Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengolah buah naga afkir menjadi berbagai produk olahan ... [734] url asal
Yang penting itu jangan sampai ada hasil panen yang terbuang. Semuanya harus bisa dimanfaatkan
Banyuwangi (ANTARA) - Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengolah buah naga afkir menjadi berbagai produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mengurangi kerugian petani.
Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini mengatakan buah naga yang mengalami cacat fisik ringan sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi karena tidak memenuhi standar pasar buah segar.
"(Produk buah naga) yang belum menghasilkan uang itu adalah yang reject. Reject itu yang pecah sedikit, tapi masih bagus. Kena benturan, pecah, itu sudah tidak laku di pasaran," kata Sumartini di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat.
Menurut dia, hasil panen buah naga terlebih dahulu disortir berdasarkan ukuran, bobot, kadar gula dan kondisi fisik. Buah berkualitas terbaik dikelompokkan ke dalam grade A untuk dipasarkan ke pasar modern, sedangkan grade B dan C dipasarkan ke segmen pasar lain dengan harga berbeda.
Adapun buah kategori afkir merupakan buah yang mengalami cacat fisik ringan akibat benturan atau pecah saat panen maupun distribusi dimanfaatkan menjadi produk olahan maupun bahan baku pupuk organik.
"Yang penting itu jangan sampai ada hasil panen yang terbuang. Semuanya harus bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Sumartini mengatakan buah naga afkir tersebut diolah menjadi sale buah naga melalui kemitraan usaha. Kelompok tani melakukan proses pengeringan, sedangkan proses pengolahan lanjutan dilakukan oleh mitra usaha.
Produksi sale buah naga dimulai pada Maret 2024 dan hingga Juni 2026 dan telah mencapai 19.125 kemasan yang seluruhnya terserap pasar.
Produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp24.000 per kemasan melalui gerai ritel modern, pusat oleh-oleh di Jawa Timur, Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta melalui lokapasar.
Berdasarkan jumlah produksi dan harga jual tersebut, total nilai penjualan sale buah naga kelompok tani diperkirakan mencapai sekitar Rp459 juta sejak mulai diproduksi pada Maret 2024.
Produk olahan sale buah naga dipamerkan saat diskusi bersama Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (26/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Selain sale buah naga, kelompok tani juga mengembangkan dodol buah naga yang diproduksi berdasarkan pesanan, sedangkan bolu buah naga masih dalam tahap pengembangan.
Pada 2025, kelompok tersebut juga mengirim sampel produk buah naga kering ke Belanda sebagai bagian dari penjajakan pasar, meski belum dipasarkan secara komersial.
Selain menjadi bahan baku produk olahan, buah naga yang tidak terserap pasar juga dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair sehingga limbah hasil panen dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung budidaya buah naga organik.
"Kita sekelompok punya inisiatif, buah-buah yang tidak laku itu kita bikin pupuk organik cair untuk diaplikasikan lagi ke buah naga," ungkap dia.
Pengembangan produk olahan tersebut didukung melalui pendampingan Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) agar petani tidak hanya memiliki akses pasar yang lebih luas, tetapi juga mampu meningkatkan standar budidaya dan pengelolaan usaha.
Koordinator Yayasan Astra–YDBA Banyuwangi Azzuhri Tri Ahara mengatakan pendampingan terhadap Kelompok Tani Sinar Cabe berawal dari Program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang masuk ke Desa Sumbermulyo untuk membantu memperluas akses pasar saat harga buah naga mengalami tekanan.
Seiring perjalanan program, persoalan yang dihadapi petani tidak hanya berkaitan dengan pemasaran, tetapi juga budidaya, pengelolaan usaha, dan penanganan pascapanen sehingga YDBA mendirikan cabang di Banyuwangi pada November 2021 untuk memperkuat pendampingan.
"Pendampingan kemudian diperluas mulai dari penguatan budidaya, administrasi kelompok, kelembagaan, legalitas usaha, penanganan pascapanen, hingga pengembangan produk olahan," ucap Azzuhri.
