Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengajak pengembang perumahan di Jawa Timur (Jatim) supaya terus membantu pemerintah ... [342] url asal
Pengembang di Jawa Timur semangat menyiapkan rumah untuk rakyat...
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengajak pengembang perumahan di Jawa Timur (Jatim) supaya terus membantu pemerintah menyediakan rumah subsidi skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
"Pengembang di Jawa Timur semangat menyiapkan rumah untuk rakyat," kata Maruarar atau Ara, seusai meninjau rumah subsidi di Lawang Park Residence, Kabupaten Malang, Rabu malam.
Ara pun meminta supaya masyarakat di Jatim untuk memanfaatkan fasilitas rumah subsidi FLPP yang telah disediakan oleh pemerintah, agar backlog kepemilikan rumah bisa tertangani.
Apalagi pemerintah telah memastikan bahwa bunga FLPP tetap di angka 5 persen hingga akhir tenor yang bisa diperpanjang hingga 40 tahun. Sedangkan, untuk DP-nya, mulai dari 1 persen dari harga rumah.
"Masih banyak backlog yang belum punya rumah. Saya pikir mohon Pak Wakil Gubernur Jawa Timur bisa mendorong karena demand-nya pasti tinggi," katanya lagi.
Selain itu, dia menyampaikan bahwa untuk mengatasi backlog kepemilikan rumah di wilayah perkotaan, maka pemerintah menghadirkan hunian vertikal bersubsidi dalam bentuk rumah susun.
Sedangkan untuk persoalan rumah tidak layak huni (RTLH) kementeriannya telah menghadirkan solusi berupa program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Ara menilai rumah subsidi dengan skema FLPP di Lawang Park Residence sesungguhnya memiliki kualitas yang baik dari sisi konstruksi, kualitas air, hingga sistem drainase kawasan.
"Di sini (kualitas) airnya bagus, saya sudah mengecek rumahnya dan bagian dalam bagus, tembok tebal, lantainya tidak ada yang retak. Saya mengecek dengan warga juga dan tidak banjir," katanya pula.
Salah seorang warga Lawang Park Residence, Yeni menyampaikan, program FLPP terbilang mampu membantu masyarakat untuk mendapatkan hunian dengan harga terjangkau.
Melalui skema FLPP, dia mampu membeli rumah dengan DP sebesar Rp1,6 juta dari harga hunian senilai Rp166 juta. Sedangkan, masa cicilan selama 20 tahun.
Spesifikasi hunian milik dia, terdiri dari dua kamar tidur, rumah tamu, kamar mandi, dan dapur.
"Setelah melihat, diproses BI checking dan langsung ACC (disetujui) terus tidak sampai dua bulan sudah akad. Setiap bulan membayar (angsuran) Rp1.072.000," ujarnya pula.
IDXChannel - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) bersiap menggelar penawaran perdana alias initial public offering (IPO).
Perseroan menetapkan harga penawaran sebesar Rp442 untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026.
Proses penawaran awal atau book building dilaksanakan pada 23 Juni sampai dengan 24 Juni 2026, dan masa penawaran umum berlangsung pada 1-3 Juli 2026.
Dalam prospektus IPO, Rabu (1/7/2026) BACH bakal melepas 615 juta saham atau 15,06 persen dari total saham ditempatkan dan disetor perseroan. Dengan demikian, perseroan berpotensi meraup dana segar hingga Rp271,8 miliar.
Adapun seluruh dana yang diperoleh dari penawaran umum perdana saham setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham akan digunakan sekitar Rp91 miliar untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk (BNLI) atas fasilitas pinjaman jangka panjang Omnibus Revolving Loan.
Lalu sisanya sekitar Rp213,4 miliar akan digunakan sebagai modal kerja, yakni pembayaran kepada pemasok dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan.
Setelah IPO, kendaraan pendiri BACH, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI), masih akan memegang 52,3 persen saham, sementara PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) memiliki 25,5 persen.
Namun, berdasarkan perjanjian opsi yang tidak dapat dibatalkan antara BMSI dan GTP pada 7 Januari 2026, GTP telah menyampaikan pemberitahuan untuk mengeksekusi opsi tersebut pada 13 Maret 2026.
Melalui transaksi itu, GTP akan mengakuisisi 1 miliar saham milik BMSI sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 51 persen atau sekitar 2,1 miliar saham. Setelah transaksi selesai, kepemilikan BMSI akan turun menjadi 26,8 persen.
Kisah inspiratif Salmi merawat resep ibu lewat Cangcomak, bangkit dari menganggur hingga siap go international didukung Rumah BUMN BRI. - Bagian all [1,155] url asal
JAKARTA, iNews.id - Setiap Lebaran, dapur rumah Salmi selalu lebih sibuk dari biasanya. Sang ibu akan mulai memanggang kacang, lalu melapisinya dengan cokelat hingga menjadi camilan.
Salmi tidak pernah berpikir resep tersebut suatu hari akan mengubah jalan hidupnya. Kacang cokelat itu pun tak lagi sekadar hidangan khas hari raya.
"Jadi setiap tahun cuma (dibuat) sekali, kacang cokelat. Kan autentik bikin sendiri, ya sudah kita bikin aja deh, kenapa gak dijual aja," ujar Salmi kepada iNews.id pada Selasa (23/6/2026).
Setelah kehilangan pekerjaan pada 2018 dan sempat menganggur, Salmi memutuskan menghidupkan resep tersebut. Dari dapur rumahnya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, lahir Cangcomak, singkatan dari Kacang Cokelat Emak pada 2020.
Salmi mengolah resep tersebut dengan menyediakan tiga varian kacang, yakni kacang tanah, almond, dan kacang mede. Harganya dibanderol mulai dari Rp8.000 untuk kemasan ekonomis, hingga Rp30.000 dengan kemasan besar.
Omzet yang diperoleh pun cukup besar. Salmi mampu meraih sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta per tahun.
