Bisnis.com, JAKARTA - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) membuka program 2026 dengan menyoroti lanskap sebagai konstruksi kuasa, menantang anggapan lama bahwa cakrawala sekadar batas visual yang netral.
Direktur Museum MACAN, Venus Lau mengatakan program ini merangkai karya modern dan kontemporer untuk membaca ulang hubungan waktu, memori, dan identitas budaya sebagai arena aktif yang membentuk pengetahuan dan praktik sosial.
"Melalui berbagai media dan praktik yang berbeda, setiap presentasi akan mengeksplorasi persimpangan antara skala waktu geologis, historis, dan teknologis," katamya dalam siaran resmi, Jumat (17/4/26).
Sejumlah program akan dihelat pada babak pertama rangkaian pameran 2026, yakni dengan menghadirkan karya dari perupa Riar Rizaldi, Dawn Ng, dan Marcos Kueh, bersama dengan sebuah pameran grup berjudul Menelan Cakrawala.
Pameran utama Menelan Cakrawala (Swallow the Horizon) menelusuri bagaimana lanskap diproduksi melalui berbagai cara pandang, dari era kolonial hingga refleksi kontemporer atas eksploitasi sumber daya dan krisis ekologi.
Pada program ini akan ditampilkan senarai karya dari Raden Saleh hingga I Nyoman Masriadi. Pameran juga bakal memperlihatkan bagaimana representasi visual terikat pada relasi kuasa yang terus berubah seiring zaman.
Perupa asal Singapura Dawn Ng menghadirkan Atlantis II, rangkaian karya berbasis es yang menyoroti kefanaan dan perjalanan waktu. Medium es dipilih sebagai refleksi atas kondisi tropis sekaligus sebagai metafora perubahan dari keberadaan menuju ketiadaan.
Presentasi lain datang dari Marcos Kueh melalui Kenyalang Circus di area Sculpture Garden. Karya tekstilnya mengangkat simbol-simbol sakral Borneo yang direproduksi dengan teknik industri, sekaligus mengkritik komodifikasi warisan budaya dalam lanskap visual kontemporer.
Di dalam galeri, seniman Riar Rizaldi menampilkan Period Piece yang berangkat dari persilangan teknologi, sejarah kolonial, dan industri ekstraktif. Instalasi ini merekonstruksi memori spasial dan budaya sinema era 1990-an, sekaligus menyoroti sejarah yang kerap terabaikan dalam sistem teknologi.
Sementara itu, Ruang Seni Anak menghadirkan Beradu Padu karya Ruth Marbun. Instalasi ini mengajak anak-anak mengeksplorasi hubungan antara manusia dan material melalui pengalaman taktil, sekaligus merespons melimpahnya arus informasi dalam kehidupan sehari-hari.