Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan consumer goods, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) mampu menorehkan laba bersih yang bertumbuh sepanjang 2025. Hal itu sekaligus menyudahi rapor merah UNVR sepanjang 5 tahun belakangan yang selalu mencatatkan laba bersih yang terkoreksi secara tahunan.
Hanya saja, torehan pertumbuhan laba bersih itu bukan tanpa biaya. Sejumlah upaya efisiensi telah berupaya ditekan perseroan, membuat jumlah karyawan Unilever susut dan menjadi pengurangan terbesar sepanjang 5 tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan Unilever, jumlah karyawan perusahaan FMCG yang berinduk di Inggris ini telah susut sejak 2020. Pada tahun pertama pandemi Covid-19, UNVR mencatatkan jumlah karyawan yang susut hingga 3,88% YoY menjadi 5.222 orang. Pada tahun-tahun setelahnya, berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, pengurangan karyawan terjadi sekitar 5%-7% setiap tahunnya.
Baru pada tahun lalu, Unilever mencatatkan jumlah karyawan yang berkurang drastis. Dari 4.266 jumlah karyawan per Desember 2024, Unilever kini mencatatkan jumlah karyawan sebanyak 3.299 orang per Desember 2025. Artinya, terdapat pengurangan hingga 967 orang karyawan sepanjang tahun lalu atau mencerminkan pengurangan hingga 22,66% YoY.
Upaya Unilever membuahkan hasil nyata. Pengurangan karyawan membuat perusahaan produsen Royco ini membukukan jumlah beban karyawan yang susut.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap, menegaskan bahwa pihaknya akan tetap melakukan pengendalian biaya pada tahun ini. Upaya pengendalian biaya tersebut antara lain menerapkan disiplin harga di seluruh saluran distribusi hingga hanya berfokus pada portofolio produk yang menghasilkan nilai yang tinggi.
"Serta secara agresif melakukan restrukturisasi basis biaya melalui berbagai intervensi, termasuk restrukturisasi biaya tenaga kerja," katanya dalam paparan publik Unilever, Kamis (12/2/2026).
Dalam paparannya, Benjie menerangkan bahwa pihaknya menargetkan pengurangan biaya tenaga kerja hingga 20% pada 2026. Bisnis telah berupaya memastikan rencana pemangkasan karyawan lanjutan oleh Unilever, tetapi manajemen tidak memberikan respons.
Pada Oktober 2025 lalu, Benjie menerangkan Unilever tengah berfokus pada penguatan kapabilitas SDM sambil melakukan transformasi bisnis. Unilever, tegas Benjie, tengah berupaya mendorong inovasi, menanamkan budaya kerja yang tinggi, dan melaksanakan disiplin untuk memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan.
“Akan selalu ada pro dan kontra di berbagai fungsi seiring kami mendorong budaya kerja yang tinggi dan meraih kesuksesan untuk bisnis. Dan itu akan tetap menjadi fokus kami untuk mendorong produktivitas, kapabilitas dalam lingkungan teknologi tinggi ke depan,” katanya kepada awak media, Rabu (15/10/2025).
Diberitakan sebelumnya, Unilever membukukan lonjakan laba bersih sepanjang 2025. Emiten barang konsumsi itu meraih laba Rp7,64 triliun, melonjak 126,83% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan Rp3,36 triliun pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangan, penjualan bersih UNVR tercatat Rp31,94 triliun, tumbuh 4,31% yoy dari Rp30,62 triliun pada tahun sebelumnya. Kontributor terbesar masih berasal dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh yang menyumbang Rp23,35 triliun atau naik 4,16% YoY.
Sementara itu, segmen makanan dan minuman mencatatkan penjualan Rp8,58 triliun, meningkat 4,74% YoY. Dari sisi geografis, penjualan domestik tumbuh 3,98% YoY menjadi Rp31 triliun. Adapun penjualan ekspor melonjak 16,48% YoY menjadi Rp942,13 miliar.
Perkembangan Jumlah Karyawan UNVR
Jumlah Karyawan |
2020 | 2021 | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 |
5.222 | 4.949 | 4.849 | 4.589 | 4.266 | 3.299 |
Sumber: Laporan Keuangan UNVR, diolah.