Bisnis.com, JAKARTA - Saat terserang flu dan kondisi tubuh sedang tidak fit, banyak orang memilih langsung mengonsumsi berbagai suplemen dengan harapan bisa cepat sembuh. Namun, benarkah semakin banyak dan semakin tinggi dosis suplemen justru semakin baik?
Mochammad Rizal, ahli gizi sekaligus Ketua Divisi Kebugaran Indonesia Sport Nutritionist Association mengingatkan bahwa ada panduan yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi suplemen agar manfaatnya optimal dan tidak berisiko bagi kesehatan.
"Suplemen bukanlah pengganti makanan, tapi hanya pelengkap, dosis tinggi juga tidak selalu berarti lebih efektif," katanya.
Tetap utamakan makanan sehari-hari yang sehat dan bergizi tinggi, karena suplemen tidak akan memberikan manfaat optimal jika pola makan masih berantakan.
Panduan aman konsumsi suplemen adalah menggunakan dosis sesuai angka kecukupan gizi, kecuali ada indikasi medis dari tenaga kesehatan.
Untuk vitamin C, kebutuhan harian berkisar 90–100 mg. Saat flu, dosis bisa dinaikkan hingga sekitar 200–500 mg per hari.
Konsumsi lebih dari 2.000 mg per hari sebenarnya tidak diperlukan dan justru berisiko menimbulkan gangguan ginjal serta masalah pencernaan.
Rizal juga mengingatkan agar tidak menumpuk atau “stacking” suplemen dari berbagai produk secara bersamaan tanpa disadari, karena dapat meningkatkan risiko kelebihan dosis.
"Kadang ada orang yang konsumsi vitamin C dari 3 produk berbeda, mulai dari suplemen cair, tablet, gummy, permen, padahal satu jenis saja cukup," ujarnya.
Lebih lanjut, dia juga menyoroti bahaya konsumsi suplemen dosis tinggi dalam jangka panjang.
Misalnya Vitamin B dan vitamin C yang termasuk vitamin larut air. Artinya, ketika dikonsumsi melebihi kebutuhan harian, kelebihannya tidak disimpan di dalam tubuh, melainkan akan langsung dikeluarkan melalui ginjal dan dibuang bersama urine.
Vitamin B dan Vitamin C relatif lebih aman jika sesekali dikonsumsi dalam dosis lebih tinggi. Jika dikonsumsi setiap hari dan dalam dosis tinggi maka bisa menimbulkan efek samping seperti gangguan pencernaan atau membebani ginjal.
Sementara vitamin A, D, dan E serta mineral seperti zinc bersifat larut lemak. Zat gizi ini tidak langsung dibuang ketika dikonsumsi berlebihan, melainkan akan disimpan di dalam tubuh, terutama di hati.
Jika dikonsumsi dalam dosis tinggi secara terus-menerus, penumpukan ini dapat membuat hati bekerja lebih keras untuk menetralisir dan mengolah kelebihan zat tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari gangguan fungsi hati hingga efek toksik tertentu.
Terakhir, Rizal menekankan bahwa kebiasaan makan yang baik, tidur yang cukup, dan aktivitas fisik yang konsisten jauh lebih penting dalam menjaga imunitas tubuh dibandingkan hanya mengandalkan suplemen, terutama jika pola hidup sehari-hari masih tidak teratur.