Salmi mengakui perjalanan Cangcomak tidak berhenti ketika produk berhasil dipasarkan. Tantangan berikutnya justru dimulai setelah usaha berjalan.
Dia harus belajar membuat kemasan yang lebih menarik, menyusun laporan keuangan, memahami pemasaran digital, hingga membangun merek agar produknya bisa bersaing di tengah semakin banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di tengah proses itulah dia mengenal Rumah BUMN BRI. Salmi bergabung pada 2021 dan mulai aktif mengikuti program-program pendampingan yang diselenggarakan.
"Setelah ikut berbagai macam pelatihan kita mulai tahu ada Rumah BUMN BRI. Dari 2021 udah ikut di situ," katanya.
Camilan yang dulu hanya dinikmati Salmi dan keluarganya perlahan menembus pasar yang lebih luas. Berbekal pendampingan Rumah BUMN BRI, Salmi tak lagi sekadar bermimpi menjual produknya di dalam negeri.
Dia mulai menyiapkan langkah agar warisan resep ibunya suatu hari bisa dinikmati konsumen di berbagai negara. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengikuti berbagai pelatihan Rumah BUMN BRI.
Rumah BUMN BRI kemudian menjadi tempat Salmi belajar mengembangkan usaha secara lebih terarah. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah wajah produk Cangcomak.
"Orang lain kemasannya masih pakai stiker, kalau Cangcomak itu udah cakep. Akhirnya dari BRI dikasih fasilitas kemasan gratis, standing pouch," tutur Salmi.
Manfaat terbesar yang dirasakannya dari program-program Rumah BUMN BRI bukan semata pada perubahan kemasan. Melalui berbagai pelatihan yang rutin diadakan Rumah BUMN BRI, dia mulai memahami banyak aspek penting dalam menjalankan usaha, mulai dari pemasaran digital, pengelolaan keuangan, hingga penguatan legalitas produk.
Menurut Salmi, materi yang diberikan selalu mengikuti perkembangan kebutuhan pelaku UMKM. Peserta pun bebas memilih kelas yang paling sesuai dengan tantangan usahanya.
"Kita tinggal pilih saja (pelatihan) apa yang kita butuhin nih, nah kita ikut. Misalkan AI, sekarang lagi rame apa nih, misalnya pelatihan laporan keuangan digital, nah kita ikut," ujarnya.
Kesempatan yang diperoleh semakin luas seiring keaktifannya mengikuti berbagai program. Salmi mengaku rutin menghadiri pelatihan, baik secara daring maupun luring.
Dari situlah dia beberapa kali terpilih memperoleh fasilitas tambahan, termasuk pendampingan sertifikasi halal yang saat itu hanya diberikan kepada UMKM tertentu.
Rumah BUMN BRI juga membuka akses promosi yang lebih luas. Salmi berkesempatan memperkenalkan Cangcomak kepada pasar melalui berbagai pameran dan showcase, seperti Brilianpreneur dan Pesta Rakyat Simpedes. Kesempatan itu membantunya memperluas jaringan sekaligus mengenalkan produk kepada lebih banyak konsumen.
Kini, menurut Salmi, manfaat yang paling terasa setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI adalah semakin dikenalnya Cangcomak di tengah persaingan produk makanan ringan. Berbagai pelatihan yang terus diperbarui juga membuatnya bisa menyesuaikan strategi pemasaran dengan perkembangan teknologi.
"Pasti lebih dikenal, terus pelatihannya gratis. Misal training live TikTok, affiliate juga ada. Jadi sesuai sama yang kita butuhin. Bantu banget sih," katanya.
Bekal yang diperoleh dari Rumah BUMN BRI kini membawa Salmi ke tahap berikutnya. Jika dulu dia hanya memikirkan bagaimana produknya laku dijual, kini dia mulai belajar bagaimana membawa Cangcomak menembus pasar internasional.
Melalui program pendampingan BRI bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Salmi menjadi salah satu pelaku UMKM yang mengikuti sekolah ekspor. Dia mengakui dunia ekspor semula terasa sangat asing.
Salmi bahkan belum memahami bagaimana mekanisme pembayaran, pengiriman barang, hingga penyusunan dokumen yang dibutuhkan.
"Ini lagi disekolahin ekspor sama BRI. Jadi BRI kerja sama dengan Kemendag, itu kayak UMKM terpilih diajak perkenalan ekspor," ujarnya.
Pada tahap awal, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar ekspor. Setelah memahami fondasinya, materi pelatihan berkembang menjadi lebih teknis, mulai dari menghitung biaya logistik, menentukan harga jual, hingga memperkirakan daya tahan produk selama proses pengiriman ke luar negeri.
"Kalau sekarang tuh advance, lebih spesifik. Kayak cara ngitung perhitungannya, instrumen biaya kirim. Kalau dijual berapa. Harus disiapkan. Terus kalau makanan baiknya tahan berapa lama," katanya.
Ilmu yang diperoleh mulai membuka peluang baru. Produk Cangcomak telah diperkenalkan kepada calon pembeli dari Singapura, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, hingga Australia melalui berbagai showcase.
Bahkan, salah satu calon pembeli dari Rusia sudah meminta rincian penawaran harga.
"Rusia sih kemarin, tapi belum follow up lagi. Udah minta penawaran, dia minta dibreakdown soal harga, harga LCL (less container load) berapa, harga FCL (full container load) berapa, (kontainer) 20 feet berapa. Tapi belum (follow up). Mereka di sana emang lagi nyari cashew, pas banget," ujarnya.
Keseriusan Salmi membangun Cangcomak tak hanya terlihat dari kemasan yang semakin profesional atau peluang ekspor yang mulai terbuka. Berbagai pembenahan yang dilakukannya juga berbuah pada kepercayaan pelanggan.
Salah satunya datang dari Tania, warga Kelapa Gading. Dia mengenal Cangcomak melalui media sosial sebelum akhirnya memutuskan membeli produk tersebut.
