#30 tag 24jam
Ekspor Indonesia 2025 Naik 6,15 Persen, China Tetap Jadi Tujuan Utama
Sepanjang 2025, kinerja ekspor Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif di tengah dinamika perdagangan global. [1,188] url asal
#neraca-perdagangan #ekspor-indonesia #ekspor-migas #indepth #negara-tujuan-ekspor-indonesia #ekspor-indonesia-2025
(Kompas.com - Money) 02/02/26 16:30
v/122858/
JAKARTA, KOMPAS.com - Sepanjang 2025, kinerja ekspor Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif di tengah dinamika perdagangan global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor Indonesia selama periode Januari hingga Desember 2025 mencapai 282,91 miliar dollar AS atau naik 6,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar 266,53 miliar dollar AS.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan total ekspor.
SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.Sepanjang 2025, ekspor nonmigas tercatat 269,84 miliar dollar AS, meningkat 7,66 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 250,65 miliar dollar AS.
Sebaliknya, ekspor migas justru mengalami penurunan 17,69 persen dari 15,88 miliar dollar AS menjadi 13,07 miliar dollar AS.
Pada bulan terakhir tahun 2025, ekspor Indonesia pada Desember 2025 mencapai 26,35 miliar dollar AS atau naik 11,64 persen dibandingkan Desember 2024.
Ekspor nonmigas pada Desember 2025 juga meningkat 13,72 persen menjadi 25,09 miliar dollar AS.
Nonmigas jadi penopang utama ekspor Indonesia 2025
Struktur ekspor Indonesia sepanjang 2025 semakin didominasi sektor nonmigas. Dari total ekspor 282,91 miliar dollar AS, kontribusi nonmigas mencapai 95,38 persen, sementara migas hanya 4,62 persen.
PIXABAY/AWADPALESTINE Ilustrasi ekspor. Produk Cold-Rolled Stainless Steel Flat (CRSS) atau baja nirkarat canai dingin asal Indonesia resmi bebas dari Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) yang sebelumnya berpotensi dikenakan oleh Pemerintah Turkiye.Penurunan pada sektor migas terutama dipicu oleh merosotnya ekspor minyak mentah sebesar 30,19 persen menjadi 1,56 miliar dollar AS. Ekspor hasil minyak turun 12,38 persen menjadi 4,15 miliar dollar AS, sedangkan ekspor gas alam turun 17,39 persen menjadi 7,36 miliar dollar AS.
Sebaliknya, hampir seluruh komoditas utama nonmigas mencatatkan kenaikan.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar sepanjang Januari–Desember 2025, hanya bahan bakar mineral yang mengalami penurunan sebesar 7,61 miliar dollar AS atau 19,18 persen.
Komoditas dengan peningkatan tertinggi adalah lemak dan minyak hewani/nabati yang naik 7,50 miliar dollar AS atau 27,94 persen, dari 26,86 miliar dollar AS menjadi 34,36 miliar dollar AS.
Komoditas lain yang juga mengalami kenaikan signifikan antara lain sebagai berikut.
- Mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya naik 4,03 miliar dollar AS atau 26,55 persen menjadi 19,19 miliar dollar AS.
- Berbagai produk kimia naik 2,97 miliar dollar AS atau 45,59 persen menjadi 9,50 miliar dollar AS.
- Logam mulia dan perhiasan atau permata naik 2,79 miliar dollar AS atau 31,39 persen menjadi 11,67 miliar dollar AS.
- Besi dan baja naik 2,17 miliar dollar AS atau 8,41 persen menjadi 27,97 miliar dollar AS.
- Nikel dan barang daripadanya naik 1,73 miliar dollar AS atau 21,69 persen menjadi 9,73 miliar dollar AS.
Sepuluh golongan barang utama tersebut menyumbang 64,04 persen dari total ekspor nonmigas 2025.
Industri pengolahan mendominasi
Jika dilihat dari sisi sektoral, ekspor nonmigas 2025 didominasi oleh industri pengolahan. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, ekspor industri pengolahan mencapai 227,10 miliar dollar AS atau tumbuh 14,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
PIXABAY/THANASIS PAPAZACHARIAS Ilustrasi ekspor, kegiatan ekspor dan impor.Kontribusi sektor ini terhadap total ekspor mencapai 80,27 persen , meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 74,44 persen.
BPS mencatat peningkatan tersebut disumbang oleh meningkatnya ekspor minyak kelapa sawit.
