Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja ekspor Jepang masih mampu mencatatkan pertumbuhan sepanjang 2025 di tengah gejolak kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.
Data Kementerian Keuangan Jepang yang dilansir dari Bloomberg pada Kamis (22/1/2026) mencatat, total ekspor Jepang tumbuh 3,1% secara tahunan pada 2025, ditopang oleh peningkatan ekspor komponen elektronik dan produk makanan.
Namun, pengiriman ke AS justru turun 4,1%, terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor mobil dan mesin pembuat semikonduktor. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak 2016, di luar periode pandemi.
Sementara itu, ekspor ke Eropa serta Asia di luar China masih menunjukkan kinerja solid. Adapun pengiriman ke China tercatat turun tipis 0,4% sepanjang tahun lalu.
Secara bulanan, ekspor Jepang meningkat untuk bulan keempat berturut-turut pada Desember, seiring permintaan dari China yang relatif stabil meskipun kedua negara tengah terlibat sengketa diplomatik sejak tahun lalu. Namun, pengiriman ke AS kembali melemah, dipimpin oleh penurunan ekspor mobil.
“Secara keseluruhan ekspor memang tumbuh, dipimpin oleh semikonduktor, tetapi saya menilai pertumbuhan ini belum tentu berkelanjutan. Risiko geopolitik meningkat, dan konsumsi di AS juga diperkirakan melambat," ujar Kepala Ekonom Norinchukin Research Institute Takeshi Minami.
Data perdagangan tersebut mencerminkan kondisi yang beragam dan mengindikasikan adanya risiko ke depan. Kendati demikian, situasi ini diperkirakan tidak akan mengubah arah kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang masih berada di jalur kenaikan suku bunga secara bertahap.
BOJ secara luas diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya pada Jumat (23/1/2026), setelah menaikkan suku bunga pada Desember lalu. Bank sentral menegaskan akan terus menaikkan suku bunga selama inflasi dan pertumbuhan ekonomi berjalan sesuai proyeksi.
Jepang juga masih mencatatkan surplus perdagangan dengan AS pada 2025, meskipun Trump gencar mengampanyekan penyeimbangan neraca dagang melalui tarif. Tokyo membukukan surplus ¥7,52 triliun atau sekitar US$47,5 miliar terhadap AS, meskipun angka tersebut menyusut 12,6% dibandingkan surplus pada 2024.
Tahun lalu, Jepang berhasil memperoleh penurunan tarif mobil AS setelah melalui negosiasi perdagangan selama berbulan-bulan, serta menghindari ancaman tarif yang lebih tinggi pada produk lain dengan berkomitmen meningkatkan investasi di AS. Namun, Trump masih memiliki kewenangan untuk kembali menaikkan tarif apabila Jepang gagal merealisasikan proyek investasi yang diinginkannya.
“Masih ada kemungkinan Trump memberlakukan kebijakan tarif baru atau kebijakan nilai tukar terhadap Jepang,” kata Minami, mengingat kesenjangan neraca perdagangan kedua negara masih bertahan.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada November lalu menyatakan bahwa perdagangan barang global melambat dalam tiga bulan hingga September, setelah dorongan pada awal 2025 akibat percepatan pesanan menjelang penerapan tarif AS mulai memudar. Indeks barometer perdagangan barang WTO turun menjadi 101,8 pada September dari 102,2 pada Juni.
“Ekspor ke AS sempat kuat pada Oktober dan November, tetapi itu lebih merupakan pemulihan sementara pascakebijakan tarif, dan dampaknya kini telah berakhir. Penjualan mobil di AS pada dasarnya juga tidak terlalu kuat," ujar Minami.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Jepang pada 2025 masih mencatatkan defisit sebesar ¥2,65 triliun, terutama disebabkan oleh perdagangan dengan China. China tetap menjadi mitra dagang terbesar Jepang, disusul AS. Jepang membukukan defisit perdagangan sebesar 7,91 triliun yen dengan Beijing.
Keberlanjutan perdagangan Jepang dengan China menjadi perhatian utama sejak sengketa diplomatik muncul tahun lalu, menyusul pernyataan kontroversial Perdana Menteri Sanae Takaichi terkait Taiwan pada November.
Pada Januari, China mengumumkan pembatasan ekspor baru untuk barang-barang penggunaan ganda (dual-use) serta penyelidikan antidumping terhadap material penting industri semikonduktor. Peringatan perjalanan dari pemerintah juga menyebabkan penurunan jumlah wisatawan China ke Jepang.
Pada Desember, total ekspor Jepang tumbuh 5,1% secara tahunan, ditopang permintaan dari Eropa dan Asia termasuk China. Namun, capaian tersebut masih di bawah proyeksi median analis sebesar 6,1%, dengan ekspor ke AS anjlok 11,1%.
“Saya tidak berpikir China mampu merusak hubungannya dengan Jepang. Langkah itu justru akan memperburuk kondisi ketenagakerjaan domestik dan meningkatkan kritik terhadap pemerintah China,” tutup Minami.