Bisnis.com, JAKARTA — PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) telah merampungkan akuisisi tol Cimanggis-Cibitung. Aset tersebut diproyeksi berkontribusi menghasilkan pendapatan berulang jangka panjang terhadap perseroan.
Pada akhir November 2025, BNBR melalui anak usahanya PT Bakrie Toll Indonesia telah merampungkan akuisisi 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Waskita Toll Road (WTR) senilai total Rp3,56 triliun.
Wakil Direktur Utama BNBR A. Ardiansyah Bakrie menjelaskan usai akuisisi CCT, perseroan belum memikirkan untuk langkah akuisisi lanjutan jalan tol di Indonesia.
“Akan tetapi, kami lihat kalau CCT prospeknya menjanjikan, karena jalan tol memberikan suatu recurring income [pendapatan berulang] perseroan di masa depan,” kata Ardi dalam public expose pada Rabu (17/12/2025).
BNBR juga menilai tol Cimanggis-Cibitung memiliki peran strategis di jaringan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2. Terdapat pula peluang peningkatan lalu lintas seiring dengan pesatnya perkembangan kawasan industri logistik dan perumahan.
“Jalan tol ini sebagai penghubung penting kawasan Selatan dan Timur Jabodetabek,” ujar Ardi.
Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti menilai CCT akan mampu memberikan cash flow yang kuat bagi BNBR dan memperkuat posisi perseoran dalam bisnis infrastuktur.
“[Akuisisi jalan tol] sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang perseroan. Tujuan kami lainnya adalah optimalkan sinergi usaha atas aset jalan tol, dan dorong kontribusi atas kinerja konsolidasi. Ditopang revenue stream yang kuat, maka kami akan mendapat profit stabil.” ujar Roy.
Sebelumnya, Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menyampaikan akuisisi itu dilakukan sejalan dengan peluang strategis yang dibidik oleh perseroan. BNBR menilai akusisi ini merupakan kesempatan dan momentum tepat untuk mengkonsolidasikan kepemilikan penuh atas CCT.
“Transaksi ini dilakukan sehubungan dengan adanya peluang strategis bagi perseroan untuk mengakuisisi seluruh kepemilikan saham CCT yang saat ini dimiliki oleh SMI sebesar 55% dan WTR 35%,” kata Anindya dalam keterangan resmi.
Anindya menjabarkan pertimbangan utama dilakukannya transaksi akuisisi ini adalah untuk memperkuat posisi grup BNBR dalam sektor infrastruktur nasional, sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang perseroan yang berfokus pada pengembangan infrastruktur dan manufaktur.
Menurut Anin, dengan memiliki 100% kepemilikan atas saham CCT, BNBR diharapkan dapat mengoptimalkan sinergi usaha, meningkatkan kontrol operasional dan strategis atas aset jalan tol tersebut, serta mendorong kontribusi pendapatan yang berkelanjutan dan signifikan terhadap kinerja konsolidasi ke depan.
Berdasarkan laporan keuangan, BNBR telah meraup laba bersih sebesar Rp11,7 miliar per kuartal III/2025, amblas dibandingkan denganlaba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp516 miliar.
Begitu juga dengan pendapatan BNBR yang susut 3% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp2,65 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan Rp2,73 triliun per kuartal III/2024.
Dari sisi neraca, BNBR telah meraup total aset sebesar Rp7,19 triliun dengan liablitas sebesar Rp3,03 triliun pada periode yang berakhir 30 September 2025. BNBR pun mencatatkan ekuitas sebesar Rp4,15 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.