Bisnis.com, JAKARTA — Perjalanan hilirisasi nikel Indonesia terus mencari bentuk. Salah satunya mendorong ekosistem industri hilir nikel, melalui fasilitas produksi baterai.
Kabar baik datang dari PT Industri Baterai Indonesia (IBC) yang tengah menggenjot pembangunan pabrik sel baterainya. Pabrik baterai listrik milik IBC yang berkongsi dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) atau CATL dijadwalkan akan siap berproduksi pada Juli mendatang.
Hadirnya pabrik baterai anak usaha perusahaan pelat merah ini, memang menjadi kabar baik sekaligus tantangan tersendiri.
Presiden Direktur IBC Aditya Farhan Arif mengatakan sejumlah tantangan untuk memastikan ikhtiar hilirisasi nikel nasional memberikan manfaat berlipat bagi perekonomian nasional.
Menurutnya, di tengah strategi negara melakukan proteksi ekspor nikel dalam beberapa tahun terakhir, upaya mendorong penguasaan teknologi baterai juga perlu dihadirkan.
Aditya menjelaskan ketika ekspor nikel diperketat, negara-negara lain mengembangkan baterai LFP yang tidak membutuhkan nikel sama sekali, dan kini teknologi itu mendominasi pasar kendaraan listrik global. Padahal teknologi LFP sebenarnya teknologi lama yang sudah ada sejak 1990-an dan kembali dihidupkan oleh China.
"Ketika pihak luar kehilangan akses terhadap bahan baku nikel, mereka mulai mengembangkan substitusi. Kita harus ikut menguasai pengembangan teknologi," katanya, dalam diskusi bersama media, Senin (18/5/2026).
Sejauh ini, menurutnya, proteksi nikel justru memicu respons tak terduga dari pasar global. Saat akses bahan baku diperketat, negara-negara yang bergantung pada nikel Indonesia terus berinovasi.
Merujuk data Gaikindo yang dikutip IBC, dari sekitar 103.000 unit kendaraan listrik roda empat yang terjual di Indonesia sepanjang 2025, hanya sekitar 4% menggunakan baterai berbasis nikel NMC.
Sisanya, atau sekitar 96% merupakan kendaraan dengan baterai LFP, teknologi yang tidak membutuhkan satu gram nikel pun dalam katodanya.
"Indonesia tidak boleh kehilangan momentum nikel pada generasi baterai berikutnya. Ke depan, IBC akan memperkuat kapabilitas pengembangan sodium-ion battery dan solid-state battery," ujarnya.
Ke depan, Aditya memproyeksikan arah pengembangan teknologi yang memperlihatkan nikel tetap memiliki ruang besar di generasi baterai berikutnya.
Misalnya, teknologi katoda paling potensial menjelang 2030 adalah High Voltage NMC (HV NMC) dan sodium-ion battery — keduanya masih melibatkan nikel sebagai komponen kunci.
Di sisi elektrolit, solid-state battery juga mengandalkan nikel dan menjadi prioritas pengembangan utama perusahaan. Aditya mengatakan salah satu arah pengembangan lithium-ion battery sekarang adalah anode-less battery. Pada teknologi ini, anoda terbentuk saat proses charging-discharging.
Merujuk hal tersebut, IBC optimistis penggunaan nikel di baterai akan tetap menjanjikan pada 2035. “Menurut saya mid-to-high nickel battery masih punya potensi besar ke depan," ujar Aditya.
Namun di luar pertarungan chemistry baterai, ada medan persaingan baru yang mulai terbentuk dan tidak boleh dilewatkan Indonesia, yakni daur ulang baterai atau battery recycling.
Daur Ulang Jadi Ancaman?
IEA Executive Director Fatih Birol menjelaskan di era listrik, baterai sudah menjadi pilar ketahanan energi dan daya saing industri.
“Namun nilai penuhnya baru akan terwujud jika negara-negara berhasil membangun sistem sirkular yang kuat di sekitarnya," kata Birol dalam laporan bersama IEA dan European Patent Office (EPO) yang dirilis April 2026. Laporan tersebut memperlihatkan betapa serius dunia memandang isu daur ulang baterai.
Paten terkait battery circularity yang mencakup teknologi recycling, reuse, dan repurposing baterai tercatat tumbuh rata-rata 42% per tahun dari 2017 hingga 2023, jauh melampaui pertumbuhan paten manufaktur baterai isi ulang secara keseluruhan yang hanya 16% pada periode yang sama.
Permintaan feedstock recycling pun akan melonjak drastis. Sekitar 1,2 juta baterai kendaraan listrik diproyeksikan mencapai akhir masa pakainya pada 2030, dan angka itu melonjak menjadi 14 juta unit pada 2040. Yang patut dicermati, menurut IEA adalah dominasi Asia dalam paten battery circularity sudah sangat kuat.
Pemohon paten dari Asia menyumbang 63% dari total international patent families (IPFs) di segmen ini pada 2023. China secara khusus melejit dengan pangsa patennya naik dari hanya 5% pada 2013 menjadi 29% pada 2023, menggeser Toyota dan LG yang sebelumnya memimpin.
Perusahaan yang kini memuncaki daftar pemohon paten battery circularity global adalah Brunp, yang merupakan bagian dari CATL, mitra IBC sendiri di pabrik Karawang.
Melihat hal tersebut, IBC memastikan tidak melewatkan potensi daur ulang baterai. Aditya menegaskan bahwa daur ulang masuk dalam roadmap perusahaan, dengan target fasilitas daur ulang mulai relevan sekitar 2030.
"Karena penetrasi EV baru mulai besar sekitar 2023, sementara umur baterai sekitar 7 tahunan sebelum masuk second life," paparnya.
Dari sisi nilai ekonomis, ia menilai recycling baterai NMC jauh lebih menarik dibanding LFP — satu lagi alasan nikel tetap strategis dalam jangka panjang. Menurutnya, daur ulang secara ekonomis saat ini adalah NMC.
“Karena ada nickel, cobalt, dan lithium yang nilainya tinggi. Kalau LFP, nilai ekonominya lebih rendah karena yang bernilai tinggi utamanya lithium saja," tambahnya.