Bisnis.com, PALEMBANG — Kenaikan harga komoditas karet belum sepenuhnya menjadi angin segar bagi petani di Sumatra Selatan (Sumsel). Persoalan keamanan kebun, serangan penyakit tanaman, hingga lonjakan harga bahan pengental karet yang ikut menekan biaya produksi masih membayangi pelaku usaha di sektor tersebut.
Salah satu petani karet di Kabupaten Musi Banyuasin, Ibas, mengakui harga karet memang terus menunjukkan tren positif.Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp15.000 per kilogram (kg) kini telah menembus level Rp20.000 per kg.
“Iya pelan-pelan (naik), Rp16.000 per Kg terus sempat Rp17.400 per Kg sampai terakhir di Minggu kemarin itu sudah Rp20.300 per Kg,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (13/4/2026).
Meski demikian, menurutnya, sejumlah persoalan masih menjadi tantangan utama bagi petani karet, di luar tingginya curah hujan yang masih terjadi hampir setiap hari.
Salah satunya adalah serangan jamur pada batang karet yang menyebabkan produksi getah menurun. Dalam jangka panjang, penyakit tersebut bahkan dapat membuat pohon mati sehingga mengurangi hasil produksi petani.
“Kalau sekarang satu minggu masih bisa 1 kwintal untuk satu hektare. Tapi kalau pohon sudah kena jamur ya sudah mati,” tuturnya.
Di tengah tren kenaikan harga karet, petani juga mulai dihadapkan pada persoalan keamanan. Menurut Ibas, harga jual yang tinggi memicu maraknya pencurian getah karet di kebun milik warga.
Selain itu, kenaikan harga karet turut berdampak pada meningkatnya harga cuka yang digunakan sebagai bahan pengental getah. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp9.000 per botol, kini harganya mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per botol.
“Sudah dua kali lipat (kenaikan), efek harga karet melambung ini,” terangnya.
Sementara itu, berdasarkan data Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Karet Indonesia (DPW APKARINDO) Sumsel, harga karet KKK 100% naik konsisten dari Rp37.141 per kilogram menjadi Rp38.454 per kilogram sepanjang perdagangan 4–8 Mei 2026.
Sekretaris Jenderal DPW APKARINDO Sumsel Rudi Arpian mengatakan penguatan harga tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal perdagangan, tetapi juga didorong sejumlah sentimen fundamental global yang menopang pasar karet alam.
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah proyeksi defisit pasokan global yang masih berlanjut.
“Pertumbuhan sektor otomotif global, terutama pemulihan industri China dan India, jadi penopang utama permintaan karet alam untuk ban. Dengan stok ban di beberapa wilayah mulai menipis, pembeli berani ambil posisi lebih tinggi,” jelasnya.
Selain itu, gangguan produksi akibat faktor musiman dan iklim dipandang turut memengaruhi harga. Sejumlah negara produsen utama seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia masih menghadapi musim penghujan yang mengganggu penyadapan getah.
“Ditambah efek lanjutan El Nino 2024–2025 yang memangkas produktivitas kebun, dan pemulihan pasokan butuh waktu panjang,” kata Rudi.
Lebih lanjut, imbuh Rudi, APKARINDO memprakirakan tren penguatan harga masih berpeluang berlanjut selama produksi belum pulih dan permintaan industri otomotif tetap solid.
“Tetaplah pelaku pasar tetap waspada pada koreksi jika stok industri kembali menumpuk atau harga minyak terkoreksi,” tutupnya.