Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Jiwa BCA atau BCA Life menyampaikan produk asuransi jiwa tradisional menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan premi perusahaan.
Presiden Direktur & CEO BCA Life Eva Agrayani mengemukakan khususnya produk-produk proteksi yang memberikan manfaat perlindungan yang jelas dan terukur bagi nasabah.
“Sejalan dengan strategi bisnis perseroan, produk asuransi tradisional akan tetap menjadi fokus utama pada tahun 2026,” katanya kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026).
BCA Life, lanjutnya, melihat bahwa kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial dasar masih sangat besar. Oleh sebab itu, penguatan portofolio produk proteksi yang relevan dengan kebutuhan nasabah akan terus menjadi prioritas.
Eva turut menyampaikan pada Januari 2026 BCA Life membukukan pendapatan premi sebesar Rp434,8 miliar, tumbuh 7,5% (year on year/YoY) dari Rp404,3 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi premi baru dan premi lanjutan dari produk-produk proteksi yang menjadi fokus utama perseroan.
“Di sisi lain, pembayaran klaim kepada nasabah tetap berjalan secara sehat dan sejalan dengan komitmen Perseroan dalam memenuhi kewajiban kepada pemegang polis,” ujarnya.
Oleh karena itu, BCA Life selalu konsisten memastikan kecukupan cadangan teknis dan penerapan manajemen risiko yang disiplin untuk menjaga stabilitas pembayaran klaim dan keberlanjutan kinerja keuangan.
Adapun untuk terus mendongkrak pendapatan premi pada 2026, Eva mengatakan perusahaan akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Grup BCA sebagai mitra strategis bancassurance.
“Melalui pengembangan produk yang semakin relevan dengan kebutuhan setiap segmen nasabah, peningkatan kompetensi tenaga pemasar, serta optimalisasi pemanfaatan data dan teknologi,” bebernya.
Selain itu, imbuhnya, perusahaan juga fokus pada penyediaan solusi perlindungan yang lebih mudah dijangkau yang terintegrasi dengan ekosistem layanan keuangan dalam Grup BCA, sehingga dapat mendukung perencanaan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Di lain sisi, Eva mengungkapkan kondisi ekonomi dan geopolitik yang berdampak pada daya beli masyarakat hingga literasi asuransi yang masih perlu didorong kerap menjadi tantangan utama bagi industri asuransi jiwa pada 2026.
“Untuk menghadapi tantangan tersebut, BCA Life akan terus memperkuat strategi edukasi dan literasi asuransi kepada masyarakat, meningkatkan kualitas produk dan layanan, serta mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan bisnis,” tegasnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai premi industri asuransi jiwa pada Januari 2026 turun sebesar 6,15% (YoY) menjadi Rp17,97 triliun.
Bagi BCA Life, kontraksi pada awal tahun ini kemungkinan disebabkan oleh dinamika ekonomi global ataupun domestik yang memengaruhi daya beli masyarakat, yang menurun terhadap produk keuangan jangka panjang seperti asuransi jiwa.
“Sehingga proses pengambilan keputusan pembelian produk proteksi menjadi lebih selektif,” sebut Eva.