Bisnis.com, JAKARTA — Negara-negara di Asia dan Eropa telah melakukan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz jauh sebelum Indonesia memutuskan untuk melakukan seleksi pada tahun ini. Vietnam, Malaysia, hingga India mengoptimalkan pita tersebut untuk mendorong penetrasi internet yang makin merata.
Diketahui, pita frekuensi rendah 700 MHz sering dijuluki sebagai "pita emas" karena karakteristik fisiknya yang sangat efisien untuk jangkauan luas. Gelombang pada frekuensi 700 MHz juga memiliki kemampuan menembus hambatan fisik seperti tembok beton, gedung perkantoran, dan pepohonan dengan sangat baik. Ini menjadikannya solusi utama untuk kualitas sinyal di dalam ruangan (indoor coverage).
Sementara itu frekuensi menengah 2,6 GHz merupakan tulang punggung bagi pengembangan teknologi 5G yang membutuhkan kapasitas data besar.
Berikut rekam jejak negara-negara yang telah menggelar lelang frekuensi pada masing-masing pita:
Vietnam
Vietnam telah menggelar lelang frekuensi rendah yang dimenangkan oleh raksasa telekomunikasi, Viettel Group. Dalam lelang tersebut, Viettel mengajukan penawaran hampir US$78,4 juta atau sekitar Rp1,34 triliun untuk masa berlaku 15 tahun. Angka ini dinilai sejalan dengan rata-rata harga global untuk hak spektrum serupa di pita frekuensi rendah.
Malaysia
Berbeda dengan sistem lelang konvensional, Malaysia melalui Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC) menerapkan strategi alokasi spektrum yang unik. Pemerintah mengidentifikasi empat pita utama untuk layanan 5G, yakni 700 MHz, 3,5 GHz, 26 GHz, dan 28 GHz.
Untuk pita 700 MHz dan 3,5 GHz, lisensi tidak akan dilelang secara individu melainkan diberikan kepada konsorsium yang dibentuk oleh berbagai pemain industri. Strategi ini bertujuan untuk meminimalkan belanja modal (CAPEX) melalui berbagai infrastruktur secara efisien.
MCMC juga menerapkan proses tender atau beauty contest untuk lisensi di pita 24,9 Ghz hingga 26,5 GHz. Proses beauty contest digunakan untuk memastikan alokasi spektrum jatuh ke tangan perusahaan yang memiliki rencana bisnis paling berdampak bagi ekonomi nasional.
Adapun pita 26,5 GHz hingga 28,1 GHz akan dialokasikan dengan sistem first-come first-served. Frekuensi ini dibuka untuk pihak non-telekomunikasi guna mendukung kebutuhan jaringan privat lokal seperti kota pintar dan sektor industri.
India
Penggelaran lelang secara bersamaan pernah dilakukan oleh Telecom Regulatory Authority of India (TRAI) yang mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah pusat untuk segera melelang seluruh spektrum frekuensi radio di sembilan pita berbeda termasuk di pita 700 MHz dan 2,6 Ghz. Nilai cadangan untuk aset spektrum ini disarankan mencapai US$23,1 miliar atau sekitar Rp395 triliun.
Langkah TRAI ini dirancang untuk mendorong layanan 5G dan meletakkan fondasi bagi teknologi 6G di masa depan. Fokus utama dari rekomendasi ini adalah penyediaan cakupan yang seimbang antara wilayah perkotaan dan pedesaan di seluruh anak benua.
Salah satu poin krusial dalam usulan TRAI adalah penerapan batas maksimal (cap) kepemilikan spektrum sebesar 35% bagi setiap operator. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga iklim kompetisi agar pasar tetap sehat dan tidak didominasi oleh segelintir pemain besar.
Selain itu, TRAI mengusulkan insentif khusus untuk pita 600 MHz berupa masa berlaku lisensi selama 24 tahun. Terdapat pula pelonggaran pembayaran berupa moratorium selama empat tahun guna menarik minat peserta lelang dalam mengembangkan ekosistem digital India.