Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) angkat bicara mengenai adanya transaksicrossing saham bernilai jumbo pada dua hari perdagangan berturut-turut, yaitu 20-21 Januari 2025.
Menanggapi hal itu, manajemen Bank Ina belum dapat memberikan komentar lebih jauh, termasuk mengonfirmasi mengenai adanya investor baru. Pasalnya, manajemen memiliki keterbatasan informasi untuk melihat detail transaksi tersebut mengingat hal ini sepenuhnya merupakan ranah investor dan pihak sekuritas di pasar sekunder.
“Kami belum bisa memberikan komentar lebih jauh atau mengkonfirmasi mengenai adanya investor baru, karena kapasitas kami memang terbatas pada operasional Bank saja,” kata manajemen Bank Ina kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (22/1/2026).
Merujuk data D’Origin, telah terjadi transaksi crossing bernilai jumbo selama dua hari berturut-turut. Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) terjadi transaksi di harga Rp4.600 dengan nilai Rp733,7 miliar.
Transaksi crossing kembali terjadi pada Rabu (21/1/2026) di harga Rp4.620 dengan total nilai Rp736,89 miliar. Dengan demikian, total transaksi crossing BINA dalam dua hari mencapai Rp1,47 triliun.
Adapun, saham BINA berada di zona merah pada perdagangan sesi 1, Rabu (21/1/2026). Saham bank milik Grup Salim ini turun 0,21% atau 10 poin menuju level Rp4.690 per saham. Kendati begitu sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), saham BINA melesat 200 poin atau 4,45%.
Sebagai informasi, Anthoni Salim melalui PT Indolife Pensiontama mengempit 22,83% saham Bank Ina. Tercatat hingga kuartal III/2025, Bank Ina membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp32,85 miliar.
Hingga September 2025, Bank Ina tercatat telah menyalurkan kredit senilai Rp15,02 triliun, meningkat 13,37% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp13,24 triliun.
Pada saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan mencapai Rp25,53 triliun, tumbuh 49,39% YoY. Pada September 2024, DPK yang dihimpun Bank Ina tercatat sebesar Rp17,09 triliun.
Pertumbuhan DPK pada periode ini ditopang oleh simpanan giro yang tumbuh sebesar 121,27% YoY menjadi Rp7,52 triliun, diikuti simpanan tabungan yang naik 35,55% YoY menjadi Rp1,08 triliun, dan simpanan deposito yang tumbuh 31,30% YoY menjadi Rp16,93 triliun hingga kuartal III/2025.