Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan beberapa tantangan yang akan dihadapi industri dana pensiun (dapen) pada 2026. Salah satunya adalah dinamika pasar keuangan global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono menilai dinamika tersebut berpotensi memengaruhi kinerja investasi.
“Termasuk kemungkinan penurunan imbal hasil seiring perubahan arah suku bunga,” katanya dalam lembar jawaban RDK OJK Februari 2026, dikutip pada Kamis (19/3/2026).
Selain itu, Ogi menyebut tantangan lain terkait dengan penguatan tata kelola dan manajemen risiko, keterbatasan kapasitas pendanaan dari pemberi kerja pada sebagian program pensiun, serta masih terbatasnya literasi dan partisipasi masyarakat dalam program dana pensiun.
Untuk menghadapi tantangan itu, dia mendorong dana pensiun untuk terus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko serta mengoptimalkan strategi investasi secara prudent.
“Serta mendorong inovasi produk dan pemanfaatan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi dan memperluas kepesertaan, termasuk dari sektor informal,” tuturnya.
Tidak sampai di situ, Ogi turut menekankan upaya peningkatan literasi dana pensiun juga menjadi penting untuk memperkuat keberlanjutan sistem pensiun di masa depan.
Sementara itu, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menilai dinamika pasar keuangan global tentu memberikan dampak terhadap kinerja investasi dapen di Indonesia. Misalnya, tingkat Return on Investment (ROI) turun atau volatilitas pasar.
Kendati demikian, humas ADPI Syarifudin Yunus menekankan prinsip investasi dapen lebih kepada kestabilan return jangka panjang, bukan sekadar keuntungan sesaat. Oleh sebab itu, perlu diversifikasi portofolio dan memperkuat manajemen risiko.
“Fluktuasi global boleh ada dalam jangka pendek, tapi tata kelola harus baik dan strategi yang tepat sehingga tetap memberikan kepastian dan ketenangan bagi peserta,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (17/3/2026).
Sebagai informasi, OJK mencatat total aset industri dana pensiun pada Januari 2026 sebesar Rp1.686,11 triliun, tumbuh 11,21% (year on year/YoY). Sementara itu, jumlah peserta mencapai 29,85 juta orang.
Bila dirincikan, total aset program pensiun sukarela mencapai Rp412,29 triliun, tumbuh 7,62% YoY. Nilai iuran naik 22,46% YoY menjadi Rp3,74 triliun. Nilai manfaat senilai Rp3,88 triliun, naik 9,07% YoY. Adapun, jumlah pesertanya 5,42 juta orang.
Sementara itu, total aset program pensiun wajib mencapai Rp1.273,82 triliun, naik 12,42% YoY. Nilai iuran sebesar Rp9,68 triliun, naik 7,29% YoY. Nilai manfaat naik 18,87% YoY menjadi Rp6,82 triliun. Adapun, jumlah peserta sebanyak 24,43 juta orang.