Bisnis.com, MEDAN – Pengamat sekaligus akademisi dari Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin menyebut Sumut berhasil mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Triwulan I/2026 hingga mampu tumbuh 4,98% (year-on-year/YoY), meski secara kuartal terkoreksi sebesar 0,28% (quarter-to-quarter/Q-to-Q).
Sumut tercatat mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4,67% (YoY) pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Tentu ini capaian yang bagus karena lebih tinggi dari capaian Triwulan I/2025 yang hanya berkisar 4,67% (YoY), meski saya sempat memperkirakan ekonomi Sumut secara kuartal mampu tumbuh 0,17% (Q-to-Q)," kata Gunawan Benjamin, Selasa (5/5/2026).
Gunawan menjelaskan momen libur panjang perayaan hari besar seperti Idulfitri, Nyepi, juga Imlek yang kerap diiringi dengan peningkatan belanja masyarakat berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut berada di zona hijau pada Triwulan I/2026.
Namun, dampak banjir yang terjadi pada November 2025 disebut memukul belanja masyarakat hingga geliat ekonomi di kuartal pertama 2026 lebih rendah dibandingkan dengan Triwulan IV/2025.
Lebih jauh, Gunawan mengkhawatirkan adanya potensi koreksi pertumbuhan ekonomi secara kuartalan di Triwulan II/2026 yang diakibatkan oleh stagnasi kinerja ekspor, meski kinerja industri pengolahan diprediksi akan membaik pada kuartal II seiring peningkatan produktivitas musiman komoditas sawit maupun karet.
Berdasarkan catatan BPS Sumut, pada Triwulan I/2026 kinerja ekspor Sumut tercatat turun dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni menjadi 2,67% (YoY) dari sebelumnya 8,30% (YoY).
Ancaman resesi teknikal disebut Gunawan berpotensi terjadi akibat kontraksi selama 2 kuartal berturut, terutama lantaran tidak adanya penyokong pertumbuhan seperti belanja masyarakat pada momen Idulfitri di kuartal pertama.
Sebagaimana diketahui, motor penggerak utama ekonomi Sumut masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 51,65% terhadap PDRB Sumut triwulan ini.
Selain itu, lanjutnya, gangguan kenaikan laju tekanan inflasi hingga dampak negatif dari perang yang terjadi di Timur Tengah disebutnya punya andil. Hal ini sudah tampak pada pelemahan mata uang Rupiah terhadap dolar AS yang terakhir menyentuh Rp17.410 per dolar AS.
Ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM dan LPG non subsidi, kenaikan harga plastik yang berpotensi menekan output manufaktur di Sumut, hingga kenaikan harga pokok produksi akibat pelemahan rupiah yang seluruhnya berpotensi menekan konsumsi atau menggiring pelemahan kinerja ekonomi Sumut.
"Motor penggerak ekonomi masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Dan upaya untuk menjaga agar Sumut bisa terhindar dari potensi resesi teknikal adalah belanja pemerintah yang harus diperkuat," ujarnya.