Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah analis melihat prospek positif saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) setelah masuk ke Papan Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah sentimen negatif dikeluarkannya saham tersebut dari indeks MSCI.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan emiten yang berhasil naik kelas mencerminkan pemenuhan syarat aset, rekam jejak keuangan, dan GCG yang lebih baik. Demikian pula dengan akses peluang ke basis investor institusional lebih luas, potensi masuk radar indeks sektoral BEI, dan likuiditas cenderung meningkat.
Meski demikian, ia menegaskan perpindahan papan bukan jaminan kinerja saham akan langsung melesat. Menurutnya, fundamental perusahaan tetap menjadi faktor utama penentu arah pergerakan saham jangka panjang.
Dari daftar emiten yang naik ke Papan Utama, Wafi menyoroti TPIA sebagai salah satu saham paling menarik. Menurutnya, meski saham TPIA sempat terkoreksi akibat eksklusi dari indeks MSCI, perpindahan ke Papan Utama dapat memperkuat posisi perseroan dalam jangka menengah setelah tekanan passive outflow mereda.
"Yang paling menarik TPIA meski terkoreksi akibat eksklusi MSCI, naik kelas dapat memperkuat posisi jangka menengah setelah outflow reda," ujarnya dikutip, Jumat (29/5/2026).
Selain TPIA, ia juga menilai saham PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR) dan PT Central Omega Resources Tbk. (DKFT) menarik sebagai proxy sektor komoditas dengan fundamental yang dinilai solid. Di sektor defensif, saham kesehatan seperti PT Merck Tbk. (MERK) dan PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) juga dinilai prospektif. Terutama untuk prospek PRAY yang didorong ekspansi rumah sakit dan pemulihan tingkat utilisasi layanan kesehatan.
Wafi melihat perpindahan ke Papan Utama juga berpotensi memicu rebalancing portofolio investor institusional, terutama pasca evaluasi indeks MSCI. Namun ia menilai proses tersebut akan berlangsung selektif.
“Investor institusional bisa mulai akumulasi emiten yang baru naik kelas, terutama dengan likuiditas memadai dan free float di atas 15 %. Emiten dengan free float tipis tetap kurang menarik meski sudah di Papan Utama,” katanya.
Menurutnya, kandidat paling menarik untuk masuk radar investor institusi adalah TPIA, BSSR, PRAY, dan MERK.
Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki menilai perpindahan emiten ke Papan Utama menunjukkan kualitas bisnis yang semakin matang dan kinerja operasional yang lebih solid.
“Ini dinilai sangat positif karena mencerminkan perbaikan fundamental, tata kelola (GCG), dan kinerja operasional yang solid sekaligus menjadi sinyal pemulihan bisnis yang matang bagi emiten-emiten tersebut,” ujarnya.
Menurut dia, perpindahan papan bursa juga dapat meningkatkan persepsi investor terhadap kualitas emiten, terutama bagi saham-saham yang sebelumnya berada di Papan Pengembangan.
Meski demikian, Yaki mengingatkan investor untuk tetap selektif dalam melakukan akumulasi saham. Ia menilai tidak semua emiten yang naik kelas otomatis layak dikoleksi tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental.
Investor disarankan tetap melakukan diversifikasi dengan fokus pada emiten yang memiliki arus kas operasional positif, free float yang likuid di pasar, serta laporan keuangan yang stabil dan bertumbuh.
“Disarankan tetap melakukan diversifikasi dengan menyeleksi emiten yang arus kas operasionalnya positif serta memiliki volume free float yang likuid di pasaran serta kinerja laporan keuangan yang stabil dan bertumbuh,” katanya.
Yaki melihat sejumlah emiten yang terkait grup konglomerasi maupun yang masih agresif berekspansi menjadi menarik untuk dicermati pasca perpindahan papan bursa. Beberapa saham yang dinilai prospektif antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Gozco Plantations Tbk (GZCO), PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN), dan PT FKS Multi Agro Tbk (FISH).
Sentimen Negatif Saham GOTO dan BELI
Di sisi lain, perpindahan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan dinilai menjadi sentimen negatif.
Wafi menilai langkah tersebut mencerminkan kegagalan emiten memenuhi sejumlah persyaratan Papan Ekonomi Baru, terutama terkait profitabilitas dan penurunan kapitalisasi pasar.
“Perpindahan ini mempersulit masuknya dana institusional yang hanya bisa masuk saham Papan Utama dan berpotensi menambah tekanan jual,” ujarnya.
BCA Sekuritas juga memilih mengambil sikap hati-hati terhadap dua emiten teknologi tersebut.
“Better wait and see dulu sementara untuk GOTO dan BELI,” ujar Yaki.
Sikap tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek saham teknologi di tengah tantangan profitabilitas dan tekanan valuasi yang masih membayangi sektor digital.
Adapun BEI resmi menyesuaikan klasifikasi papan pencatatan dengan memindahkan total 44 perusahaan tercatat efektif mulai 29 Mei 2026. Sebanyak 26 emiten naik dari Papan Pengembangan ke Papan Utama, sementara 16 emiten turun dari Papan Utama ke Papan Pengembangan. Selain itu, dua emiten teknologi yakni PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) dipindahkan dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.