Bisnis.com, CIREBON - Kinerja sektor akomodasi di Kabupaten Garut menunjukkan perbaikan pada triwulan I 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan nonbintang pada Maret 2026 tercatat 24,99%, naik 5,71 poin dibanding Februari yang sebesar 19,28%.
Kepala BPS Kabupaten Garut Sidik Edi Sutopo mengatakan kenaikan ini tidak terlepas dari meningkatnya mobilitas wisatawan domestik pada periode libur Hari Raya Idulfitri.
"Maret bertepatan dengan Lebaran, sehingga permintaan akomodasi meningkat. Ini tercermin dari kenaikan TPK baik di hotel bintang maupun nonbintang," ujar Sidik, Rabu (6/5/2026).
Secara rinci, TPK hotel bintang pada Maret 2026 mencapai 37,09%, naik 9,98 poin dibanding Februari yang sebesar 27,11%. Sementara itu, TPK hotel nonbintang meningkat 4,91 poin, dari 17,83% pada Februari menjadi 22,71% pada Maret.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, perbaikan kinerja juga terlihat. TPK gabungan hotel bintang dan nonbintang pada Maret 2026 naik 11,75 poin dari 13,24% pada Maret 2025 menjadi 24,99%.
Kenaikan tahunan ini menunjukkan adanya pemulihan aktivitas wisata, meski level hunian masih berada di bawah separuh kapasitas.
Sidik menegaskan, capaian tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena bersifat musiman. "Lonjakan pada Maret dipengaruhi faktor kalender, khususnya libur panjang. Tantangannya adalah menjaga agar tren ini berlanjut di luar periode puncak," kata dia.
Di sisi lain, indikator lama menginap belum menunjukkan penguatan. Rata-rata lama menginap tamu di Kabupaten Garut pada Maret 2026 tercatat 1,05 malam, sedikit turun dibanding Februari yang sebesar 1,06 malam.
Tamu hotel bintang rata-rata menginap 1,14 malam, lebih lama dibanding tamu hotel nonbintang yang sebesar 1,02 malam.
Pendeknya durasi tinggal mengindikasikan pola kunjungan yang masih didominasi perjalanan singkat. Kondisi ini berimplikasi pada terbatasnya perputaran ekonomi lokal, karena pengeluaran wisatawan cenderung lebih kecil dibanding kunjungan dengan masa tinggal lebih panjang.
Meski demikian, peningkatan TPK pada Maret memberi sinyal bahwa Garut tetap menjadi salah satu tujuan wisata pilihan di Jawa Barat.
Kombinasi daya tarik alam, kedekatan geografis dengan pusat permukiman, serta momentum libur panjang menjadi faktor pendorong utama.
Ke depan, pelaku usaha perhotelan dihadapkan pada kebutuhan untuk meningkatkan kualitas layanan dan diferensiasi produk agar mampu menarik wisatawan tinggal lebih lama. Tanpa upaya tersebut, peningkatan kunjungan berisiko hanya berdampak jangka pendek.
"Data menunjukkan permintaan ada, tetapi durasi tinggal masih pendek. Ini menjadi catatan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Sidik.