonjakan signifikan pada awal 2026. Bank Indonesia mencatat, sepanjang Januari hingga Februari 2026, nilai transaksi mencapai Rp3,58 triliun dengan volume sebesar 41,88 juta transaksi.
Sebagai informasi, Ciayumajakuning mencakup wilayah Cirebon, Indramayuu, Majalengka, dan Kuningan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan percepatan adopsi sistem pembayaran nontunai di masyarakat.
"Tren ini menunjukkan bahwa penggunaan QRIS semakin luas dan mulai menjadi pilihan utama dalam bertransaksi, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha," ujar Rengganis, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan catatan, pertumbuhan transaksi tidak hanya terlihat dari sisi volume, tetapi juga nominal yang terus meningkat setiap bulan. Pada awal periode, nominal transaksi berada di kisaran Rp515 miliar per bulan, lalu melonjak hingga Rp1,77 triliun pada Januari dan mencapai Rp1,80 triliun pada Februari 2026.
Kenaikan tersebut turut diikuti fluktuasi pertumbuhan tahunan (year on year/YoY), namun tetap berada dalam tren positif. Hal ini menandakan aktivitas ekonomi digital di wilayah Ciayumajakuning semakin aktif, meskipun dipengaruhi pola musiman konsumsi masyarakat.
Secara spasial, Kota Cirebon menjadi kontributor terbesar dalam penggunaan QRIS di kawasan tersebut. Pangsa transaksi dari kota ini mencapai 54,14% dari total volume transaksi. Angka ini jauh melampaui daerah lain seperti Kabupaten Indramayu sebesar 18,52%, Kabupaten Majalengka 9,79%, Kabupaten Kuningan 9,44%, dan Kabupaten Cirebon 7,11%.
Menurut Rengganis, dominasi Kota Cirebon tidak terlepas dari perannya sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Ciayumajakuning. Tingginya konsentrasi pelaku usaha, infrastruktur digital yang lebih siap, serta tingkat literasi keuangan masyarakat menjadi faktor utama pendorong tingginya adopsi QRIS.
“Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional, Kota Cirebon memiliki ekosistem digital yang lebih matang. Hal ini mempercepat penetrasi QRIS dibandingkan daerah lainnya,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat kesenjangan adopsi antara wilayah perkotaan dan kabupaten. Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus mendorong perluasan penggunaan QRIS, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah yang kontribusinya masih rendah.
Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi, peningkatan literasi keuangan digital, serta perluasan akseptasi merchant QRIS. Dengan langkah tersebut, diharapkan pemerataan transaksi digital dapat tercapai dan mendorong inklusi keuangan di seluruh wilayah Ciayumajakuning.
Selain itu, peningkatan nilai transaksi juga mengindikasikan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi. QRIS tidak lagi hanya digunakan untuk pembayaran bernilai kecil, tetapi mulai dimanfaatkan untuk transaksi dengan nominal lebih besar.
“Ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. QRIS kini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan harian, tetapi juga untuk transaksi yang lebih luas,” ujar Rengganis.
Ke depan, Bank Indonesia Cirebon akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat digitalisasi ekonomi, termasuk mendorong integrasi QRIS di berbagai sektor layanan publik dan perdagangan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56