Menurutnya, Cangcomak menawarkan sensasi yang berbeda dibanding camilan cokelat pada umumnya karena rasa kacangnya tetap menjadi karakter utama.
"Dia kan cokelatnya enggak begitu banyak, tapi masih ngacang aja. Menarik aja sih konsepnya. Cokelatnya enggak tebal ya dan enggak terlalu manis jadi saya suka banget," kata Tania.
Kesan positif itu membuatnya kembali membeli Cangcomak. Bahkan, camilan tersebut kini menjadi salah satu menu pelengkap sarapan yang rutin dia konsumsi.
"Ternyata cocok dimakan buat sarapan. Saya biasanya sarapan pakai yoghurt, dicampur sama yoghurt tuh enak. Terus pernah juga coba dicampur sama susu, enak. Bahkan digado juga enak. Jadi puas sih selama ini, oke banget. Rasanya enak, cokelatnya light, dan sehat juga kayaknya ya karena kacang," ujarnya.
Pengalaman itu pula yang mendorong Tania merekomendasikan Cangcomak kepada orang-orang di sekitarnya. Dia bahkan beberapa kali membawa produk tersebut ke kantor agar rekan-rekannya ikut mencicipi.
"Sudah, aku sudah rekomendasiin, dibawa ke kantor mereka coba katanya enak. Ya sudah aku kasih akun TikTok-nya," katanya.
Perjalanan sukses Cangcomak mencerminkan bagaimana intervensi Rumah BUMN BRI mampu mengubah peta bisnis pelaku usaha mikro. Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan kehadiran Rumah BUMN berperan krusial dalam menjembatani para pelaku usaha untuk naik kelas melalui peningkatan kompetensi, perluasan jaringan, dan pembukaan akses pasar baru.
Langkah ini, lanjut Dhanny, merupakan wujud nyata BRI dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif. Untuk merealisasikannya, BRI kini telah membina 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia dengan total pelaksanaan pelatihan mencapai lebih dari 18.218 sesi guna mengasah daya saing UMKM.
"Pemberdayaan yang terarah dan integrasi teknologi digital menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan. Sangat membanggakan melihat para pengusaha kecil yang dulunya hanya mengandalkan penjualan lokal, sekarang bisa berselancar di pasar online hingga menembus pasar ekspor," ujar Dhanny.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memastikan 11 rusun baru akan dibangun dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Gubernur DKI... | Halaman Lengkap [185] url asal
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan 11 rumah susun ( rusun ) baru akan dibangun. Biaya pembangunan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
"Yang rusun 11 anggarannya dari APBD dan kita segera mulai dua rusun di awal," ucap Pramono saat ditemui di Jakarta Barat, Senin (29/6/2026).
Pembangunan rusun baru itu dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta mengingat adanya kebutuhan dari masyarakat Jakarta. "Jadi itu untuk menambah rusun-rusun baru karena memang kebutuhan itu ada," kata Pramono.
Selain mengandalkan APBD, pihaknya juga akan bekerja sama dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), untuk membangun rusun."Kami juga bekerja sama dengan Kementerian Perumahan di pemerintah pusat untuk di tempat-tempat yang lainnya," ujarnya.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hunian ramah lingkungan terus meningkat seiring meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim dan kebutuhan energi... | Halaman Lengkap [327] url asal
JAKARTA - Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hunian ramah lingkungan terus meningkat seiring meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim dan kebutuhan energi yang lebih bersih. Kondisi ini mendorong pengembang kawasan hunian mulai mengadopsi konsep energi hijau sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan .
Topik tersebut menjadi pembahasan dalam ICONTalks Season 4 Episode 4 bertajuk "Membangun Hunian Masa Depan dengan Energi Hijau" yang menghadirkan Direktur PT Menara Santosa, Herman Santosa.
Dalam diskusi, Herman menjelaskan bahwa pengembangan kawasan hunian saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu menghadirkan lingkungan yang berkelanjutan melalui pemanfaatan energi ramah lingkungan. SmartHome Plus, Solusi Rumah Cerdas Terintegrasi dari PLN Icon Plus
Menurutnya, kebutuhan masyarakat dalam memilih tempat tinggal juga mengalami perubahan. Selain mempertimbangkan lokasi strategis dan fasilitas, calon penghuni kini semakin memperhatikan efisiensi energi, keberlanjutan, serta dukungan terhadap gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu implementasi konsep tersebut adalah penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap sebagai sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kawasan perumahan.
Pemanfaatan PLTS Atap dinilai mampu mendukung efisiensi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil, sehingga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena berada di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun. Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan energi surya di berbagai sektor, termasuk kawasan residensial yang kini mulai mengusung konsep green living.
Dalam implementasinya, PLN Icon Plus bersama Icon Green berkolaborasi menghadirkan solusi PLTS Atap di kawasan hunian sebagai bagian dari upaya mendukung transformasi energi hingga tingkat masyarakat.
Selain menghasilkan energi yang lebih bersih, penerapan teknologi energi hijau juga dinilai mampu meningkatkan nilai kawasan dan memperkuat citra hunian modern yang siap menghadapi kebutuhan masa depan.
Melalui berbagai inovasi digital dan energi hijau, PLN Icon Plus menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi yang mendukung terciptanya kawasan hunian yang lebih cerdas, efisien, serta berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengungkapkan hibah lahan seluas 30 hektar di Meikarta, Kabupaten Bekasi kepada negara ... [312] url asal
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengungkapkan hibah lahan seluas 30 hektar di Meikarta, Kabupaten Bekasi kepada negara merupakan terobosan besar bagi perumahan rakyat.
"Pada hari ini telah dilaksanakan penandatanganan komitmen hibah dari Lippo Cikarang kepada negara. Dan diharapkan ini menjadi terobosan besar," ujar Ara di Jakarta, Senin.
