Bisnis.com, JAKARTA - Generasi masa kini banyak yang memperjuangkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Namun, hal ini tampaknya tak berlaku bagi orang terkaya di dunia, Elon Musk.
Elon Musk pernah mengungkapkan bahwa dia bekerja 120 jam seminggu, sekitar 17 jam sehari, sambil memimpin Tesla dan SpaceX melewati masa-masa sulit.
Dia juga sering menghabiskan malam di kantor, mandi di YMCA di awal kariernya, dan kemudian tidur di lantai pabrik untuk mengawasi produksi.
Dilansir Business Insider, bagi Musk, tingkat komitmen yang ekstrem ini bukanlah pengecualian, melainkan sebuah ekspektasi.
Ketika ia mengambil alih X pada tahun 2022, Musk berpesan kepada para karyawannya untuk "mendedikasikan hidup mereka untuk bekerja atau meninggalkan perusahaan".
Bagi Musk, bekerja jarak jauh juga dinilai "salah secara moral," dan gagasan keseimbangan kehidupan kerja hampir tidak relevan. Pandangan ini juga dianut oleh beberapa pemimpin bisnis paling sukses di dunia, yang memandang ambisi dan keseimbangan sebagai sesuatu yang pada dasarnya bertentangan.
Konsep work-life balance atau keseimbangan kerja-kehidupan telah lama dianggap sebagai sebuah ideal, sebuah keseimbangan yang stabil antara ambisi profesional dan kepuasan pribadi.
Namun, bagi banyak orang yang duduk di puncak, hal itu hanyalah mitos. Pengusaha miliarder Mark Cuban misalnya, mengungkapkannya secara blak-blakan di The Playbook, sebuah seri karya Sports Illustrated dan Entrepreneur bahwa "Tidak ada keseimbangan."
Cuban mengatakan bahwa meskipun mereka yang mencari karier standar dari jam 9 hingga 5 dapat menemukan keseimbangan, mereka yang sangat ambisius tidak dapat menemukannya.
"Jika Anda ingin menaklukkan dunia, apa pun bidang yang Anda geluti, ada seseorang yang bekerja 24 jam sehari untuk mengalahkan Anda,” ujarnya.
Pandangannya mencerminkan sentimen yang umum di kalangan pendiri dan investor yang meyakini bahwa keseimbangan sering kali harus mengorbankan dominasi.
Pendiri Amazon, Jeff Bezos, juga menolak definisi tradisional tentang keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi. Dalam sebuah acara tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Axel Springer, ia menggambarkan konsep tersebut sebagai "melemahkan" karena menyiratkan adanya kompromi.
Sebaliknya, ia memperjuangkan apa yang disebutnya "harmoni kerja-kehidupan".
Bagi Bezos, pekerjaan dan kehidupan bukanlah kekuatan yang saling bertentangan, melainkan energi yang saling terhubung.
"Jika saya bahagia di rumah, saya juga akan datang ke kantor dengan energi yang luar biasa. Jika saya bahagia di tempat kerja, saya juga akan pulang dengan energi yang luar biasa. Ini bukan keseimbangan, melainkan sebuah lingkaran, di mana kepuasan pribadi dan hasil kerja profesional saling melengkapi," ujarnya.
CEO Microsoft, Satya Nadella, juga menyuarakan gagasan serupa. Dalam sebuah wawancara dengan Australian Financial Review pada tahun 2019, Nadella mengatakan bahwa awal kariernya didorong oleh kebutuhan untuk memisahkan waktu istirahat dari pekerjaan.
Seiring waktu, ia menyadari bahwa kuncinya bukanlah keseimbangan, melainkan keselarasan, yang mengintegrasikan "minat mendalam" seseorang dengan pengejaran profesional mereka.
Budaya Kerja Berlebihan
Di China, gagasan work-life balance ini telah diresmikan bahkan diatur oleh hukum. Salah satu pendiri Alibaba, Jack Ma, terkenal memperjuangkan budaya kerja "996", yang berarti bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari seminggu.
Pada tahun 2019, Ma menyebutnya sebagai "berkah besar" bagi pekerja muda. "Jika Anda tidak bekerja 996 saat muda, kapan lagi Anda bisa bekerja 996?" tanya Ma saat itu. Bagi Ma, kerja sesuai gairah atau passion bisa menjadi pendorong.
"Jika Anda menemukan pekerjaan yang Anda sukai, kerja 996 tidak akan menjadi masalah," ujarnya.
Namun, Mahkamah Agung China kemudian menyatakan praktik tersebut ilegal pada tahun 2021, menyusul meluasnya kelelahan dan protes di kalangan karyawan muda.
Meskipun demikian, etos 996 terus memengaruhi kehidupan korporat di beberapa wilayah Asia, sebuah bukti betapa kuatnya ideal kerja berlebihan tetap tertanam dalam upaya meraih kesuksesan.
Di berbagai benua dan industri, para pemimpin ini juga memiliki keyakinan yang sama, yaitu bahwa mengejar kesuksesan luar biasa menuntut pengorbanan yang luar biasa.
Entah itu malam-malam tanpa tidur ala Elon Musk, harmoni sirkular Jeff Bezos, atau hari kerja 12 jam ala Jack Ma, filosofi mereka mendefinisikan ulang arti kerja keras.
Namun, seiring garis antara pekerjaan dan kehidupan semakin kabur, pertanyaannya tetap soal biayanya. Apakah industri siap membayar mereka yang bekerja keras dengan harga yang pantas?