Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan keamanan siber dan komputasi cloud, Akamai Technologies, memproyeksikan infrastruktur digital di Asia Pasifik pada 2026 akan didikte oleh serangan siber berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang otonom serta ketatnya regulasi kedaulatan data.
Akamai memperingatkan bahwa strategi pertahanan siber yang lama akan usang mengingat AI mampu memangkas durasi serangan siber dari hitungan minggu menjadi jam, yang memaksa pelaku usaha untuk segera merombak tata kelola risiko dan efisiensi biaya cloud mereka
Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan di Akamai Reuben Koh mengatakan AI secara fundamental mengubah dinamika ekonomi serangan siber di kawasan Asia Pasifik.
Dia berpendapat bahwa para peretas tidak lagi meningkatkan skala serangan melalui tenaga manusia, melainkan lewat otomatisasi.
“Pemimpin tidak dapat mengandalkan pertahanan yang bergantung pada kecepatan manusia dalam lingkungan ancaman yang bergerak dengan kecepatan mesin,” ujar Koh dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).
Laporan Akamai mencatat bahwa pelaku serangan akan memanfaatkan AI generatif dan otonom untuk memindai kelemahan serta meluncurkan serangan dengan keterlibatan manusia yang minimal. Model yang dikendalikan mesin ini mampu memangkas waktu serangan dari hitungan minggu menjadi hanya beberapa jam.
Kondisi ini meningkatkan risiko bisnis secara drastis di pasar digital bernilai tinggi. Negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang disebut sebagai wilayah yang sangat rentan terhadap percepatan model serangan ini.
Selain kecepatan, vektor serangan juga diprediksi bergeser ke arah Application Programming Interface (API). Serangan yang didorong oleh API diperkirakan akan menggeser dominasi serangan berbasis web tradisional seiring tingginya ketergantungan layanan perbankan digital dan ritel terhadap ekosistem tersebut.
Data Akamai menunjukkan lebih dari 80% organisasi di kawasan Asia Pasifik mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir. Ironisnya, hampir dua pertiga di antaranya tidak mengetahui API mana yang mengirimkan data sensitif.
Tahun 2026 juga diprediksi menjadi era demokratisasi penuh ransomware yang berubah menjadi komoditas ekonomi kejahatan siber berskala besar. Sektor kaya data seperti keuangan, kesehatan, dan manufaktur semikonduktor tetap menjadi target bernilai tinggi bagi para pelaku kejahatan.
Konsep kedaulatan digital juga diperkirakan akan beralih fungsi menjadi kedaulatan ekonomi. Organisasi kini memandang portabilitas cloud sebagai langkah mitigasi risiko esensial terhadap ketidakpastian geopolitik, bukan sekadar taktik optimalisasi biaya.
Chief Technology Officer Layanan Komputasi Cloud di Akamai Jay Jenkins mengatakan strategi cloud di Asia sedang bergeser menuju otonomi penuh. India disebut memimpin transformasi ini, disusul oleh Australia yang mulai melakukan uji coba dalam skala besar.
“Para pemimpin ingin memiliki kemampuan untuk memindahkan beban kerja dengan mudah, menerapkan kontrol data yang kuat, dan menjalankan AI di tempat yang paling sesuai,” kata Jenkins.
Akamai juga menyoroti perubahan dalam praktik manajemen keuangan cloud atau FinOps yang akan "bergeser ke kiri". Volatilitas biaya komputasi AI akan memaksa tim teknik untuk mengintegrasikan visibilitas biaya secara real-time sejak fase desain model.
Organisasi yang mengadopsi pendekatan ini dinilai akan memperoleh keunggulan kompetitif. Efisiensi biaya yang terintegrasi sejak awal keputusan arsitektur akan menjadi pembeda utama di tengah persaingan implementasi aplikasi AI.