Melalui pendampingan tersebut, kelompok tani telah memperoleh sertifikasi budidaya organik, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) budidaya, sortir, grading, dan penanganan pascapanen, serta memperoleh dukungan pemenuhan hak kekayaan intelektual (HAKI) dan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Pendampingan juga mendorong petani memproduksi pupuk organik dan agen hayati secara mandiri, memperkuat pengendalian hama dan penyakit, serta menerapkan sistem 5R di area produksi dan gudang.
Proses sortir dan penanganan pascapanen buah naga di packing house Kelompok Tani Sinar Cabe, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (26/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Hasilnya, buah naga organik yang dihasilkan kelompok tani tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan buah naga konvensional.
Untuk buah grade A1, harga jual di tingkat petani mencapai sekitar Rp22.000 per kilogram (kg), atau sekitar Rp5.000 lebih tinggi dibandingkan buah naga konvensional yang berada di kisaran Rp17.000 per kg.
Saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe memiliki 30 anggota aktif yang mengelola lahan seluas 9,2 hektare dengan produksi sekitar 300 ton buah naga per tahun dan omzet sekitar Rp30 juta per bulan dari penjualan buah naga.
Dua yayasan memberikan pendampingan kepada kelompok petani buah naga di Sumbermulyo, Banyuwangi, Jawa Timur untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara. [525] url asal
Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memberikan pendampingan kepada kelompok petani buah naga di Sumbermulyo, Banyuwangi, Jawa Timur untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara.
Ketua Yayasan Astra-YDBA Rahmat Samulo menjelaskan pendampingan itu dilakukan untuk mendukung Program Desa Sejahtera Astra sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Ia menyebut lewat pendirian Pusat Pendampingan UMKM (PPU) itu Kelompok Tani Sinar Cabe di Sumbermulyo diberikan pelbagai pelatihan untuk meningkatkan hasil panen buah naga yang dimiliki.
Rahmat mengatakan pelatihan itu mulai dari perubahan metode penanaman menjadi organik dan bebas bahan kimia, pembuatan pupuk mandiri hingga sistem sortir hasil panen yang sesuai standar pasar internasional.
"Agar petani dalam proses budi daya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) pasar modern lokal maupun luar negeri," jelasnya kepada wartawan, Kamis (25/6).
Selain itu, ia menyebut yayasan ikut menjembatani petani dengan pasar pembeli buah naga. Mulai dari dalam negeri seperti supermarket hingga industri perhotelan dan pasar luar negeri.
"Pemfasilitasan dengan pasar juga dilakukan agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," tuturnya.
Dalam kesempatan sama, Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumbermulyo, Sumartini mengatakan pihaknya sangat terbantu dengan pendampingan yang diberikan Yayasan Astra-YDBA.
Lewat pelatihan yang diberikan, Sumartini mengatakan petani buah naga memiliki posisi tawar yang jauh lebih tinggi dan tidak hanya terpaku dengan harga jual yang diberikan oleh pasar.
Ia menjelaskan saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe telah melakukan penyortiran hasil panen sebelum dijual untuk target konsumen yang berbeda.
Untuk kualitas buah naga A dan B misalnya, Sumartini mengatakan nantinya akan dijual untuk pasar ekspor dan supermarket dan hotel. Sementara untuk sisanya baru akan djiual ke pasar-pasar tradisional.
"Jadi sekarang kita yang menentukan harga. Kalau dulu tergantung pasar beli hasil panen kita berapa apapun kualitasnya," jelasnya.
Berdasarkan data Yayasan Astra-YDBA, selama periode 2022 hingga 2025, kelompok tani Sinar Cabai telah mengekspor total 6,8 ton buah naga ke Singapura dan Hongkong melalui PT Nusa Tropical Indonesia.
Sementara kerja sama produk olahan dilakukan dengan PT Oreng Osing untuk Sale Buah Naga sejak Maret 2024 sebanyak 20 Ton. Sedangkan produk olahan buah kering dilakukan lewat Herbor.id dengan penjualan di pasar domestik sejak September 2024 sebanyak 350 Kg.
Ia menambahkan lewat metode penanaman organik hasil panen buah naga kelompok mereka juga mengalami peningkatan harga. Selain itu, kualitas buah juga jauh lebih tahan lama dan tidak mudah busuk.
