Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) atau Bank Ina membukukan laba bersih senilai Rp52,98 miliar, tumbuh 268% (year on year/YoY) pada Maret 2026.
Direktur Keuangan Bank Ina Kiung Hui Ngo menuturkan pada kuartal I/2026 kondisi ketidakpastian sangat tinggi, baik dari risiko geopolitik hingga isu domestik yang berdampak bagi pertumbuhan usaha hingga dunia perbankan.
Kendati demikian, hingga Maret 2026, Bank Ina mampu mencatat total aset sebesar Rp31,30 triliun, tumbuh 26,69% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 21,51% YoY menjadi Rp25,04 triliun.
“Jadi dari sisi likuiditas, bank masih sangat baik untuk mengelola pertumbuhan yang ada,” katanya dalam acara Public Expose 2026 PT Bank Ina Perdana Tbk, di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Bank Ina juga mencatatkan perbaikan pada struktur pendanaan dengan rasio CASA yang meningkat tajam ke level 40,07% dari periode tahun sebelumnya, yang sebesar 37,48% (year to date/YtD).
Sementara itu, dari sisi penyaluran kredit, Bank Ina membukukan realisasi sebesar Rp14,8 triliun, tumbuh 10,35% YoY hingga akhir Maret 2026. Lonjakan tertinggi terjadi pada segmen kredit konsumsi yang tumbuh menjadi Rp1,59 triliun, diikuti oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang juga meningkat masing-masing menjadi Rp4,40 triliun dan Rp8,79 triliun.
“Nah kemudian untuk dana-dana yang belum bisa disalurkan ke kredit, Bank optimalkan melalui penempatan di Surat Berharga serta penempatan di Bank Indonesia dan bank lain,” ungkap Kiung Hui Ngo.
Kemudian, ROA dan ROE Bank Ina juga masih tercatat positif dengan masing-masing 0,84% dan 7,16%. Rasio efisiensi tercermin di BOPO turun menjadi 88,46% pada Maret 2026.
Adapun, rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) perseroan berada pada level yang baik yaitu 59,03%. Sementara itu, rasio NPL gross dan NPL net masing-masing sebesar 3,13% dan 1,83%.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Ina, Henry Koenaifi memastikan untuk 2026 perseroan akan terus optimistis menjadi solusi perbankan yang sesuai dengan kebutuhan para nasabah.
“Kami akan fokus menyempurnakan strategi Hybrid Banking karena kami yakin bahwa perpaduan antara layanan digital dan kehadiran kantor fisik yang mudah dijangkau adalah kunci untuk memberikan solusi keuangan yang aman, cepat, dan nyaman bagi seluruh segmen nasabah, mulai dari individu hingga korporasi,” ucapnya.
Dia meneruskan bahwa sejalan dengan transformasi digital, Bank Ina mengembangkan layanan melalui platform digital Binadigital. Inovasi tersebut menghadirkan Tabungan Digital, Pinjaman Digital, serta Investasi Emas Binadigital.
“Untuk memperluas jangkauan layanan, hingga saat ini Bank Ina didukung oleh total 58 jaringan kantor yang tersebar di seluruh Indonesia. Ke depannya, Bank Ina akan terus fokus pada optimalisasi pertumbuhan bisnis yang selektif dan prudent, penguatan efisiensi operasional serta pertumbuhan kredit yang sehat,” pungkasnya.