Bisnis.com, BANDA ACEH — Israel melaporkan kasus hantavirus pertama setelah seorang pasien dinyatakan terinfeksi usai mengalami gejala penyakit tersebut dan diduga terpapar saat berada di Eropa Timur beberapa bulan sebelumnya.
The Jerusalem Post melaporkan kasus itu terkonfirmasi melalui pemeriksaan antibodi dan tes PCR yang mendeteksi materi genetik virus. Sementara itu, WHO menyebut perhatian global terhadap hantavirus meningkat setelah muncul klaster penyakit pernapasan berat di kapal pesiar berbendera Belanda yang terkait dengan virus Andes.
“Risiko terhadap masyarakat umum tetap rendah, dan tidak ada bukti virus menyebar melalui kontak sehari-hari,” menurut keterangan WHO, dikutip Sabtu (9/5/2026).
The Jerusalem Post melaporkan detail mengenai pasien, tempat tinggal, serta pusat medis tempat diagnosis dilakukan belum dapat dipublikasikan. Pasien itu menjalani tes antibodi setelah gejala muncul, dengan hasil menunjukkan adanya paparan hantavirus.
Tes PCR kemudian dilakukan untuk mendeteksi materi genetik virus dan memastikan infeksi tersebut. Pasien tersebut berada dalam kondisi stabil, tidak membutuhkan perawatan intensif atau isolasi ketat, tetapi tetap berada dalam pemantauan medis.
Kasus tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Kesehatan Israel. Meski tidak biasa ditemukan di Israel, ini bukan pertama kalinya warga Israel didiagnosis hantavirus.
Sekitar satu dekade lalu, beberapa warga Israel diduga terinfeksi virus tersebut saat bepergian di Amerika Selatan. Namun, pasien Israel kali ini terinfeksi galur virus dari Eropa, berbeda dengan galur Andes dari Amerika Selatan yang kini menjadi perhatian internasional dalam wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Perbedaan galur itu dinilai penting. Hanya ada sedikit kasus terdokumentasi terkait penularan antarmanusia pada galur Andes yang lebih berbahaya dan lebih dikenal, sedangkan sebagian besar galur hantavirus lain di dunia terutama menular dari hewan pengerat kepada manusia.
Galur Andes berasal dari Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chile. Galur itu unik karena dalam kasus yang jarang terjadi dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.
WHO melaporkan klaster penumpang dengan penyakit pernapasan berat di kapal pesiar dilaporkan kepada WHO pada 2 Mei 2026. Saat itu, terdapat 147 penumpang dan awak di kapal, sementara 34 penumpang dan awak sebelumnya telah turun dari kapal.
Hingga 8 Mei terdapat total delapan kasus, termasuk tiga kematian, dengan rasio fatalitas kasus 38%. Dari jumlah tersebut, enam kasus telah terkonfirmasi laboratorium sebagai infeksi hantavirus dan seluruhnya diidentifikasi sebagai virus Andes.
WHO menyatakan risiko terhadap populasi global akibat kejadian ini rendah, tetapi risiko bagi penumpang dan awak kapal dinilai sedang. Penanganan wabah dilakukan melalui respons internasional terkoordinasi, termasuk investigasi epidemiologi, isolasi kasus, penanganan klinis, evakuasi medis, pengujian laboratorium, serta pelacakan kontak.
Tes antibodi dapat menunjukkan paparan terhadap virus, sedangkan tes molekuler seperti PCR dapat mendeteksi materi genetik virus.
Belum ada pengobatan antivirus yang terbukti secara khusus untuk sebagian besar kasus hantavirus.
Karena itu, perawatan terutama bersifat suportif, mulai dari pemantauan medis, pemberian cairan secara hati-hati, oksigen bila diperlukan, penanganan tekanan darah rendah, dukungan fungsi ginjal, hingga perawatan intensif dan ventilasi mekanis pada kasus berat.
Pencegahan menjadi cara paling penting untuk mengurangi risiko. Upayanya meliputi menjauhkan hewan pengerat, menutup celah masuk, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menghindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan vakum karena dapat melepaskan partikel terinfeksi ke udara.