Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) dilaporkan menyelundupkan sekitar 6.000 terminal Starlink ke Iran, di tengah tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang demonstrasi yang terjadi bulan lalu.
Penyelundupan ribuan terminal tersebut terjadi pada Januari, bertepatan dengan keputusan rezim Iran untuk memutus layanan internet di hampir seluruh wilayah negara itu. Pemadaman internet tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya untuk menekan protes anti pemerintah yang semakin meluas.
Situasi di Iran dilaporkan memanas, ribuan warga turun ke jalan memprotes kemerosotan ekonomi serta nilai mata uang yang terus merosot tajam. Di tengah kondisi tersebut, pengiriman sekitar 6.000 terminal Starlink oleh AS disebut sebagai langkah langsung dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk membuka akses internet bagi para demonstran dan aktivis yang terdampak pembatasan.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal yang dikutip oleh The Jerusalem Post pada Minggu (15/2/2026), hampir 7.000 terminal dibeli oleh Departemen Luar Negeri AS pada Januari. Pembelian itu menggunakan dana yang dialihkan dari program kebebasan internet lainnya, dengan tujuan membantu aktivis anti rezim mengatasi pemutusan akses internet di Iran.
Selain pengadaan terminal Starlink, pemerintah AS juga mendanai penggunaan jaringan pribadi virtual (VPN) guna memperluas akses internet tanpa sensor bagi masyarakat Iran, meskipun pemerintah setempat melakukan pemadaman jaringan.
Di internal pemerintahan AS sendiri disebutkan terjadi perdebatan mengenai efektivitas penggunaan Starlink dibandingkan VPN. Tanpa perlindungan tambahan seperti VPN, penggunaan Starlink dinilai berpotensi memudahkan otoritas Iran melacak lokasi pengguna. Sementara itu, VPN dianggap lebih mudah diakses dan lebih hemat biaya sehingga dapat menjangkau lebih banyak warga.
Langkah penyelundupan Starlink ini dilaporkan telah diketahui oleh Presiden AS Donald Trump. Namun, belum ada kepastian apakah dia secara langsung menyetujui kebijakan tersebut.
Pada awal Januari bertepatan dengan dimulainya pemadaman internet di Iran, Trump dan CEO SpaceX Elon Musk dilaporkan berdiskusi mengenai peningkatan penggunaan Starlink di negara tersebut.
Dilaporkan oleh The Independent kepemilikan terminal Starlink di Iran merupakan tindakan ilegal dan dapat berujung hukuman penjara bertahun-tahun. Meski Elon Musk disebut telah menghapus biaya langganan bulanan bagi pengguna di Iran setelah pemerintah setempat memperketat pembatasan internet.
Di sisi lain, Washington dan Teheran masih terlibat dalam pembicaraan tingkat tinggi terkait program nuklir Iran. Presiden Trump sebelumnya mengancam akan melakukan serangan jika tidak tercapai kesepakatan baru, sementara Teheran menyatakan siap memberikan respons jika mendapat tekanan militer.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, terutama dengan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pada Rabu lalu menegaskan bahwa negaranya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan terbuka terhadap mekanisme verifikasi internasional.
Dalam pidato peringatan 47 tahun berdirinya Republik Islam, Masoud menyampaikan bahwa ketidakpercayaan yang terbangun antara Iran dengan AS dan Eropa menjadi hambatan dalam perundingan. Namun demikian, Dia menegaskan Iran tetap berkomitmen melanjutkan dialog demi menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan bersama negara-negara tetangga.
Sementara itu, Iran menuding Israel berupaya menggagalkan proses negosiasi menyusul pertemuan Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pemimpin Israel tersebut dilaporkan mendorong AS untuk menetapkan persyaratan yang sangat ketat dalam setiap kesepakatan nuklir dengan Teheran. (Nur Amalina)