Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah tantangan akan dihadapi industri dana pensiun (dapen) di kala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan aset tumbuh 10%—12% year-on-year (YoY) pada 2026.
Dana Pensiun Lembaga Keuangan atau DPLK Avrist mengungkap setidaknya ada tiga tantangan yang perlu dihadapi industri pada 2026 ini.
“Di balik outlook yang positif, kami menyadari masih terdapat sejumlah tantangan struktural seperti tingkat literasi pensiun yang belum merata, volatilitas pasar keuangan global, serta perubahan pola kerja yang memengaruhi stabilitas iuran jangka panjang,” beber Ketua Pengurus DPLK Avrist Firmansyah kepada Bisnis, Senin (9/2/2026).
Untuk menghadapi hal itu, Firmansyah mengatakan pihaknya terus menempatkan edukasi sebagai agenda strategis, memperkuat manajemen risiko investasi.
“Dan meningkatkan fleksibilitas produk dengan selalu menentukan target pasar tepat dari waktu ke waktu dan layanan agar tetap relevan dengan dinamika kebutuhan peserta,” sebutnya.
Untuk diketahui, sepanjang 2025 aset kelolaan dana pensiun DPLK Avrist mencapai Rp1,32 triliun, tumbuh 9,26% YoY. Sementara itu, untuk 2026 perusahaan menargetkan pertumbuhan aset kelolaan sebesar 12,42%.
Untuk mencapai hal itu, Firmansyah membeberkan DPLK Avrist akan fokus pada penguatan distribusi berbasis kolaborasi, pendekatan konsultatif bagi peserta korporasi, dan pengembangan solusi pensiun yang lebih personal bagi individu.
Selain itu, lanjutnya, perusahaan terus mempercepat transformasi digital untuk memudahkan akses, onboarding, dan pengelolaan kepesertaan, sekaligus memperkuat engagement jangka panjang.
“Dari sisi investasi, kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan diversifikasi portofolio yang optimal untuk menjaga stabilitas hasil pengelolaan dana. Menyediakan layanan kepesertaan dengan kualitas yang tinggi dan keterbukaan untuk bisa terus memberikan kepercayaan masyarakat,” jelasnya.
Lebih jauh, dia mengatakan DPLK Avrist melihat pekerja informal dan generasi muda sebagai segmen yang penting untuk pertumbuhan aset dapen ke depannya. Menurutnya, segmen ini memiliki potensi kontribusi jangka panjang yang sangat besar, terutama jika didukung oleh solusi pensiun yang fleksibel, terjangkau, dan mudah diakses.
“Melalui pendekatan digital dan edukasi yang lebih adaptif, perusahaan berupaya mendorong generasi muda untuk memulai perencanaan pensiun sejak dini, sekaligus membuka akses lebih mudah bagi pekerja informal agar dapat berpartisipasi menjadi peserta dana pensiun secara berkelanjutan sesuai dengan kemampuan finansial mereka,” pungkasnya.