Dirinya mengatakan bahwa perwujudan program 3 juta rumah merupakan kerjasama kolaborasi berbagai pihak yaitu negara, pengembang, masyarakat, dan pelaku usaha.
Dalam kesempatan sama, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen seluruh pihak dalam mendukung salah satu agenda prioritas Asta Cita Presiden, yaitu program pembangunan dan renovasi 3 juta rumah.
Pemerintah, kata Purbaya, menyambut baik inisiatif tersebut. Aset ini direncanakan diserahkan kepada Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai penyertaan modal negara untuk dikelola melalui proses bisnis yang sehat tanpa membebani APBN.
Dirinya menyampaikan bahwa hibah lahan di kawasan Meikarta tersebut untuk mendukung program 3 Juta Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), tidak akan dikenakan pajak.
"Tanah yang diserahkan jangan dipajakin. Masa orang kasih, kita pajakin. Jadi saya akan bypass semua aturan-aturan yang ada di Kementerian Keuangan supaya ini bisa terlaksana," kata Purbaya.
Sebagai informasi, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengungkapkan pembiayaan pembangunan rumah susun atau rusun subsidi di kawasan Meikarta, Kabupaten Bekasi dari Danantara. Pembangunan rusun subsidi tersebut masih sesuai jadwal rencana.
Dia mengatakan proses pembangunan dimulai dari land clearing pada Februari 2026, kemudian groundbreaking pada Maret 2026, dilanjutkan pembangunan struktur ke atas pada Agustus 2026, dan ditargetkan selesai pada Agustus 2028.
Tanah merupakan hibah dari Lippo seluas 30 hektare untuk tiga lokasi pembangunan.Proyek tersebut direncanakan akan menyediakan total sekitar 141.000 hunian dari tiga lokasi lahan yang telah disiapkan.
Menurut Ara, ini merupakan salah satu proyek hunian vertikal terbesar yang diharapkan dapat membantu masyarakat pekerja memiliki rumah layak.
PT Harmoni Harum Propertindo tingkatkan kepemilikan saham REAL jadi 15,82% jelang RUPS, sinyal positif bagi investor terkait prospek bisnis perusahaan. [290] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Harmoni Harum Propertindo tercatat menambah kepemilikan sebanyak 16,5 juta saham REAL jelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Repower Asia Indonesia Tbk.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (29/6/2026), Harmoni Harum melakukan dua transaksi pembelian di pasar reguler pada 24 Juni 2026. Transaksi dilakukan pada kisaran harga Rp50–Rp51 per saham.
Adapun, pembelian tersebut terdiri atas 9.356.500 saham di harga Rp51 per saham dan 7.143.500 saham di harga Rp50 per saham.
Dengan transaksi tersebut, kepemilikan PT Harmoni Harum Propertindo meningkat dari 1.033.160.000 saham (15,57%) menjadi 1.049.660.000 saham (15,82%). Tujuan transaksi disebutkan sebagai investasi dengan status kepemilikan langsung.
Aksi beli yang dilakukan menjelang RUPS dinilai menjadi sinyal positif karena menunjukkan kepercayaan pemegang saham strategis terhadap prospek dan arah pengembangan bisnis Perseroan.
Di tengah dinamika pasar, peningkatan kepemilikan oleh pemegang saham utama kerap menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam menilai keyakinan internal terhadap nilai jangka panjang perusahaan.
Pelaku pasar kini menantikan agenda serta keputusan yang akan dihasilkan dalam RUPS REAL, yang diharapkan dapat memberikan arah strategis bagi pengembangan bisnis Perseroan ke depan.
Manajemen REAL menyebut dengan adanya aksi akumulasi dari pemegang saham strategis menjelang RUPS, saham REAL berpotensi menjadi salah satu emiten yang menjadi perhatian investor dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Direktur sekaligus Corporate Secretary REAL, Sjafardamsah, memborong 2 juta lembar saham melalui pasar reguler. Transaksi tersebut dilakukan menjelang RUPST yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.
Di pasar modal, aksi akumulasi saham oleh direksi lazim dipandang sebagai indikator kepercayaan internal terhadap prospek usaha perusahaan. Sebagai pihak yang terlibat langsung dalam pengelolaan bisnis, manajemen memiliki visibilitas yang lebih dalam terhadap kondisi operasional, strategi ekspansi, hingga agenda korporasi yang sedang dipersiapkan.
Akademisi dari Universitas Mataram (Unram) Ahmad Zaenal Wafik menyatakan laju permintaan rumah subsidi berpotensi meningkat seiring perluasan batas ... [413] url asal
Mataram (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Mataram (Unram) Ahmad Zaenal Wafik menyatakan laju permintaan rumah subsidi berpotensi meningkat seiring perluasan batas penghasilan masyarakat yang berhak mengakses layanan pembiayaan properti pemerintah.
"Masyarakat yang qualified atau memenuhi syarat untuk mendapatkan rumah subsidi jumlahnya bertambah, maka permintaan terhadap rumah subsidi meningkat," ujar dia saat dihubungi di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin.
Wafik menceritakan dahulu masyarakat berpenghasilan Rp7 juta sampai Rp8 juta dianggap terlalu tinggi untuk memperoleh rumah subsidi. Sedangkan, kondisi saat ini dengan nominal penghasilan tersebut belum tentu cukup untuk membeli rumah.
Ia menilai perluasan batas maksimal penghasilan merupakan bentuk penyesuaian pemerintah terhadap perubahan kondisi ekonomi agar kalangan generasi Z, pekerja muda, aparatur sipil negara, guru, tenaga kesehatan, hingga pasang muda bisa memiliki hunian.
"Kebijakan perluasan gaji minimal untuk akses pembiayaan rumah subsidi, ini sebenarnya sifatnya adaptif untuk kalangan menengah," kata Wafik.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya pada 23 Juni 2026, pemerintah resmi menaikkan batas penghasilan masyarakat berpenghasilan rendah hingga maksimal Rp14 juta untuk mengakses rumah subsidi.
