Bisnis.com, JAKARTA – SBN Ritel seri ST015 menjadi produk terakhir pemerintah dalam penerbitan SBN Ritel tahun ini. Menutup tahun, mitra distribusi SBN Ritel PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) mengaku optimis bahwa penjualan pada tahun mendatang tidak akan kalah semarak dibandingkan dengan tahun ini.
Adapun sepanjang tahun ini, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menerbitkan tujuh seri SBN Ritel. Mayoritas penerbitan tersebut mampu diserap pasar dengan sepenuhnya. Bahkan beberapanya mencatatkan kelebihan permintaan.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, hanya dua seri yang tidak ludes di pasaran, yaitu SBR014 dan SR023. SBR014 yang diterbitkan pada periode 14 Juli–7 Agustus 2025 dan menargetkan dana terhimpun hingga Rp15 triliun, hanya mampu membukukan penjualan senilai Rp14,91 triliun. Artinya, produk ini hanya laris di pasaran sebesar 99,4%.
Sementara itu, SR023 yang diterbitkan setelahnya pada periode 22 Agustus–15 September 2025, hanya membukukan penjualan Rp18,73 triliun dari target dana terhimpun Rp20 triliun. Artinya, penjualan SR023 hanya mencapai 93,65% dari target awal pemerintah.
Namun, kondisi berbalik pada dua penerbitan SBN ritel terakhir. Obligasi Ritel Indonesia seri ORI028 yang diterbitkan pada periode 29 September–23 Oktober 2025 nyatanya mampu membukukan penjualan hingga Rp15,5 triliun atau mencerminkan 103,33% dari target penjualan pemerintah senilai Rp15 triliun.
Begitu juga dengan ST015 yang mampu membukukan penjualan melebihi target awal. Penawaran ST015 bahkan mengalami beberapa kali penambahan kuota penjualan.
Pada awal penawaran, pemerintah menargetkan dana Rp10 triliun, kemudian ditingkatkan menjadi Rp12 triliun, dan kembali naik menjadi Rp15 triliun. Upsize target penerbitan ST015 tak terlepas dari tingginya minat investor ritel terhadap produk ST015 dengan tenor 2 tahun yang laris manis dipesan.
Dengan kata lain, dari tujuh penerbitan SBN Ritel sepanjang 2025, 71,42% hasil penerbitan masih mencatatkan penjualan yang positif. Hanya dua dari tujuh yang tidak mencapai target penjualan pemerintah.
Hasil positif ini turut mendorong kepercayaan diri mitra distribusi dalam menjajakan produk obligasi ritel ini ke depan. Head of PR & Corporate Communication Bibit William menerangkan bahwa secara tahunan dan per seri, Bibit memandang bahwa SBN Ritel masih menjadi pilihan bagi sebagian investor yang ingin mendapatkan keamanan dalam berinvestasi.
“Di Bibit, kami melihat tren kenaikan jumlah investor dan pola investasi yang menjadikan SBN sebagai alternatif passive income,” kata William kepada Bisnis, Rabu (3/12/2025).
Mengenai penjualan terakhir SBN Ritel seri ST015, William menerangkan bahwa penjualan terhadap produk pamungkas itu telah mampu memenuhi target yang ditentukan oleh Bibit. Hal itu tampak dari volume penjualan dan market share nasional yang mengindikasikan minat besar investor terhadap produk dengan fiturfloating with floorini.
Terkait dengan prospek tahun depan, Bibit mengaku cukup optimistis terhadap pasar SBN Ritel. Menurutnya, kondisinya tidak akan jauh berbeda dengan realisasi pada 2025.
“Tahun 2026 masih akan baik dan diserbu peminat seperti 2025. Naik-turun pada seri tertentu biasa, mengingat investor punya preferensi yang berbeda, apakah itu dari segi fixed atau floating maupun konvensional atau syariah,” tegasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual obligasi ritel. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.