Bisnis.com, JAKARTA — Iran dan Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan gencatan senjata dari perang yang mereka jalani sejak akhir Februari 2026 di wilayah Asia Barat. Kedua pihak menyetujui gencatan senjata tersebut setelah Iran mengirimkan 10 tuntutan gencatan senjata kepada AS.
Presiden AS Donald Trump melalui akun media sosialnya mengatakan bahwa AS menyetujui adanya gencatan senjata selama 2 pekan bagi kedua belah pihak ketika Iran membuka Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi perairan energi paling penting di dunia. Gencatan senjata tersebut dimediasi oleh Pakistan.
“Kami menerima proposal berisi 10 poin dari Iran, dan meyakini hal itu merupakan dasar yang layak untuk bernegosiasi,” tulis Trump pada Selasa (8/4/2026).
Dia menyatakan bahwa hampir semua poin perselisihan masa lalu di antara kedua negara tersebut telah disepakati. Periode gencatan senjata selama 2 pekan tersebut dimaksudkan agar “memungkinkan perjanjian tersebut diselesaikan dan disahkan”.
Perdana Menteri Pakistan pun mengundang perwakilan AS dan Iran untuk datang ke Islamabad, Pakistan guna melanjutkan pembicaraan mengenai gencatan senjata tersebut dan mencapai kesepakatan akhir dari perang.
Dari pihak Iran, media milik pemerintah mengatakan bahwa negara tersebut hanya akan menerima berakhirnya perang tersebut apabila kesepakatan akhir antara kedua belah pihak memang sejalan dengan 10 tuntutannya kepada AS, seperti dilansir dari The Guardian, Kamis (9/4/2026). 10 tuntutan tersebut berisi beberapa kondisi yang sebenarnya pernah ditolak oleh AS.
Apa saja poin kesepakatan gencatan senjata Iran dengan Amerika Serikat? Daftarnya ada dalam informasi yang disampaikan media milik Pemerintah Iran, seperti dikutip dari BBC News.
Berikut 10 Poin Tuntutan Iran ke Amerika:
- Penghentian semua perang di Irak, Lebanon, dan Yaman;
- Penghentian permanen semua perang di Iran tanpa batas waktu;
- Penghentian semua konflik di kawasan secara menyeluruh;
- Pembukaan kembali Selat Hormuz;
- Pembentukan protokol dan syarat-syarat untuk menjamin kebebasan dan keamanan navigasi di Selat Hormuz;
- Pembayaran penuh ganti rugi untuk biaya rekonstruksi kepada Iran;
- Komitmen penuh untuk mencabut sanksi terhadap Iran;
- Pembebasan dana dan aset Iran yang dibekukan oleh AS;
- Iran berkomitmen penuh untuk tidak mencari kepemilikan senjata nuklir apa pun; dan
- Gencatan senjata segera berlaku di semua front segera setelah persetujuan syarat-syarat di atas.
Daftar 10 tuntutan tersebut sebenarnya belum dapat benar-benar dipastikan kebenarannya karena telah banyak beredar daftar lain dengan variasi tuntutan yang berbeda-beda. CNNInternational melaporkan bahwa perbedaan juga ditemukan dalam daftar tuntutan yang diumumkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Persia/Farsi.
Kedutaan Besar Iran bagi India, misalnya, mengumumkan daftar permintaan-permintaan yang berbeda di akun media sosial resminya. Mereka menyertakan syarat seperti keberlanjutan kepemilikan Iran atas Selat Hormuz, penghentian semua resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penghentian semua resolusi Dewan Gubernur Badan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
Dalam daftar tersebut juga tercantum tuntutan untuk mengakui hak Iran dalam melakukan pengayaan nuklir, suatu hal yang ditentang oleh AS. Hal itu pun berlawanan langsung dengan salah satu tujuan awal utama Trump dalam melakukan perang ini, yaitu membuat Iran tidak dapat bisa mengembangkan senjata nuklir.
AS Sendiri sebelumnya telah mengajukan tuntutan yang berisi 15 poin rencana untuk membawa perdamaian di kawasan. Meski begitu, detail dari rencana tersebut belum diungkapkan kepada publik, seperti dilaporkan oleh PBS dan Associated Press.
Tuntutan AS tersebut diperkirakan meminta agar Iran berkomitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir, membatasi kemampuan persenjataan Iran, dan pembukaan Selat Hormuz. Terdapat juga permintaan agar Iran mengakui keberadaan dan hak negara Israel untuk berdiri.
Iran dilaporkan telah menolak 15 tuntutan tersebut karena dinilai bukan merupakan rencana yang realistis. (Laurensius Katon Kandela)