Bisnis.com, DENPASAR – PT PLN (Persero) memproyeksikan beban puncak listrik Bali saat libur Idulfitri mencapai 1.194 MW dan cadangan daya 257 MW atau sekitar 17,7%.
General Manager PLN UID Bali Eric Rossi Priyo Nugroho menjelaskan daya mampu sistem Bali sebesar 1.451 MW, lebih dari cukup untuk kebutuhan listrik di Provinsi Bali selama Ramadan hingga Idulfitri. Sedangkan sistem Nusa Penida juga dalam kondisi terkendali dengan cadangan daya 14,5%.
PLN UID Bali menetapkan masa siaga 14–29 Maret 2026 dengan pembatasan pekerjaan terencana kecuali dalam kondisi darurat guna menjaga stabilitas sistem.
"Sebanyak 71 posko siaga dengan dukungan 1.103 personel disiapkan, termasuk pengamanan pada 58 masjid prioritas, pelabuhan, bandara, serta lokasi umum yang menjadi pusat aktivitas masyarakat selama Idul Fitri," kata Eric dikutip Rabu (25/2/2026).
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya saat kunjungan kerja meminta selama Ramadan, pelayanan kepada masyarakat harus dioptimalkan. Jangan sampai listrik mati dan mengganggu ibadah.
"Kami ingin mengetahui bagaimana kesiapan PLN, potensi ancaman yang ada, serta hal-hal yang perlu segera diselesaikan,” jelas Patijaya.
Ia juga menyoroti paparan sebelumnya mengenai margin reserve sistem kelistrikan Bali. Menurutnya, sebagai destinasi pariwisata internasional dengan aktivitas ekonomi yang tinggi, Bali memerlukan cadangan daya yang memadai agar tidak rentan terhadap gangguan.
Menanggapi hal tersebut, PLN menjelaskan bahwa margin cadangan sistem bersifat dinamis mengikuti pola beban, jadwal pemeliharaan pembangkit, dan pertumbuhan konsumsi listrik. Dengan cadangan daya saat ini sebesar 17,7%, sistem Bali berada dalam batas aman operasional, disertai evaluasi dan penguatan berkala untuk menjaga stabilitas pasokan.
Melalui penguatan sistem dan pengawasan DPR RI, PLN berupaya memastikan pelayanan kelistrikan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat, khususnya dalam menjaga kelancaran ibadah, aktivitas sosial, serta stabilitas ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri 2026.