Bisnis.com, JAKARTA – PT Samuel Aset Manajemen (SAM) menyiapkan sederet strategi dalam meracik reksa dana di tengah kondisi pasar keuangan RI yang masih dibayangi volatilitas memasuki paruh kedua 2026.
Direktur dan Chief Investment Officer Samuel Aset Manajemen Gema K. Darmawan, memprediksi sejumlah faktor yang masih membayangi pasar keuangan RI di sisa 2026 antara lain ekspektasi suku bunga AS yang tinggi dan soliditas dolar AS.
Selain itu, stabilitas rupiah yang berdampak pada kinerja yield SBN dan arus dana asing, serta dinamika fiskal RI di tengah gejolak harga energi global menjadi faktor lainnya. Terhadap pasar saham RI, proses tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI yang bakal diumumkan pada November 2026 menjadi faktor yang turut diperhatikan oleh pelaku pasar.
Di tengah kondisi ini, Samuel Aset Manajemen berupaya menerapkan seleksi bottom-up berbasis riset fundamental dalam pemilihan saham. Seleksi ini dilakukan dengan menekankan pada sisi kualitas dan valuasi suatu saham.
”Kami memprioritaskan emiten dengan laba yang resilien, neraca yang sehat, dan arus kas yang positif,” katanya kepada Bisnis, dikutip Rabu (1/7/2026).
Melansir laman resminya, SAM memiliki sedikitnya 7 produk reksa dana saham. Salah satunya, SAM Dana Saham Nusantara Kelas A yang diisi oleh sejumlah saham di sektor komoditas, seperti AMMN, BRPT, BRMS, BUMI, DEWA, MDKA, hingga ENRG.
Sementara terhadap RDPT, upaya pengelolaan aset ini dilakukan dengan menjaga durasi secara terukur pada tenor menengah—pendek, yang menawarkan keseimbangan antara imbal hasil dan risiko pergerakkan harga surat utang ke depan.
Gema menerangkan potensi pertumbuhan dana kelolaan Samuel AM sebetulnya masih terbuka pada produk-produk yang cenderung memiliki sifat defensif, seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Peluang kian dalamnya AUM perusahaan juga dinilai terbuka jika kondisi pasar keuangan RI membaik.
”Di sisi lain, apabila kondisi pasar saham membaik, peluang pertumbuhan AUM juga terbuka dari kinerja dan net subscription. Kami pun berencana untuk meluncurkan beberapa produk guna memenuhi kebutuhan investor yang beragam,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.