Bisnis.com, JAKARTA - Virus Nipah dilaporkan merebak di India, tepatnya di wilayah Benggala Barat.
Melansir Independent, sekitar 100 orang dikarantina setelah virus tersebut terdeteksi di sebuah rumah sakit.
Seorang dokter, perawat, dan anggota staf lainnya dinyatakan positif setelah dua kasus pertama yang dikonfirmasi pada seorang perawat pria dan wanita dari distrik yang sama.
Merebaknya virus ini juga membuat Tailan, Nepal, dan Taiwan termasuk di antara negara dan wilayah yang telah meningkatkan langkah-langkah pencegahan.
Tailan telah memberlakukan skrining kesehatan di bandara untuk mencegah virus Nipah masuk ke negaranya.
Dalam pernyataan resmi, pihak Otoritas Penerbangan Sipil Tailan mengatakan kebijakan skrining ini akan disesuaikan secara dinamis berdasarkan perkembangan situasi.
Penumpang yang menunjukkan gejala-gejala yang memerlukan tes lebih lanjut wajib menunjukkan sertifikat medis yang relevan sebelum menaiki pesawat dan harus mematuhi pedoman kesehatan masyarakat selama penerbangan.
Kemudian setibanya di Tailan, semua pelancong akan menjalani pemeriksaan suhu dan wajib mengisi formulir pernyataan Kesehatan seperti yang dilakukan untuk skrining Covid-19.
Apa Itu Virus Nipah dan Seberapa Berbahayanya
Nipah merupakan penyakit zoonosis yang menyebar ke manusia dari babi dan kelelawar yang terinfeksi, tetapi juga dapat ditularkan melalui kontak dekat antar individu.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), virus Nipah dapat menyebabkan demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas.
Ensefalitis atau pembengkakan otak juga dapat terjadi yang dapat menyebabkan gejala lain seperti kebingungan, kantuk, kejang, atau koma, tambah CDC. Gejala biasanya muncul 4 hingga 14 hari setelah infeksi.
Hingga kini belum ada obat khusus yang ditujukan untuk meredakan penyakit akibat virus Nipah. Artinya, pengobatan terbatas pada perawatan suportif dan pengobatan gejala yang diderita oleh pasien.
Penyebab kematian yang tinggi
Virus Nipah dikaitkan dengan tingkat kematian yang tinggi, dengan tingkat kematian yang dilaporkan antara 40% dan 75% tergantung pada wabah dan jenis virus yang terlibat.
Menurut pembaruan dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris, para penyintas juga mungkin mengalami efek neurologis jangka panjang, seperti kejang yang terus-menerus atau perubahan kepribadian.
Dalam kasus yang jarang terjadi, ensefalitis dilaporkan kambuh berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah infeksi awal, baik karena kekambuhan atau reaktivasi virus.