Menurutnya, dari sekitar 30 petani yang tergabung dengan total luas lahan mencapai 9,2 hektare, setiap bulannya bahkan mampu menghasilkan 25-45 ton buah naga.
"Kalau untuk omset, per minggu bisa sampai Rp30-32 juta. Tergantung jenis dan varietas buah naga yang dihasilkan," tuturnya.
Terakhir yang tidak kalah ketinggalan penting, Sumartini menuturkan saat ini petani juga tidak merasa risau jika ada hasil panen yang ditolak karena kerusakan kecil walaupun kualitas dagingnya masih sangat baik.
Pasalnya, kata dia, Yayasan Astra-YDBA menjembatani kelompok tani dengan perusahaan olahan buah naga. Sehingga buah naga yang tidak diterima pasar tetap dapat bisa diolah dan memiliki nilai jual.
"Kalau dulu setiap ada yang rusak sedikit pasti cuma diolah jadi pupuk. Sekarang daging buahnya tetap bisa olah jadi selai, dodol atau sirop. Kulitnya baru digunakan sebagai pupuk organik," jelasnya.
Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mendampingi petani buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan standar budidaya dan manajemen usaha ... [694] url asal
Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya
Banyuwangi (ANTARA) - Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mendampingi petani buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan standar budidaya dan manajemen usaha sehingga mampu memperkuat daya saing produk, memperluas akses ke pasar modern dan ekspor ke mancanegara.
Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA Rahmat Samulo mengatakan pendampingan dilakukan melalui Pusat Pendampingan UMKM (PPU) Banyuwangi.
"PPU menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budidaya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Costand Delivery pasar modern lokal maupun luar negeri," kata Rahmat di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.
Ia mengatakan penguatan kapasitas petani tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperluas peluang usaha berbasis buah naga melalui pengembangan rantai pasok dan produk turunannya.
"Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini mengatakan pendampingan tersebut membantu kelompok tani memperluas akses pemasaran yang sebelumnya hanya bergantung pada pasar tradisional.
"Kalau sekarang kita sudah banyak punya pasar sendiri. Pasar tradisional punya, pasar modern punya. Jadi hasil produk kita sudah punya pasar dengan harga tawar," ungkap Sumartini.
Kelompok tersebut awalnya membudidayakan cabai merah sejak 2006 sebelum beralih menanam buah naga pada 2013 akibat fluktuasi harga cabai. Pada 2016, kelompok mulai menerapkan budidaya buah naga organik sebagai upaya membangun usaha tani yang lebih berkelanjutan.
Saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe memiliki 30 anggota aktif yang mengelola lahan penanaman buah naga seluas 9,2 hektare.
"Beralihnya karena harga. Kalau cabai, sekali tanam tiga bulan panen. Setelah itu kalau sudah habis, kita kelabakan cari modal lagi. Kalau buah naga, sekali tanam tinggal dirawat dan hasilnya terus-menerus," ucap dia.
Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini bersama anggota kelompok membawa hasil panen buah naga organik di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Kelompok tani tersebut kini memasarkan buah naga organik ke pasar modern, hotel dan pemasok supermarket, serta pernah menyiapkan pengiriman untuk pasar ekspor bersama mitra usaha.
Bersama perusahaan pengekspor buah PT Nusa Tropical Indonesia yang beroperasi dengan merek Nusa Fresh, kelompok juga pernah menyiapkan 1,7 ton pengiriman buah naga untuk pasar ekspor ke Singapura pada 2022–2023.
Sumartini menambahkan pada 2025-2026 melalui Agro Resources Indonesia kelompok juga telah mengekspor sebesar 11,8 ton buah naga ke Singapura.
Pada 2025, kelompok tani juga mengirimkan sampel buah naga untuk pengembangan produk olahan buah naga ke Belanda.
"Kita sekarang sudah bisa kirim ke supermarket, terus ke hotel-hotel. Terus kita juga pernah menyiapkan ekspor ke Singapura dan ke Eropa," ujarnya.
Perluasan saluran pemasaran tersebut memberi petani posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan ketika hanya mengandalkan pasar tradisional.
