Bisnis.com, JAKARTA — PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat jumlah debitur layanan beli sekarang bayar nanti aliasbuy now pay later(BNPL) melonjak hingga 49,23%year-on-year(YoY) per Desember 2025. Adapun, kelompok milenial dan Gen Z mendominasi sebagai pengutang.
Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi menyampaikan pertumbuhandouble digitdebitur paylater itu membuat jumlah debitur per Akhir 2025 menjadi 24,52 juta debitur.
“Berdasarkan data di Idscore, per Desember 2025 total debitur BNPL 24,52 juta, ini meningkat 49,23% secara YoY dibandingkan 16,43 juta debitur pada Desember 2024,” ucapnya kepadaBisnis, dikutip pada Senin (16/2/2026).
Tan merincikan, dari jumlah tersebut usia lebih dari 20 tahun hingga 30 tahun mendominasi keseluruhan pengguna BNPL, dengan porsi sebesar 45,08%. Kemudian diikuti segmen usia lebih dari 30 tahun sampai 40 tahun sebesar 29,38%.
Selanjutnya, debitur usia lebih dari 40 tahun hingga 50 tahun porsinya sebesar 14,03%. Sementara itu, debitur usia lebih dari 20 tahun sebanyak 7,04%, usia lebih dari 50-55 tahun mencapai 2,41%, dan debitur usia lebih dari 55 tahun sebanyak 2,25%.
“Sementara itu, berdasarkan data di IdScore per Desember 2025 total portofolio kredit BNPL sebesar Rp53,75 triliun, meningkat 55% YoY dari Rp34,66 triliun pada Desember 2024,” beber Tan.
Dia turut mengatakan rata-rata pinjaman per debitur pada produk BNPL adalah sebesar Rp617.970 per fasilitas dan rata-rata per debitur memiliki tiga kontrak.
Adapun, lanjutnya, kredit macet layanan BNPL per Desember 2025 sebesar Rp999,98 miliar berdasarkan baki debet. Angka ini hanya 0,5% di total kredit macet di Indonesia yang mencapai Rp192,38 triliun.
Tan mengungkapkan bahwa penyumbang kredit macet BNPL terbesar adalah dari segmen usia lebih dari 20 tahun sampai 30 tahun atau setara dengan 36,29% dari total kredit macet BNPL atau sebesar Rp362,99 miliar.
Lebih jauh, dia mengemukakan bahwa IdScore memproyeksikan BNPL pada 2026 akan lanjut bertumbuh, meskipun tidak seagresif pada 2025 kemarin. Hal ini sejalan dengan kebijakan Bank BUKU IV yang memulai pengetatan penyaluran BNPL sebagai respons terhadap peningkatan rasio NPL pada produk tersebut.
“Ke depan, BNPL diproyeksikan tumbuh di kisaran 15–20% pada 2026, relatif lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kartu kredit yang diperkirakan stabil di level 5–6%,” tutup Tan.