Sementara itu, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga naik 21,01 persen menjadi 6,88 miliar dollar AS, yang disumbang oleh meningkatnya ekspor kopi.
Sebaliknya, sektor pertambangan dan lainnya mengalami kontraksi 23,00 persen menjadi 35,86 miliar dollar AS. Penurunan ini terutama dipicu oleh turunnya ekspor batu bara.
China tetap jadi tujuan utama ekspor Indonesia 2025
Dari sisi negara tujuan, China masih menjadi pasar terbesar ekspor nonmigas Indonesia sepanjang 2025.
Nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai 64,82 miliar dollar AS atau berkontribusi 24,02 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Komoditas utama yang diekspor ke China meliputi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta nikel dan barang daripadanya.
Di posisi kedua, Amerika Serikat (AS) mencatatkan nilai ekspor nonmigas sebesar 30,96 miliar dollar AS atau 11,47 persen dari total ekspor. Kemudian, disusul India sebesar 18,32 miliar dollar AS atau 6,79 persen.
Secara kumulatif, tiga negara tersebut menyerap 42,28 persen ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Kawasan ASEAN juga tetap menjadi pasar penting dengan nilai ekspor 51,59 miliar dollar AS atau berkontribusi 19,12 persen. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa mencapai 19,28 miliar dollar AS atau 7,15 persen.
Dinamika perubahan negara tujuan ekspor Indonesia
UNSPLASH/ANDY LI Ilustrasi ekspor.Sepanjang 2025, terjadi dinamika pada beberapa negara tujuan utama. Nilai ekspor nonmigas ke Amerika Serikat meningkat 4,42 miliar dollar AS atau 16,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekspor Indonesia ke China juga naik 4,30 miliar dollar AS atau 7,11 persen.
Singapura mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi secara persentase, yakni 2,36 miliar dollar AS atau 31,40 persen.
Sebaliknya, beberapa negara mengalami penurunan. Ekspor ke Jepang turun 3,08 miliar dollar AS atau 16,59 persen.
Sementara itu, ekspor ke India berkurang 2,05 miliar dollar AS atau 10,07 persen. Kemudian, ekspor ke Australia turun 1,18 miliar dollar AS atau 24,20 persen.
Total ekspor nonmigas ke 13 negara/wilayah/entitas tertentu tujuan mencapai 187,50 miliar dollar AS atau naik 4,48 persen dibandingkan 2024.
Kontribusi provinsi ke ekspor Indonesia
Dari sisi daerah asal barang, tiga provinsi memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspor nasional sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor 38,72 miliar dollar AS atau 13,69 persen dari total nasional.
Disusul Jawa Timur (Jatim) sebesar 29,12 miliar dollar AS atau 10,29 persen, serta Kepulauan Riau (Kepri) sebesar 23,41 miliar dollar AS atau 8,28 persen.
Ketiga provinsi tersebut secara kumulatif menyumbang 32,26 persen dari total ekspor nasional.
Selain itu, sejumlah provinsi berbasis sumber daya alam juga mencatatkan nilai ekspor signifikan, seperti Sulawesi Tengah (Sulteng) sebesar 22,32 miliar dollar AS, Kalimantan Timur sebesar 21,19 miliar dollar AS, Riau sebesar 21,45 miliar dollar AS, dan Maluku Utara (Malut) 14,76 miliar dollar AS.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi ekspor atau bongkat muat di pelabuhan.Surplus neraca perdagangan
Kinerja ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor turut mendorong surplus neraca perdagangan sepanjang 2025.
BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia Januari hingga Desember 2025 mengalami surplus 41,05 miliar dollar AS.
Surplus tersebut berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar 60,75 miliar dollar AS, sementara sektor migas mengalami defisit 19,70 miliar dollar AS.
Pada Desember 2025 saja, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 2,51 miliar dollar AS, dengan surplus nonmigas mencapai 4,61 miliar dollar AS dan defisit migas 2,09 miliar dollar AS.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan ekspor Indonesia sepanjang 2025 tumbuh moderat dengan penguatan signifikan pada sektor nonmigas, khususnya industri pengolahan.
China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tujuan utama, dengan kawasan ASEAN dan Uni Eropa mempertahankan peran penting dalam struktur pasar ekspor Indonesia .