Kebijakan itu bertujuan mempercepat program 3 Juta Rumah dan menjaga keterjangkauan masyarakat terhadap hunian layak di tengah tren kenaikan harga properti serta kenaikan biaya hidup.
Wafik mengingatkan pemerintah untuk selalu mengantisipasi potensi lonjakan permintaan dengan meningkatkan pasokan rumah subsidi.
Menurutnya, bila jumlah calon pembeli yang memenuhi syarat bertambah banyak, sedangkan pembangunan rumah tidak bisa melebihi jumlah permintaan, maka hal itu dapat memicu persaingan ketat dalam memperoleh rumah subsidi.
Kelompok masyarakat kelas bawah dengan gaji upah minimum regional yang justru paling membutuhkan hunian akan kalah bersaing dengan kelompok masyarakat kelas menengah yang memperoleh gaji belasan juta setiap bulan..
"Kelompok yang berpenghasilan menengah punya administrasi yang bagus dan memiliki kemampuan administrasi atau finansial yang juga bagus, sehingga secara kualifikasi itu bisa berdampak terhadap kelompok menengah ke bawah," pungkas Wafik.
Pemerintah membagi klasifikasi masyarakat berpenghasilan rendah ke dalam empat zona wilayah dengan batas maksimal penghasilan yang beragam, yaitu Zona I meliputi Jawa (kecuali Jabodetabek), Sumatra, NTB, dan NTT maksimal penghasilan Rp8,5 juta untuk pekerja lajang dan Rp10 juta bagi pekerja yang menikah.
Zona II mencakup wilayah Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, dan Bali dengan maksimal penghasilan Rp9 juta (lajang) dan Rp11 juta (menikah).
Zona III dengan maksimal penghasilan pekerja lajang Rp10,5 juta dan pekerja menikah Rp12 juta yang meliputi seluruh wilayah Papua.
Sedangkan, Zona IV mencakup wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dengan penghasilan maksimal Rp12 juta untuk pekerja lajang dan Rp14 juta untuk pekerja menikah.
PT Bach Multi Global Tbk (BACH) adalah perusahaan penyedia solusi kelistrikan dan infrastruktur telekomunikasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum. [750] url asal
IDXChannel - PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan penyedia solusi kelistrikan dan infrastruktur telekomunikasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum via PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
Perseroan menawarkan hingga 615 juta saham baru atau setara 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO dengan harga penawaran Rp400-Rp500 per saham.
Berdasarkan riset analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Widjaja yang terbit pada 26 Juni 2026, aksi korporasi tersebut berpotensi menghimpun dana segar sebesar Rp246 miliar-Rp308 miliar.
Sekitar 70 persen dana hasil IPO atau sekitar Rp213 miliar akan digunakan untuk memperkuat modal kerja bisnis genset, sementara 30 persen atau sekitar Rp92 miliar dialokasikan untuk pembayaran utang.
Mirae Asset menilai BACH memiliki posisi strategis sebagai penyedia “peralatan pendukung” dalam pembangunan jaringan telekomunikasi Indonesia.
Perusahaan menjalankan tiga lini bisnis utama, yakni penjualan dan penyewaan genset untuk kebutuhan daya cadangan maupun utama di lokasi menara telekomunikasi dan pusat data, pembangunan infrastruktur telekomunikasi, serta layanan operasional dan pemeliharaan (O&M).
Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dan jaringan operasional nasional, BACH dinilai memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital, terutama seiring meningkatnya kebutuhan pasokan listrik mandiri bagi menara telekomunikasi dan pusat data.
IPO BACH akan efektif mulai 29 Juni 2026, dengan masa penawaran awal pada 1-3 Juli 2026 dan pencatatan saham di BEI dijadwalkan pada 7 Juli 2026.
Pada kisaran harga IPO tersebut, valuasi BACH diperkirakan mencapai Rp1,63 triliun-Rp2,04 triliun.
Valuasi itu setara dengan price to earnings ratio (PER) 10,5-13,1 kali laba tahun buku 2025 atau sekitar 8,0-9,6 kali EV/EBITDA.
TOWR Ambil Alih Kendali Lewat GTP
Meskipun BACH baru akan menjadi perusahaan publik, struktur pengendalian perseroan secara praktis telah mengarah ke Grup TOWR.
Setelah IPO, kendaraan pendiri BACH, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI), masih akan memegang 52,3 persen saham, sementara PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) memiliki 25,5 persen.
Namun, berdasarkan perjanjian opsi yang tidak dapat dibatalkan antara BMSI dan GTP pada 7 Januari 2026, GTP telah menyampaikan pemberitahuan untuk mengeksekusi opsi tersebut pada 13 Maret 2026.
Melalui transaksi itu, GTP akan mengakuisisi 1 miliar saham milik BMSI sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 51 persen atau sekitar 2,1 miliar saham.
Setelah transaksi selesai, kepemilikan BMSI akan turun menjadi 26,8 persen.
Nilai akuisisi tersebut diperkirakan berada di kisaran Rp417 miliar-Rp512 miliar, dengan penyelesaian transaksi dilakukan dalam waktu lima hari kerja setelah pencatatan saham BACH.
Mirae Asset menjelaskan transaksi tersebut hanya merupakan perpindahan kepemilikan antar-pemegang saham lama, sehingga jumlah saham beredar BACH tetap sekitar 4,1 miliar saham dan porsi saham publik tidak berubah di level 15,1 persen.
Dengan masuknya GTP sebagai pengendali, BACH akan berada dalam orbit keluarga Hartono yang juga mengendalikan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan Protelindo.
Kinerja Tumbuh Pesat
Mirae Asset memperkirakan konsolidasi BACH ke dalam laporan keuangan TOWR akan memberikan tambahan kontribusi bagi grup.
Berdasarkan proyeksi tahun buku 2025, pendapatan TOWR secara pro forma meningkat 13 persen menjadi Rp15,1 triliun, sementara EBITDA naik 2,3 persen menjadi Rp11,2 triliun.
Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) diperkirakan meningkat 4,2 persen menjadi Rp3,8 triliun.
Total aset bertambah 1,6 persen, ekuitas naik 2 persen, dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sedikit membaik menjadi 3,9 kali dari sebelumnya 4 kali.
Dari sisi operasional, BACH mencatat pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. Pendapatan bersih meningkat dari Rp1 triliun pada 2023 menjadi Rp1,7 triliun pada 2025 atau tumbuh 39,7 persen secara tahunan.
Pada periode yang sama, laba bersih melonjak menjadi Rp156 miliar dari hanya Rp34 miliar.
Profitabilitas perusahaan juga membaik dengan margin EBITDA mencapai 14,5 persen pada 2025, meningkat dari 8,2 persen pada 2023. Margin laba bersih tercatat 9 persen, return on equity (ROE) 29 persen, dan return on invested capital (ROIC) sebesar 20,6 persen.
Pelanggan utama BACH, yakni Protelindo dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), menyumbang sekitar 28 persen pendapatan pada 2025.
Hal ini sejalan dengan strategi TOWR untuk memperluas layanan Power as a Service (PaaS) dan mengurangi ketergantungan menara telekomunikasi terhadap sumber listrik eksternal.
Dari sisi tata kelola, hubungan BACH dengan TOWR juga telah diperkuat melalui jajaran manajemen. Anita Anwar, Wakil Presiden Direktur Protelindo sekaligus Direktur Sarana Menara Nusantara sejak 2021, menjabat sebagai Presiden Komisaris BACH. Sementara itu, Budi Kurniawan yang telah bergabung sejak 2007 tetap memimpin operasional perusahaan sebagai direktur utama. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) memastikan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap 5 persen hingga akhir ... [392] url asal
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) memastikan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap 5 persen hingga akhir tenor.
Sekretaris Jenderal Kementerian PKP Didyk Choiroel menegaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) tidak mempengaruhi cicilan rumah subsidi yang disalurkan melalui skema FLPP.
“Program FLPP sangat berpihak kepada rakyat. Penerimanya adalah masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kriteria yang diatur dalam Permen PKP Nomor 5 Tahun 2025. Selain harga rumah yang terjangkau, masyarakat juga mendapatkan suku bunga tetap sebesar 5 persen, subsidi bantuan uang muka sebesar Rp4 juta, serta cicilan yang ringan dan tetap sampai masa kredit berakhir,” ujar Didyk dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026 dan kembali meningkat menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026.
Meski demikian, Kementerian PKP memastikan masyarakat penerima FLPP tetap mendapatkan kepastian cicilan yang terjangkau.
Menurut Didyk, FLPP memiliki karakteristik khusus yang dirancang untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dalam mengakses rumah layak dan terjangkau.
Ia menegaskan bahwa meskipun BI Rate mengalami kenaikan, bunga FLPP tidak akan berubah selama masa kredit berlangsung.
“Dengan arahan Presiden, Menteri PKP, serta dukungan Komite BP Tapera, bunga FLPP tetap 5 persen dan tidak akan naik hingga tenor kredit selesai. Ini memberikan kepastian dan perlindungan bagi masyarakat agar tidak terdampak fluktuasi suku bunga pasar,” katanya.
Didyk menjelaskan bahwa keberlanjutan program FLPP didukung oleh skema pendanaan yang kuat. Saat ini, pembiayaan FLPP berasal dari kombinasi dana pemerintah dan dana pendamping dari sektor keuangan.
“Sebanyak 75 persen pendanaan FLPP berasal dari BP Tapera, sedangkan 25 persen lainnya berasal dari dukungan sektor pembiayaan melalui skema yang melibatkan SMF dan perbankan. Dengan skema tersebut, program FLPP dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Didyk menyampaikan bahwa minat masyarakat terhadap rumah subsidi terus meningkat. Pada tahun 2025, realisasi FLPP mencapai 278 ribu unit rumah atau menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah pelaksanaan program rumah subsidi.
Sementara itu, hingga 24 Juni 2026, realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 81.268 unit rumah yang dananya telah dicairkan, serta 21.735 unit rumah yang telah melaksanakan akad kredit.
“Capaian ini menunjukkan bahwa rumah subsidi masih menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat. Selain cicilannya terjangkau dan tidak terpengaruh kenaikan BI Rate, kualitas rumah subsidi saat ini juga semakin baik,” ujar Didyk.
Berawal dari resep Lebaran, Cangcomak berkembang menjadi UMKM beromzet puluhan juta berkat pendampingan Rumah BUMN BRI dan kini mulai membidik pasar ekspor. - Bagian all [1,330] url asal
JAKARTA, iNews.id – Olahan kacang berlapis cokelat menjadi titik balik kehidupan Salmi. Di tengah ketidakpastian setelah kehilangan pekerjaan, dia membangun usaha dari resep keluarga yang selama ini hanya muncul setahun sekali saat Lebaran.
Produk itu kini dikenal dengan nama Cangcomak, singkatan dari Kacang Cokelat Emak. Berawal dari dapur rumah pada 2020, usaha tersebut perlahan berkembang menjadi bisnis makanan ringan dengan omzet puluhan juta rupiah per tahun.
Perjalanan itu tidak dilewati sendirian. Berbagai pelatihan, pendampingan, hingga kesempatan promosi yang diperoleh melalui Rumah BUMN BRI menjadi bekal penting bagi Salmi untuk terus mengembangkan usahanya.
Sebelum menjadi pelaku UMKM, Salmi bekerja di salah satu perusahaan swasta. Namun, perusahaan tempatnya bekerja bangkrut pada 2018 sehingga dia harus menganggur.
Saat itu, dia mulai memikirkan usaha yang bisa dijalankan sendiri.
