Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko penyebaran global Hantavirus masih rendah meskipun muncul klaster kasus yang berkaitan dengan kapal pesiar MV Hondius.
Namun, WHO tetap memperingatkan potensi munculnya kasus baru dari individu yang telah terpapar sebelum tindakan pengendalian diterapkan.
Dalam laporan penilaian cepat yang dirilis Minggu (17/5/2026), WHO menyebut berdasarkan informasi terkini, risiko penularan global secara keseluruhan tetap berada pada level rendah. Kendati demikian, risiko bagi penumpang dan awak kapal yang berada di atas kapal masih dikategorikan moderat.
WHO menjelaskan sebagian individu yang telah terpapar kemungkinan masih berada dalam masa inkubasi sehingga pemantauan lanjutan tetap diperlukan.
“Kasus baru mungkin masih muncul di antara mereka yang terpapar sebelum penerapan tindakan pengendalian,” tulis WHO, dikutip Senin (18/5/2026).
Meski begitu, WHO menilai potensi penularan lanjutan telah menurun signifikan setelah penumpang turun dari kapal dan berbagai langkah pencegahan diterapkan.
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan biasanya terjadi ketika seseorang membersihkan area yang terkontaminasi tikus atau berada di lingkungan dengan populasi rodensia tinggi.
WHO menjelaskan terdapat dua sindrom klinis utama pada manusia, yakni hantavirus pulmonary syndrome (HPS) atau hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS) yang banyak ditemukan di kawasan Amerika, serta haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang lebih dominan di Eropa dan Asia.
Kasus penularan antarmanusia sejauh ini hanya dilaporkan pada HPS yang berkaitan dengan virus Andes di Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chili.
Gejala awal HPS meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, pusing, hingga gangguan gastrointestinal seperti mual dan diare. Dalam kondisi lebih berat, penyakit dapat berkembang cepat menjadi sesak napas dan hipotensi.
WHO mencatat gejala HPS umumnya muncul dalam rentang satu hingga enam minggu setelah paparan virus, meskipun pada beberapa kasus dapat terjadi lebih cepat atau lebih lambat.
Secara global, infeksi hantavirus tergolong jarang. Pada 2025, delapan negara di kawasan Amerika melaporkan 229 kasus HPS dengan 59 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 25,7%.
Di Eropa, tercatat 1.885 kasus HFRS sepanjang 2023. Sementara di Asia Timur, khususnya China dan Korea Selatan, kasus HFRS masih muncul setiap tahun meski trennya cenderung menurun dalam beberapa dekade terakhir.
WHO juga menekankan tingkat kematian HPS dapat mencapai 50%. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk hantavirus. Meski demikian, penanganan suportif secara dini dan akses cepat ke intensive care unit (ICU) dinilai dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien.
Di Indonesia sendiri baru-baru ini Dinas Kesehatan DKI mencatat sudah terdapat tiga kasus terkonfirmasi positif dan enam kasus suspek hantavirus yang masih dalam pemantauan ketat petugas kesehatan.
Adapun, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni mengatakan Indonesia sejauh ini belum menemukan kasus HPS. Menurutnya, kasus hantavirus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe HFRS dengan strain Seoul Virus.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sepanjang 2024 hingga 2026 terdapat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Tren kasus juga menunjukkan peningkatan. Pada 2024 hanya terdapat satu kasus terkonfirmasi, meningkat menjadi 17 kasus pada 2025, dan bertambah lima kasus hingga Mei 2026.