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Indonesia Teken Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Rusia Cs
Uni Ekonomi Eurasia terdiri dari lima negara bekas Uni Soviet yakni, Rusia, Armenia, belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. [625] url asal
#eurasia #uni-ekonomi-eurasia #tujuan-ekspor-indonesia #perdagangan-bebas
(Kompas.com - Money) 22/12/25 15:08
v/81291/
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan) menandatangani perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) antara Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU FTA), Minggu ( (21/12/2025).
Penandatanganan dilakukan di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Ekonomi Eurasia, St. Petersburg, Rusia.
Adapun Uni Ekonomi Eurasia terdiri dari lima negara bekas Uni Soviet yakni, Rusia, Armenia, belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan.
PIXABAY/AWADPALESTINE Ilustrasi ekspor. Ekspor China ke Amerika Serikat (AS) turun tajam sebesar 33 persen pada Agustus 2025, di tengah melambatnya pertumbuhan perdagangan luar negeri Negeri Tirai Bambu.Adapun penandatanganan itu dihadiri jajaran pejabat tinggi kementerian dari negara terkait dan disaksikan langsung kepala negara anggota Uni Ekonomi Eurasia, termasuk Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Pada kesempatan itu, Busan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto kepada para peserta perjanjian EAEU FTA.
Ia menekankan, perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia ini bukan hanya gestur politik maupun ekonomi, melainkan pertanda babak baru kemitraan strategis.
Menurutnya, Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia memiliki mesin ekonomi dan potensi pasar yang besar, didukung sumber daya kuat, produk saling komplementer dan bisa saling menguatkan posisi strategis di rantai perdagangan global.
Busan menyebut, bagi Indonesia perjanjian perdagangan bebas ini menciptakan peluang untuk memperluas pasar non tradisional di kawasan Eurasia dengan populasi 180 juta penduduk dan produk domestik bruto (PDB) 2,56 triliun dollar Amerika Serikat (AS).
Sementara, bagi Eurasia, Indonesia menawarkan peluang ekonomi dengan 281,6 juta penduduk, PDB 1,4 triliun, dan kelas menengah yang terus tumbuh.
SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.Busan mengungkapkan, sebelum disepakati, Indonesia dan negara-negara Eurasia telah mulai berunding pada 2023 lalu.
Pembahasan selesai dalam waktu dua tahun dan bisa tercapai berkat kerja keras serta rasa kepercayaan satu sama lain.
“Proses ini mencerminkan tekad bersama untuk memperkuat perdagangan di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah,” kata Busan.
Materi perjanjian perdagangan bebas dengan Eurasia
Adapun materi perjanjian perdagangan bebas itu terdiri dari 15 bab yang meliputi pembukaan akses pasar barang, fasilitasi perdagangan, hingga kerja sama ekonomi.
Dalam perjanjian itu, Uni Ekonomi Eurasia berkomitmen memberikan preferensi tarif ke Indonesia 80,5 persen dari total pos tarif atau mencapai 95,1 persen dari total nilai impor di kawasan itu.
Menurut Busan, kebijakan itu akan meningkatkan ekspor produk sawit dan turunannya, alas kaki, tekstil, serta produk tekstil, produk perikanan, karet alam, elektronik, furnitur, dan produk manufaktur lain.
Fasilitas dagang dari perjanjian itu dinilai membuka karpet merah untuk indonesia merebut pangsa pasar dari negara-negara yang selama ini menjadi kompetitor.
“Dengan preferensi tarif hingga 90,5 persen dari total pos tarif Uni Ekonomi Eurasia, produk unggulan Indonesia akan memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif,” jelas Busan.
Dengan berbagai peluang bisnis ini, Mendag mendorong eksportir di tanah air segera memanfaatkan keuntungan dari perjanjian tersebut.
FTA, kata Busan, memberikan kepastian hukum dan transparansi kepada dunia usaha sehingga iklim perdagangan lebih kondusif dan bisa diprediksi.
“Pemerintah Indonesia akan memastikan implementasi persetujuan ini berjalan efektif, transparan, dan berpihak pada dunia usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” kata Busan.
Pada forum yang sama, Kepala Komisi Uni Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev, mengungkapkan pertemuan itu membahas berbagai isu di sektor perdagangan, logistik, dan bidang lain.
“Hari ini kami menandatangani dokumen penting, yaitu FTA antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia. Kami berharap, setelah perjanjian ini mulai diimplementasikan, perdagangan antara negara-negara kami dapat meningkat hingga dua kali lipat,” ujar Sagintayev.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56