Bisnis.com, JAKARTA — Penularan hantavirus yang berkaitan dengan tikus tidak ditentukan oleh status hewan tersebut sebagai liar atau peliharaan. Faktor utama justru terletak pada spesies tikus yang menjadi reservoir virus tersebut.
Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), dr. Dominicus Husada, menegaskan bahwa penularan hantavirus tidak ditentukan oleh status tikus apakah liar atau peliharaan. Dia menyebut, literatur ilmiah lebih menitikberatkan pada spesies tikus yang menjadi reservoir virus.
Menurutnya, jenis tikus pembawa hantavirus memiliki variasi bentuk tubuh, mulai dari ukuran kecil hingga ekor yang lebih panjang. Namun, dalam kajian medis, yang menjadi acuan utama tetap identifikasi spesies, bukan asal habitat tikus tersebut.
“Literatur tidak membedakan peliharaan atau tidak. Yang disebutkan itu nama spesiesnya. Ada yang kecil, ada yang berekor panjang, dan sebagainya. Jadi status peliharaan atau liar bukan pembeda utamanya, melainkan spesies tikusnya,” ujarnya dalam pemaparan, Jumat (8/5/2026).
Dr Dominicus juga menjelaskan, untuk jenis hantavirus yang bukan berasal dari Amerika Latin, tikus pembawanya juga ditemukan di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kasus hantavirus juga pernah teridentifikasi di dalam negeri.
Dia menegaskan, hingga saat ini Indonesia belum pernah menemukan varian virus Andes yang berasal dari Amerika Latin. Karena itu, kasus hantavirus yang terjadi di Indonesia sejauh ini dinilai berkaitan dengan paparan tikus yang hidup di lingkungan sekitar masyarakat.
“Untuk varian yang bukan Amerika Latin, tikus itu ada di Indonesia. Itu mengapa kasus Indonesia juga ada. Cuma Andes ini tidak ada di Indonesia, kita belum pernah menemukan virus Andes di Indonesia,” kata Dominicus.
Menurutnya, keberadaan tikus di Indonesia menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama di wilayah padat penduduk dan dengan sanitasi yang kurang baik. Kondisi tersebut membuat risiko paparan virus dari tikus tetap ada, meski tidak selalu menimbulkan kasus dalam jumlah besar.
Dominicus juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan hantavirus dengan leptospirosis, meski keduanya sama-sama melibatkan tikus dalam penularannya. Perbedaannya terletak pada penyebab penyakit yang berasal dari virus dan bakteri.
Hantavirus disebabkan oleh virus, sedangkan leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospirosis. Meski jalur penularannya bisa sama melalui urine tikus, dampak dan perjalanan penyakit yang ditimbulkan berbeda.
Dia menyebut, leptospirosis kerap ditemukan di wilayah seperti Jakarta saat banjir. Pada kondisi berat, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan hati hingga membuat penderita mengalami gejala kuning pada kulit dan mata.
“Leptospira itu bakteri, kalau hantavirus ini virus. Penularannya hampir sama karena melibatkan tikus, tetapi perjalanan penyakitnya berbeda. Kalau leptospira berat, bisa berakhir pada kuning dan gagal hati,” tutur Dominicus.