Bisnis.com, PALEMBANG - Stasiun Geofisika Kotabumi Lampung menyebut gempa yang mengguncang Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatra Selatan diduga dipicu aktivitas sesar aktif lokal yang hingga kini belum terpetakan secara detail.
Gempa berkekuatan magnitudo 4,4 tersebut terjadi pada Minggu (4/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Getaran gempa dirasakan hingga sejumlah wilayah di Kota Palembang, salah satunya Kecamatan Sukarami.
Kepala Stasiun Geofisika Kotabumi Litman mengatakan peristiwa gempa di OKI menambah catatan aktivitas kegempaan di Sumatra Selatan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, keberadaan sesar aktif lokal menunjukkan wilayah Bumi Bende Seguguk memiliki potensi gempa, meskipun tingkat aktivitasnya relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain di Sumatra Selatan.
“Artinya wilayah ini aktif secara tektonik, namun frekuensi gempanya rendah,” kata Litman, Selasa (6/1/2026).
Dia menambahkan, sejumlah wilayah lain di Sumatra Selatan juga pernah mengalami gempa, antara lain Banyuasin, Pagar Alam, dan Lubuk Linggau.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa OKI berada pada koordinat 3,30 derajat Lintang Selatan dan 105,53 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 17 kilometer.
“Melihat dari sesar utama Patahan Sumatera atau Sesar Semangko, OKI relatif jauh. Gempa ini diduga dari sesar aktif lokal yang belum ada penamaan,” jelasnya.
Kepala BMKG Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menambahkan posisi Pulau Sumatra berada di jalur sistem tektonik aktif. Kondisi itu menjadi faktor gempa tetap berpotensi terjadi di wilayah Sumsel.
“Potensi [gempa] pasti ada, karena secara umum wilayah Sumatra ini dilalui Sistem Patahan Sumatera atau Sesar Semangko,” tuturnya.
Meski demikian, Siswanto menegaskan bahwa waktu terjadi gempa di Sumsel tidak bisa diprediksi meskipun potensi tetap ada.
“Kami tidak bisa memastikan kapan akan terjadi, yang jelas ke wilayahnya berada di zona [patahan] sehingga tetap berpotensi ke depan,” pungkasnya.