"Dulu saya kerja kantoran yang istilah orang bilang budak corporate ya. Tahun 2018 kantornya bangkrut, 2019 nganggur. Terus ya sudah pengin punya usaha aja," kata Salmi saat ditemui iNews.id di rumahnya, Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa (23/6/2026).
Keinginan berwirausaha pun muncul. Hanya saja, Salmi belum mengetahui produk apa yang akan dijual. Hingga akhirnya dia teringat camilan buatan sang ibu yang selalu hadir setiap Lebaran.
"Cuma kan bingung ya pengin punya usaha apaan gitu. Kebetulan emak kan punya makanan ciri khas buat Lebaran, namanya kacang cokelat. Itu dibuatnya setahun sekali pas Lebaran. Hari-hari biasa tuh enggak bakalan ada, Lebaran aja. Jadi setiap tahun cuma sekali, kacang cokelat. Kan autentik bikin sendiri, ya sudah kita bikin aja deh, kenapa enggak dijual aja," ujarnya.
Sebelum mulai memasarkan produk, Salmi lebih dulu mengikuti pelatihan keamanan pangan melalui Jakpreneur pada akhir 2019. Dari sana dia belajar mengurus berbagai perizinan usaha, termasuk sertifikasi halal.
"Kalau kita mau jual itu kan harus jelas ya ada izinnya. Nah mulai tuh awal-awal ikut Jakpreneur. Akhir 2019 tuh ikut pelatihan keamanan pangan. Akhirnya kan ngerti tuh proses buat bikin perizinan," katanya.
Tak lama setelah produknya mulai dipasarkan, pandemi Covid-19 melanda. Kondisi itu justru mendorong Salmi belajar memasarkan produknya secara digital.
"Pas lagi kita udah mulai punya produk kan Covid-19, tapi pas Covid-19 itu kan kita tetap aktif ya. Mulai belajar online. Sampai sekarang," ujarnya.
Kini Cangcomak hadir dengan tiga varian utama, yakni kacang tanah, mede, dan almond berlapis cokelat. Seluruh kacang dipanggang terlebih dahulu sebelum dilapisi cokelat, sehingga menghasilkan tekstur renyah dan tidak berminyak.
"Jadi kalau ditanya unique selling point-nya Cangcomak apa, kacangnya tuh dipanggang, full baked, enggak lengket, enggak berminyak, cokelatnya crunchy, renyah. Jadi kan kalau cokelat itu kena matahari lumer, lengket. Nah kalau Cangcomak enggak, dia crunch gitu," katanya.
Tak hanya mengutamakan kualitas, Salmi juga mengusung konsep social impact. Bahan baku kacang tanah dipasok dari petani di Tuban, Jawa Timur, sedangkan kacang mede berasal dari Sumba. Pesan tersebut bahkan dicantumkan pada kemasan produknya.
"Kita di Cangcomak ada gerakan sosial, 'Dengan membeli produk ini, Anda turut membantu para petani'. Karena ambil kacangnya dari Tuban, Jawa Timur. Dia kacangnya besar, terus bersih, enggak kotor. Kacangnya juga utuh, full," ucapnya
Perjalanan Cangcomak berkembang semakin pesat setelah Salmi bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada 2021. Dari sana dia mulai mendapatkan berbagai pelatihan yang membantu meningkatkan kualitas usahanya.
"Setelah ikut berbagai macam pelatihan kita mulai tahu ada Rumah BUMN BRI. Dari 2021 udah ikut di situ," katanya.
Salah satu perubahan yang paling terasa adalah tampilan produk. Melalui pendampingan Rumah BUMN BRI, dia memperoleh bantuan kemasan standing pouch yang membuat produknya tampil lebih profesional.
"Orang lain kemasannya masih pakai stiker, kalau Cangcomak itu udah cakep. Akhirnya dari BRI dikasih fasilitas kemasan gratis, standing pouch," ujarnya.
Selain itu, Salmi rutin mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI, mulai dari digital marketing, penyusunan laporan keuangan, hingga strategi pemasaran berbasis teknologi.
"Terus ikut-ikut pelatihan Zoom, pelatihan digital marketing, laporan keuangan, segala macam. Terus difasilitasi sertifikasi halal di BRI itu 2022," katanya.
Menurut Salmi, pelatihan yang diberikan selalu mengikuti kebutuhan UMKM sehingga peserta dapat memilih materi yang paling relevan.
"Itu sih pelatihan, tapi kan pelatihannya banyak. Kita tinggal pilih saja apa yang kita butuhin nih, nah kita ikut. Misalkan AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan), sekarang lagi rame apa nih, misalnya pelatihan laporan keuangan digital, nah kita ikut," ujarnya.
Dia mengaku aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan Rumah BUMN BRI. Keaktifan itu membuat Cangcomak beberapa kali terpilih menerima berbagai fasilitas pendampingan, salah satunya sertifikasi halal.
Tak hanya pelatihan, BRI juga membuka akses Salmi mempromosikan Cangcomak melalui berbagai pameran dan showcase, seperti Brilianpreneur hingga Pesta Rakyat Simpedes.
"Terus ikut Brilianpreneur, terus Pesta Rakyat Simpedes, banyak ikut event," ujarnya.
Dia merasa manfaat terbesar bergabung dengan Rumah BUMN BRI bukan hanya kesempatan mengikuti pelatihan, tetapi juga meningkatkan eksposur produknya.
"Pasti lebih dikenal, terus pelatihannya gratis. Misal training live TikTok, affiliate juga ada. Jadi sesuai sama yang kita butuhin. Bantu banget sih," katanya.
Pendampingan yang diterima Salmi kini tidak lagi sebatas pemasaran dalam negeri. Melalui program yang difasilitasi BRI bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), dia mulai mempelajari seluk-beluk ekspor.
"Ini lagi disekolahin ekspor sama BRI. Jadi BRI kerja sama dengan Kemendag, itu kayak UMKM terpilih diajak perkenalan ekspor," ujarnya.
