Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah korporasi global mulai membayar penalti kepada pemegang obligasi setelah gagal memenuhi target penurunan emisi yang tercantum dalam sustainability-linked bonds (SLB). Maskapai Air France-KLM, grup perhotelan Accor SA, dan peritel energi asal Australia, Ampol, menjadi contoh terbaru emiten yang tidak mencapai target emisi 2025.
Mengutip Bloomberg, ketiga perusahaan tersebut menjual SLB pada periode 2021 hingga awal 2023. Kegagalan memenuhi target memicu kenaikan kupon maupun harga penebusan obligasi, sehingga meningkatkan biaya pendanaan. Meski nilainya relatif kecil dibandingkan skala perusahaan, penalti tersebut memberikan kompensasi tambahan bagi investor.
Instrumen SLB mengaitkan tingkat bunga yang dibayar perusahaan atau pemerintah dengan pencapaian target environment, social and governance (ESG) yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun, target yang dinilai ambisius pada periode puncak komitmen net zero kini menjadi tantangan tersendiri di tengah perubahan kondisi bisnis dan politik.
“Kasus ini mencerminkan dua hal, ambisi target yang tinggi dan mekanisme akuntabilitas dalam struktur SLB,” kata Josephine Richardson, Head of Research di Anthropocene Fixed Income Institute. Dia memperkirakan hampir 250 SLB memiliki target jatuh tempo pada 2025, sehingga menjadi ajang uji efektivitas instrumen tersebut.
Data Bloomberg Intelligence menunjukkan pasar SLB mencapai puncaknya pada 2021 dengan penerbitan melampaui US$100 miliar. Sejak itu, penjualan terus menurun setiap tahun dan hanya mencapai US$33 miliar pada 2025.
Penerbit kini menghadapi pengawasan lebih ketat dari investor dan kelompok kampanye terkait ambisi target serta besaran penalti yang relatif kecil. Sektor ini juga terdampak sentimen politik terhadap kebijakan ESG korporasi, khususnya di Amerika Serikat.
Air France-KLM tercatat gagal menurunkan emisi gas rumah kaca dari bahan bakar jet sebesar 10% per ton pendapatan pada 2025 dibandingkan dengan tahun dasar 2019. Dalam laporan tahunannya, perseroan menyebut sejumlah hambatan, antara lain kendala rantai pasok, masalah mesin pada pesawat generasi baru, serta waktu tempuh penerbangan yang lebih panjang akibat dinamika geopolitik.
Akibat dari kegagalan ini, harga penebusan obligasi yang jatuh tempo Mei meningkat dan kupon obligasi lain yang jatuh tempo 2028 naik. Barclays Plc menghitung tambahan biaya kumulatif mencapai 7,5 juta euro atau sekitar US$8,9 juta.
Sementara itu, Accor gagal memenuhi dua target, yakni terkait emisi Scope 1 dan 2 serta Scope 3. Konsekuensinya, kupon obligasi yang jatuh tempo 2028 naik 0,25% untuk dua tahun terakhir, dengan tambahan biaya 1,75 juta euro per tahun.
Wakil Presiden Image and Influence Accor, Line Crieloue, menyatakan kegagalan tersebut terutama dipicu ekspansi di wilayah dengan bauran energi berintensitas karbon tinggi seperti China dan India.
Meski luas portofolio hotel meningkat hampir seperempat pada 2019–2024, intensitas karbon relatif terhadap luas tersebut turun sekitar 15%. Accor juga mempercepat penggunaan energi terbarukan.
Adapun Ampol menerbitkan SLB hibrida yang jatuh tempo pada 2082 dan dapat ditebus pada 2028. Perusahaan mengungkapkan harga penebusan pada 2028 menjadi 101% akibat kinerja terhadap target keberlanjutan 2025. Jika tidak ditebus dan dikonversi menjadi saham, konversi dilakukan dengan diskon 2%.
Adapun emisi di kilang Lytton, Queensland, tercatat 3,5% di atas target karena gangguan operasional terencana dan tidak terencana yang memengaruhi keandalan dan produksi.
Richardson menambahkan, harga obligasi di pasar sekunder kerap lambat mencerminkan kegagalan target, sehingga membuka peluang bagi investor yang jeli. Seiring mekanisme harga semakin efisien, struktur SLB dengan target ambisius dinilai berpotensi memperoleh harga penerbitan yang lebih kompetitif di pasar primer.