Bisnis.com, JAKARTA - Perbedaan awal Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah bukanlah fenomena baru dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Perbedaan ini muncul karena adanya pendekatan metodologis yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal secara langsung) dengan mengacu pada kriteria visibilitas hilal yang berlaku di wilayah Indonesia. Artinya, keputusan diambil berdasarkan posisi bulan yang benar-benar teramati atau memenuhi standar kemungkinan terlihat di kawasan lokal.
Sementara itu, Muhammadiyah menerapkan pendekatan berbasis perhitungan astronomi murni dengan sistem kalender global. Dalam metode ini, penentuan awal bulan tidak bergantung pada pengamatan di satu wilayah tertentu, melainkan pada terpenuhinya parameter astronomis di mana pun di permukaan bumi. Perbedaan kerangka berpikir inilah yang pada akhirnya dapat menghasilkan tanggal awal Ramadan yang tidak selalu sama.
Kendati demikian, perbedaan tersebut tidak perlu dipandang sebagai bentuk pertentangan. Justru, hal ini mencerminkan kekayaan khazanah pemikiran Islam dan ruang ijtihad yang terbuka dalam persoalan fikih. Sejak lama, umat Islam mengenal adanya ragam pendapat dalam menentukan awal bulan kamariah, dan perbedaan itu tetap berada dalam koridor ilmiah maupun syar’i.
Jadwal Buka Puasa dan Salat Surabaya 20 Februari 2026
Berikut jadwal waktu salat untuk wilayah Surabaya:
• Imsak 04:07 WIB
• Subuh 04:17 WIB
• Dzuhur 11:46 WIB
• Ashar 14:54 WIB
• Maghrib 17:55 WIB
• Isya 19:06 WIB
Bacaan Niat Puasa Ramadan
Dalam masyarakat Indonesia juga dikenal praktik membaca niat puasa Ramadan untuk satu bulan penuh. Praktik ini bersumber dari pendapat mazhab Maliki yang membolehkan satu kali niat di awal bulan untuk keseluruhan puasa, selama tidak terputus oleh hal yang membatalkan secara syar’i.
Bacaan Niat Puasa Ramadan Harian
Berikut bacaan niat puasa Ramadan untuk satu hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala."
Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh
Berikut bacaan niat puasa Ramadan sebulan penuh:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri Ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala."
Doa Berbuka Puasa Ramadan
Selain niat, umat Islam juga dianjurkan membaca doa ketika berbuka sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Berikut bacaan doa berbuka puasa:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu.
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Pentingnya Niat dalam Puasa
Niat menjadi unsur mendasar yang menentukan sah atau tidaknya puasa Ramadan. Mayoritas ulama, khususnya dalam mazhab Syafi’i, mensyaratkan niat dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar, karena setiap hari puasa dipandang sebagai ibadah tersendiri.
Sementara itu, mazhab Maliki membolehkan niat dilakukan sekali di awal bulan dengan catatan puasa tidak terputus oleh hal-hal yang membatalkan secara syar’i. Secara prinsip, niat tidak wajib dilafalkan, melainkan cukup dihadirkan dalam hati sebagai bentuk kesengajaan berpuasa karena Allah SWT.
Dengan memahami perbedaan metode penetapan Ramadan serta tata cara niat dan doa berbuka, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keyakinan.