Dia mengatakan pelatihan tersebut dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahun pertama peserta diperkenalkan pada dasar-dasar ekspor, sedangkan tahun ini materi yang diberikan lebih mendalam.
"Tahun lalu tuh pengenalan dasar ekspor. Kita kan buta nih, ekspor tuh ngapain aja sih, pembukuannya apa, bayarnya gimana, dibuka deh tuh mindsetnya," ucap dia
"Kalau sekarang tuh advance, lebih spesifik. Kayak cara ngitung perhitungannya, instrumen biaya kirim. Kalau dijual berapa. Harus disiapkan. Terus kalau makanan baiknya tahan berapa lama," imbuhnya.
Hasil pendampingan tersebut mulai membuka peluang baru. Produk Cangcomak telah diperkenalkan kepada calon pembeli dari sejumlah negara, meski masih dalam tahap penjajakan.
Dia memerinci, sejumlah negara yang menunjukkan ketertarikan terhadap Cangcomak antara lain Singapura, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, hingga Australia.
Bahkan, salah satu calon pembeli dari Rusia telah meminta penawaran harga secara terperinci. Meski demikian, Salmi memilih tidak terburu-buru mengejar pasar ekspor sebelum kapasitas produksinya benar-benar siap.
Hingga saat ini, kata dia, seluruh proses produksi masih dilakukan dari rumah bersama dua orang karyawan.
"Kalau ekspor itu kalau kapasitas kita sudah mampu ya, jangan paksain," tutur dia.
Kualitas Cangcomak mendapat apresiasi dari pelanggan. Salah satunya Tania, warga Kelapa Gading, yang mengaku tertarik mencoba produk tersebut karena konsepnya berbeda dari camilan cokelat pada umumnya.
Menurut Tania, lapisan cokelat pada Cangcomak tidak terlalu tebal sehingga rasa kacangnya tetap dominan. Hal itu justru menjadi alasan dia menyukai produk tersebut.
"Aku tertarik saja, dia kan cokelatnya enggak begitu banyak, tapi masih ngacang aja. Menarik aja sih konsepnya. Cokelatnya enggak tebal ya dan enggak terlalu manis jadi saya suka banget," kata Tania.
Setelah mencoba, Tania mengakui Cangcomak menjadi salah satu camilan favoritnya. Dia bahkan kerap menjadikannya pelengkap menu sarapan karena dinilai cocok dipadukan dengan berbagai makanan dan minuman.
"Ternyata cocok dimakan buat sarapan. Saya biasanya sarapan pakai yoghurt, dicampur sama yoghurt tuh enak. Terus pernah juga coba dicampur sama susu, enak. Bahkan digado juga enak. Jadi puas sih selama ini, oke banget. Rasanya enak, cokelatnya light, dan sehat juga kayaknya ya karena kacang," ujarnya.
Kepuasan itu membuat Tania tak ragu merekomendasikan Cangcomak kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan, dia membawa camilan tersebut ke kantor untuk dicicipi rekan-rekan kerjanya.
"Sudah, aku sudah rekomendasiin, dibawa ke kantor mereka coba katanya enak. Ya sudah aku kasih akun TikTok-nya," katanya.
Kisah Cangcomak menjadi salah satu contoh dampak pendampingan yang dihadirkan Rumah BUMN BRI bagi pelaku UMKM. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan Rumah BUMN BRI tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas, dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Dia menjelaskan, pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen BRI dalam membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hingga kini, BRI telah menghadirkan 54 Rumah BUMN di berbagai daerah dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan untuk mendukung pengembangan kapasitas pelaku UMKM.
"Banyak pelaku usaha yang semula hanya menjual produk di pasar lokal, kini telah memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dan akses ekosistem digital mampu mengubah kualitas hidup masyarakat," kata Dhanny.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong hunian vertikal dapat hadir di kawasan transmigrasi."Rumah tidak harus selalu ... [265] url asal
Jakarta (ANTARA) - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong hunian vertikal dapat hadir di kawasan transmigrasi.
"Rumah tidak harus selalu menapak atau rumah tapak. Jadi, rumah tapak itu diperuntukkan kepada masyarakat lokal, sedangkan untuk pendatang kita kasih rumah tumbuh model apartemen atau rumah susun," ujar Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Dia mengatakan model hunian vertikal di kawasan transmigrasi sesuai dikarenakan lahan yang semakin terbatas dan mahal.
"Jadi, yang penting apa? Yang penting, dia datang ada pekerjaannya, ada tempat tinggalnya, ada sekolahnya. Jadi, tidak harus selalu (rumah tapak) karena tanah makin ke sini makin mahal, makin sempit," katanya.
Menurut dia, saat ini terdapat momentum penataan ruang dan lahan, sehingga pemanfaatan lahan di kawasan transmigrasi harus semakin bijak.
Sebelumnya, Mentrans Iftitah menegaskan komitmen memperbaiki layanan permukiman dengan memastikan rumah transmigrasi ditingkatkan dari tipe 36 ke tipe 45 agar keluarga memperoleh ruang tinggal lebih layak dan nyaman.
Menurutnya, keputusan menaikkan standar rumah menuju tipe 45 penting untuk menyediakan minimal dua kamar, sehingga anak-anak dan orang tua tidak tinggal dalam ruang yang sama karena secara psikologis kurang baik.
Mentrans berharap masyarakat transmigran lama tidak merasa iri karena peningkatan fasilitas ini adalah bagian dari perbaikan bertahap, sementara dukungan untuk penyelesaian persoalan yang mereka hadapi tetap diutamakan.
Mentrans menyampaikan bahwa rata-rata rumah transmigrasi saat ini masih tipe 36, namun beberapa lokasi sudah mulai dibangun tipe 45 sebagai bagian dari tahap transisi.
Ia menegaskan mulai tahun depan seluruh rumah transmigrasi akan menggunakan tipe 45 sebagai standar nasional sehingga kualitas hunian meningkat dan sesuai kebutuhan keluarga modern.