Bisnis.com, JAKARTA — PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance membeberkan beberapa cara yang saat ini dilakukan untuk mendongkrak pembiayaan mobil baru dan bekas.
Chief Financial Officer (CFO) Adira Finance Sylvanus Gani menegaskan perusahaan tetap mengedepankan strategi pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
“Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kerja sama dengan dealer, showroom, dan mitra penjualan lainnya, optimalisasi sinergi dengan Bank Danamon sebagai induk usaha, serta pengembangan jaringan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan,” katanya, Selasa (19/5/2026).
Tidak sampai di situ, imbuhnya, perusahaan pun terus memperkuat nilai tambah bagi konsumen melalui program pembiayaan yang relevan,pricingyang kompetitif, serta proses kredit yang lebih mudah, cepat, dan tetapprudent.
Gani turut berujar bahwa penyaluran pembiayaan tetap dilakukan secara selektif dengan memperhatikan profil risiko dan kemampuan membayar konsumen, sehingga pertumbuhan pembiayaan dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan.
Adapun, per April 2026, Adira Finance mencatatkan pembiayaan mobil baru sebesar Rp2,8 triliun. Sementara itu, pembiayaan mobil bekas tercatat sebesar Rp1,9 triliun. Kontribusi masing-masing pembiayaan terhadap total portofolio adalah sekitar 18% dan 12%.
“Berdasarkan data Perusahaan, tren pembiayaan baik mobil baru maupun mobil bekas masih mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” sebut Gani.
Kendati demikian, Adira Finance melihat prospek pembiayaan kendaraan hingga semester I/2026 masih akan menghadapi tantangan, terutama di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan ketidakpastian ekonomi global.
“Kami melihat pertumbuhan masih akan berlangsung secara selektif karena konsumen tetap mempertimbangkan daya beli, harga kendaraan, biaya kepemilikan, serta kemampuan untuk mengambil komitmen pembiayaan baru,” ujar Gani.
Oleh sebab itu, lanjutnya, Adira Finance akan terus fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan kualitas aset melalui penerapan prinsip kehati-hatian, sekaligus memperkuat penawaran produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada Maret 2026, penyaluran mobil baru terkontraksi 3,17% (year on year/YoY) menjadi Rp146,56 triliun. Sementara itu, penyaluran mobil bekas turun 7,67% YoY menjadi Rp86,73 triliun.
Menurut Adira Finance, kontraksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya beli masih cukup selektif di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, sehingga sebagian masyarakat cenderung menunda pembelian kendaraan atau lebih berhati-hati dalam mengambil komitmen pembiayaan baru.
“Selain itu, kenaikan harga kendaraan dan biaya kepemilikan, seperti biaya perawatan dan operasional, juga dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen,” sebut Gani.
Di sisi lain, imbuhnya, perusahaan pembiayaan juga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan dengan memperhatikan profil risiko dan kemampuan membayar konsumen.