Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyampaikan pendapatan premi dari kanal distribusi bancassurance turun 5,2% (year on year/YoY) menjadi Rp76,91 triliun sepanjang 2025.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menjelaskan bahwa kontraksi dari bancassurance tidak lepas dari pengaruh penurunan penjualan produk yang dikaitkan investasi (PAYDI) atau unit-linked.
“Kalau kita lihat selama ini memang bancassurance banyak menjual produk-produk unit-linked dan dengan perkembangan terakhir memang unit-linked mengalami penurunan,” tuturnya dalam konferensi pers AAJI di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Kendati demikian, dia membeberkan saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan AAJI sedang melakukan review atau merevisi POJK tentang unit-linked, supaya penjualannya bisa kembali ramai (marak). Mereka optimistis unit-linked memiliki pasar atau market-nya sendiri.
“Dan dengan nanti POJK ini kalau sudah bisa direvisi, mudah-mudahan dalam tahun ini kita harapkan akan naik kembali, sehingga bancassurance bisa tumbuh kembali,” tegas Albertus.
Lebih jauh, Albertus mengemukakan AAJI memproyeksikan industri asuransi jiwa pertumbuhannya masih sangat positif, meski ada tantangan geopolitik yang dihadapi semua negara. Pihaknya yakin Indonesia memiliki resiliensi yang baik karena memiliki domestic market yang besar.
Oleh karena itu, imbuhnya, AAJI bersama regulator dan akademisi terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia bahwa di dalam kehidupan ada risiko finansial, sehingga harus punya solusi untuk risiko tersebut.
“Jadi, mindset tentang butuhnya proteksi asuransi jiwa terhadap keuangan sebuah keluarga. Nah ini bukan kebutuhan ketiga atau kedua atau ketiga, ini kebutuhan pokok. Jadi setiap ada pemasukan ada dana yang disisihkan untuk proteksi melalui proteksi asuransi jiwa,” jelasnya.
Albertus berharap upaya meningkatkan literasi dan inklusi tersebut dapat membuat jumlah tertanggung industri asuransi jiwa terus meningkat pada 2026.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pengembangan & Pelatihan SDM AAJI, Handojo G Kusuma menekankan meski premi dari bancassurance turun, faktanya kanal itu tetap mendominasi total pendapatan premi.
Dia turut menegaskan bahwa kinerja kanal bancassurance tentunya memiliki ketergantungan dengan kondisi perbankan yang ada.
“Kalau seperti tahun kemarin itu kan kita semua tahu bahwa likuiditas juga cukup ketat, jadi itu juga memengaruhi dari bagaimana bisnis di asuransi terhadap bancassurance ini sendiri,” tuturnya.
Untuk diketahui, AAJI mencatat premi dari bancassurance setiap tahunnya mendominasi total pendapatan premi industri. Pada 2023 mencapai Rp76,73 triliun, sedangkan pada 2024 sebesar Rp81,10 triliun.
Sementara itu, premi dari keagenan pada 2023 sebesar Rp57,30 triliun, 2024 sebesar Rp57,55 triliun, dan 2025 senilai Rp58,40 triliun. Adapun, premi dari kanal distribusi alternatif pada 2023 sebesar Rp43,72 triliun, 2024 sebesar Rp46,03 triliun, dan 2025 senilai Rp45,96 triliun.