Menurut dia, kelompok tani juga memperoleh pendampingan untuk memenuhi berbagai persyaratan usaha, termasuk sertifikasi, hak kekayaan intelektual (HAKI), dan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga produk lebih mudah dipasarkan.
"Kalau dulu, apa kata pasar. Walaupun harga rendah, kita petik. Kalau sekarang kita pasti punya harga tawar," tuturnya.
Koordinator Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Banyuwangi Zuri (kiri) memberikan penjelasan ke pewarta mendampingi Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini (kanan) di Packing House Buah Naga Sehat, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Program pendampingan tersebut melanjutkan pembinaan yang lebih dulu dilakukan melalui Desa Sejahtera Astra (DSA) di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran, Banyuwangi.
Koordinator Yayasan Astra-YDBA Banyuwangi Zuri mengatakan pembinaan terhadap petani buah naga bermula dari kondisi sektor buah naga Banyuwangi yang mengalami tekanan harga pada 2017-2018.
Saat itu, harga buah naga grade A hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram (kg) sehingga pembinaan awal difokuskan pada penguatan akses pasar.
Seiring pendirian cabang YDBA Banyuwangi pada 2021 dan perkembangan program, pendampingan kemudian diperluas hingga mencakup aspek budidaya dan penguatan kapasitas petani.
"Kendalanya ternyata tidak hanya di harga, tetapi juga di aspek budidayanya, bahkan petani yang membudidayakan juga membutuhkan pembinaan," kata Zuri.
Melalui program tersebut, petani memperoleh pelatihan mengenai budidaya, manajemen usaha, administrasi kelompok, hingga tata kelola pascapanen yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar modern.
PT Astra International Tbk melalui Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra menggandeng enam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di ... [343] url asal
Dengan membuka akses pasar dan meningkatkan kualitas produk, UMKM diharapkan mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar global,
Jakarta (ANTARA) - PT Astra International Tbk melalui Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra menggandeng enam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Indonesia dalam ajang Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada 4 hingga 8 Februari 2026.
Ketua Pengurus Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra Rahmat Samulo mengatakan, keikutsertaan Astra dalam Inacraft 2026 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong penguatan UMKM kerajinan nasional.
“Kami percaya bahwa ketika ekonomi masyarakat tumbuh, maka kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, hingga kesadaran terhadap lingkungan juga akan ikut meningkat,” ujar Rahmat di Jakarta pada Jumat.
UMKM yang terlibat dalam pameran tersebut meliputi Desa Sejahtera Astra Krebet, Desa Sejahtera Astra Batik Giriloyo, Desa Sejahtera Astra Pagi Motley, Desa Sejahtera Astra Gerai Maheswari, Ipatchu, Dcraft Indonesia, CV Tri Angsa Mandiri, serta Kawung Asli.
Para pelaku usaha tersebut menampilkan beragam produk kriya, mulai dari batik tulis, kerajinan kayu, tekstil berbahan pewarna alami, fesyen berbasis daur ulang limbah, hingga produk boneka dan anyaman berbahan alam.
Rahmat menjelaskan, Astra menjalankan pembinaan UMKM melalui pendekatan empat pilar, yakni pendidikan, kewirausahaan, kesehatan, dan lingkungan.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui berbagai program pembinaan, termasuk fasilitasi pemasaran serta keikutsertaan UMKM dalam pameran berskala nasional maupun internasional.
Sementara itu, Head of CSR Management Department PT Astra International Tbk Triyanto mengatakan, pameran menjadi sarana strategis untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM.
“Dengan membuka akses pasar dan meningkatkan kualitas produk, UMKM diharapkan mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar global,” kata Triyanto.
Selain menampilkan produk kriya, Astra juga menggelar lokakarya kriya bertema pengolahan limbah denim perkotaan menjadi produk fesyen bernilai tambah sebagai bagian dari upaya mendorong praktik keberlanjutan dan ekonomi sirkular.
Partisipasi Astra dalam Inacraft 2026 menegaskan peran sektor swasta dalam mendukung penguatan ekosistem ekonomi kreatif nasional sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi UMKM kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56