Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia (XAU/USD) mengalami tekanan teknikal pada perdagangan awal pekan ini setelah sebelumnya berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high.
Meski mengalami koreksi, instrumen aset aman atau safe haven tersebut dinilai masih berada dalam jalur tren penguatan jangka panjang yang solid.
Berdasarkan data Senin (29/12/2025) sesi Asia, emas diperdagangkan di kisaran US$4.470 per troy ounce. Posisi ini melemah tipis setelah menyentuh level tertinggi mendekati US$4.526 per troy ounce pada pekan lalu. Penurunan likuiditas menjelang libur akhir tahun turut memperlebar volatilitas harga.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai pelemahan saat ini lebih didominasi aksi ambil untung jangka pendek oleh para investor. Adapun, secara teknikal, pergerakan emas masih menunjukkan pola uptrend yang kuat.
“Selama harga emas mampu bertahan di atas zona support utama, dominasi tekanan beli masih relatif terjaga,” ucapnya dalam keterangan tertulis.
Dia menambahkan bahwa koreksi yang terjadi saat ini merupakan hal yang wajar secara teknikal. Hal tersebut mengingat kenaikan harga emas yang berlangsung cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir.
Secara harian, jika momentum beli kembali menguat, emas berpeluang menuju area resisten US$4.575 sebagai target terdekat. Sebaliknya, level US$4.470 akan berfungsi sebagai zona support jangka untuk menahan tekanan jual lebih lanjut.
Secara fundamental, reli emas sepanjang 2025 mencatat sejarah baru dengan lonjakan lebih dari 70% sejak awal tahun. Hal ini menempatkan emas pada jalur performa tahunan terbaiknya dalam empat dekade terakhir, atau sejak 1979.
Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik global, risiko resesi, serta derasnya aliran dana institusional. Selain itu, kebijakan moneter The Fed yang cenderung melonggar menjadi katalis utama.
“Lingkungan suku bunga rendah ini meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil,” ucap Andy.
Pelemahan dolar AS akibat kebijakan perdagangan proteksionis Presiden AS Donald Trump turut memberikan napas bagi penguatan emas.
Meski data ekonomi AS menunjukkan sinyal beragam dengan pertumbuhan PDB kuartal III/2025 yang solid di angka 4,3%, tetapi klaim pengangguran berkelanjutan meningkat sehingga emas menjadi pilihan utama lindung nilai.
Memasuki penghujung tahun, emas diprediksi akan bergerak dalam fase konsolidasi karena terbatasnya katalis baru. Namun, Andy optimistis bahwa prospek reli emas masih akan terbuka lebar hingga 2026 selama ketidakpastian global dan kebijakan moneter longgar tetap mendominasi pasar.
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual emas. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.