Bisnis.com, JAKARTA - Timor Leste telah resmi menjadi anggota ke-11 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang dideklarasikan pada 26 Oktober 2025 di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-47 yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Selain negaranya yang masuk dalam negara ASEAN, pemimpinnya juga menjadi sorotan di media sosial. Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao menunjukkan sikap yang lucu dan nyeleneh saat berinteraksi dengan para pimpinan negara-negara lainnya, bahkan para wartawan.
Di media sosial, ramai sebuah video Xanana menunjukkan sisi manisnya, dia membagikan permen dan jajanan kepada para wartawan sambil berkelakar di karpet merah.
Sosok Xanana Gusmao
Xanana Gusmao merupakan pria kelahiran 20 Juni 1946, di Manatulo, Timor Leste dengan nama lengkap Jose Alexandre Gusmao. Dia adalah seorang pemimpin kemerdekaan dan politikus Timor Leste yang menjabat sebagai presiden pertama mulai 2002 hingga 2007, dan sebagai perdana menteri sejak 2007– 2015 dan 2023 hingga sekarang.
Gusmao merupakan putra seorang guru sekolah, bersekolah di SMA di Dili, Timor Leste, yang saat itu merupakan wilayah jajahan Portugis, dan kemudian masuk seminari Jesuit di Dare, dekat kota itu.
Dia sempat bertugas selama tiga tahun di angkatan bersenjata kolonial dan bekerja sebagai surveyor dan menjadi guru.
Pada Agustus 1975, setelah upaya kudeta oleh Uni Demokratik Timor (União Democrática Timorense) yang berhaluan nasionalis berhasil ditumpas oleh kelompok pesaingnya, Fretilin (Frente Revolucionária do Timor-Leste Independente [Front Revolusioner untuk Timor Timur yang Merdeka]), para administrator Portugis meninggalkan Timor Leste. Untuk waktu yang singkat setelah itu, Gusmao, seorang anggota Fretilin, membantu mengelola wilayah tersebut.
Indonesia sempat mencoba mencaplok Timor Leste pada bulan Desember 1975 dan untuk dijadikan sebagai provinsi. Kala itu, Gusmao kemudian menjadi garda terdepan gerakan perlawanan terhadap kehadiran Indonesia, menjadi pimpinan Falintil (Forças Armadas de Liberação Nacional de Timor-Leste [Angkatan Bersenjata untuk Pembebasan Nasional Timor Timur]), sebuah kelompok revolusioner yang beroperasi dari tempat persembunyian di pegunungan.
Pada tahun 1992 Gusmao sempat ditangkap oleh pasukan Indonesia, dan tahun berikutnya dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena berkomplot melawan pemerintah Indonesia dan karena kepemilikan senjata ilegal.
Hukuman itu kemudian dipersingkat menjadi 20 tahun, dan, sebagai bagian dari penyelesaian yang ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia kemudian dibebaskan ke tahanan rumah pada bulan Februari 1999.
Bersama dengan para pemimpin perlawanan José Ramos-Horta dan Uskup Carlos Belo, mereka bersama-sama berbagi Hadiah Nobel Perdamaian 1996. Gusmao mengambil bagian dalam pembicaraan dengan pemerintah Indonesia, dan gencatan senjata ditetapkan pada tanggal 18 Juni 1999.
Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur berpartisipasi dalam referendum untuk memilih antara otonomi di dalam Indonesia dan kemerdekaan. Dengan mayoritas suara yang luar biasa, rakyat memilih kemerdekaan, dan Indonesia mulai menarik pasukannya.
Pada tanggal 25 Oktober 1999, Dewan Keamanan PBB membentuk pemerintahan transisi, UNTAET (Administrasi Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Timor Timur).
Gusmao kemudian ditunjuk sebagai presiden Dewan Nasional Perlawanan Timor (Conselho Nacional de Resistência Timorense; CNRT), dan menduduki jabatan senior di UNTAET.
Pada April 2002, Timor Leste menyelenggarakan pemilihan presiden, dan Gusmao menang dengan mudah. Dia menjabat pada 20 Mei, ketika Timor Leste resmi merdeka. Sebagai presiden, dia mengawasi penerimaan negara tersebut ke dalam PBB pada 2002 dan ASEAN pada 2005. Dia juga berupaya mengembangkan perekonomian Timor Leste, yang sangat bergantung pada industri perminyakan.
Pada 2006, dia menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Mari Alkatiri, yang diduga telah memerintahkan intimidasi dan pembunuhan terhadap lawan-lawan politiknya. Tuduhan tersebut memicu protes massa, dan Alkatiri mengundurkan diri pada Juni 2006.
Di periode selanjutnya, Gusmao memilih untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden untuk masa jabatan kedua, melainkan memilih untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri.
Dalam pemilihan umum legislatif Juni 2007, CNRT, yang berganti nama (dengan akronim yang sama) menjadi Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor (Congresso Nacional de Reconstrução do Timor), menempati posisi kedua di belakang Fretilin, yang gagal meraih suara mayoritas.
Gusmao kemudian mengatur pembentukan koalisi pemerintahan yang dipimpin oleh partainya, dan Presiden José Ramos-Horta mengangkatnya sebagai perdana menteri.
Gusmao dilantik pada 8 Agustus 2007, yang diwarnai oleh kerusuhan selama dua hari di Dili.
Perekonomian Timor Leste tumbuh signifikan selama masa jabatan pertamanya sebagai perdana menteri, tetapi banyak warga negaranya tetap hidup dalam kemiskinan.
CNRT memenangkan mayoritas kursi dalam pemilihan parlemen 2012, dan Gusmao kembali untuk masa jabatan kedua sebagai perdana menteri dari pemerintahan koalisi yang berbeda.
Namun, pada 2014, dia mengumumkan niatnya untuk pensiun. Gusmao meninggalkan jabatannya pada 16 Februari 2015, digantikan oleh Rui Maria de Araújo dari Fretilin, yang mengangkat Gusmao sebagai menteri perencanaan dan pembangunan strategis.
Kemudian Gusmao kembali ditunjuk menjadi Perdana Menteri Timor Leste pada 2023 dan masih menjabat hingga sekarang.