Bisnis.com, JAKARTA - Kabar merebaknya kasus Virus Nipah di India tengah jadi sorotan dunia kesehatan. Tak sedikit publik yang khawatir penyebaran virus ini yang cukup masif bisa berpotensi memicu pandemi baru.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menyatakan bahwa Virus Nipah kecil kemungkinan berkembang menjadi pandemi seperti COVID-19. Meski begitu, virus ini tetap berisiko menimbulkan krisis kesehatan di tingkat regional atau nasional jika deteksi terlambat dan terjadi penularan di rumah sakit.
Dicky menambahkan penyebaran Nipah di suatu wilayah tidak selalu memicu wabah besar. Namun, bahaya sesungguhnya ialah karena penyebaran virus ini sering terjadi secara diam-diam, sehingga banyak kasus infeksi yang tidak terdeteksi.
"Risiko terbesar adalah adanya outbreak kecil, tapi mematikan, bukan ledakan kasus besar," katanya, Rabu, (28/1/2026).
Dicky Budiman menjelaskan penularan Virus Nipah antar manusia sejauh ini tidak terlalu efisien. Namun, jika sampai terkena, dampaknya bisa membahayakan.
Pola penyebaran virus Nipah pun terbilang cukup sulit, tetapi riskan. Virus ini tidak bisa tertular melalui udara. Namun, seseorang sering tertular setelah melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien, sehingga rumah sakit kerap menjadi titik penyebaran awal atau nosokomial.
Dia menyebut hampir semua klaster besar di India dan Bangladesh bermula dari pasien awal yang tidak teridentifikasi, kemudian menulari anggota keluarga dan tenaga kesehatan. Kondisi ini membuat Nipah menjadi ancaman serius terciptanya outbreak kecil, bahkan berpotensi memaksa rumah sakit memberlakukan lockdown.
"Fatalitas tinggi dari Nipah bukan karena ganasnya virus, melainkan karena belum ada alat untuk melawan," imbuhnya.
Dicky Budiman menyebut, tanpa adanya vaksin atau obat antivirus khusus, tingkat kematian akibat Virus Nipah bisa mencapai 40–75%. Virus ini menyerang otak (encefalitis), yang sulit ditangani, dan pasien yang sembuh berisiko mengalami gangguan neurologis jangka panjang atau bahkan relaps encefalitis beberapa bulan hingga tahun kemudian.
Di sisi lain, yang perlu diwaspadai juga karena gejala awal Virus Nipah tidak spesifik, sering menyerupai flu, bahkan bisa mirip tifus atau demam berdarah di Asia. Menurutnya, sistem surveilans saat ini juga kurang sensitif terhadap virus ensefalitis baru, sehingga diagnosis kerap terlambat dan peluang penanganan cepat terlewatkan.
Untuk itu, Dicky menekankan pentingnya peningkatan kesiapan pengendalian infeksi di rumah sakit, penguatan integrasi One Health, serta perluasan literasi dan komunikasi risiko hingga ke tingkat daerah. Hal ini dinilai krusial untuk menekan risiko penyebaran dan dampak serius dari virus tersebut.